Amnesia

Title: Amnesia

Genre: Drama, romance

Rating: PG-15

Pairing: Yunjae

Length: One-shot

Author: alienacass

Warning: yaoi

Characters: Kim Jaejoong (23), Jung Yunho (25), dll

Disclaimer: Yunjae bukan milik saya

Summary: Yunjae adalah pasangan yang baru saja menikah. Saat mereka akan pergi berbulan madu, pesawat terbang yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan mereka berdua terluka parah yang mengakibatkan mereka mengalami amnesia.

Amnesia

Seorang pria tampan terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit dengan balutan perban di kepalanya. Perlahan-lahan ia mulai mendapatkan kembali kesadarannya. Samar-samar ia mendengar beberapa orang tengah berkomunikasi. “Pasien Kim Jaejoong mengalami amnesia.”

Perlahan pria tersebut membuka matanya. Ia berada di tempat yang asing baginya. Aroma obat-obatan menyeruak tajam. ‘Dimana aku?’

“Dokter, pasien Jung Yunho sudah sadar.” Seorang perawat wanita segera memberitahukan sang dokter yang sedang menangani satu lagi pasien di ruangan tersebut.

Sang dokter pun segera menghampiri pasiennya yang baru sadar. “Yunho-sshi, anda sudah sadar.” Ia pun mengecek kondisi pasien tersebut.

“Aku di mana?” Pasien yang bernama Jung Yunho masih merasa kebingungan. Kepalanya terasa sakit.

“Anda sedang di rumah sakit.” Sang dokter memberitahu Yunho. “Pesawat yang anda tumpangi bersama istri anda mengalami kecelakaan.”

“Pesawat? Kecelakaan?” Yunho tampak berpikir keras.

Sang dokter menatap Yunho. “Apa anda tidak ingat bahwa pesawat yang anda tumpangi bersama istri anda mengalami kecelakaan? Menurut keluarga anda, anda dan istri anda baru saja menikah dan hendak pergi berbulan madu ke Eropa. Namun, pesawat yang kalian tumpangi mengalami kecelakaan.”

Yunho terlihat tambah kebingungan. “Menikah? Bulan madu? Siapa?”

“Anda dan istri anda, Kim Jaejoong.” Jawab sang dokter.

“Siapa Kim Jaejoong?” Tanya Yunho lagi. “Lalu siapa aku?”

***

Dokter yang menangani Yunho dan Jaejoong dengan berat hati memberitahukan kepada keluarga Jung dan keluarga Kim bahwa kedua pasiennya mengalami amnesia. Keduanya bahkan tidak bisa mengingat identitas mereka sendiri.

Ny. Jung dan Ny. Kim yang baru saja menjadi besan tidak bisa menahan tangis mereka. Baru saja mereka berbahagia atas pernikahan kedua anak mereka, tetapi kebahagiaan tersebut tiba-tiba berubah menjadi bencana.

Dokter menyarankan agar Yunho dan Jaejoong dirawat di kamar terpisah agar pasien bisa merasa tenang tanpa keberadaan pasien lain di ruang perawatannya.

***

“Apa benar namaku Kim Jaejoong?” Tanya Jaejoong kepada ibunya yang saat ini sedang menungguinya di rumah sakit.

“Ya, Sayang.” Ny. Kim membelai rambut putranya satu-satunya. “Namamu adalah Kim Jaejoong, tapi sekarang kau sudah menjadi Jung Jaejoong karena kau baru saja menikah dengan pria bermarga Jung, yaitu Jung Yunho.”

“Apa semua itu benar? Aku adalah seorang pria. Bagaimana mungkin aku menikah dengan seorang pria?” Jaejoong belum bisa mempercayai perkataan Ny. Kim. “Anda tidak berbohong kan, Nyonya?”

Ny. Kim tidak bisa menahan aliran air matanya. Putra kesayangannya memanggil dirinya ‘Nyonya’. “Jae, panggil aku ‘Umma’. Aku ini adalah ibumu.”

Umma?” Jaejoong tampak ragu-ragu memanggil wanita di depannya ini dengan sebutan ‘Umma’. Akan tetapi, hati kecilnya merasa tidak tega melihat wanita tersebut menangis. Ia pun memeluk wanita itu untuk menenangkannya. “Kenapa menangis?”

***

Setelah satu minggu dirawat di rumah sakit, tampak tidak ada kemajuan dengan ingatan pasangan Yunjae. Keduanya tidak mengingat apa pun. Akhirnya, dokter mengizinkan mereka pulang dan harus memeriksakan diri secara rutin ke rumah sakit.

Keluarga Jung dan keluarga Kim memutuskan bahwa Yunho dan Jaejoong untuk saat ini akan dirawat oleh keluarga masing-masing. Dengan kondisi mereka saat ini akan sulit bagi mereka untuk mengingat satu sama lain.

***

“Jae, selamat datang! Ini adalah rumah kita.” Tn. Kim membukakan pintu rumah mereka untuk menyambut kepulangan Jaejoong dari rumah sakit.

“Whoa!” Jaejoong terkesima dengan besarnya ukuran rumah mereka. Ternyata ia adalah anak orang kaya, Ia juga dibuat terperangah saat ia melihat para pelayan di rumahnya tersebut berjejer untuk menyambut kedatangannya. “Apa ini rumahku?”

“Rumah ini adalah rumah kita dan mereka semua adalah pelayan di rumah ini. Jika kau memerlukan sesuatu, kau bisa meminta bantuan mereka.” Tn. Kim menjelaskan.

“Whoa!” Jaejoong masih saja terkesima. Barang-barang yang ia lihat di rumahnya ini tentulah bukan barang-barang murahan.

“Ayo sekarang kita ke kamarmu!” Ajak Ny. Kim.

Sekali lagi Jaejoong dibuat terkagum-kagum. Ia tak menyangka bahwa kamarnya sangat besar. Menurutnya ini terlalu besar untuk ukuran sebuah kamar yang hanya dihuni oleh satu orang. Ia bahkan melihat sebuah piano besar di dekat jendela kamarnya. Selain itu, terdapat beberapa alat musik lain juga. “Apa piano ini punyaku?”

Tn. Kim mengangguk. “Iya, Sayang. Kau sangat suka bermain musik. Bahkan kau bercita-cita untuk menjadi seorang musisi.”

Jaejoong sangat senang mendengar penuturan ayahnya. Ia pun duduk di depan pianonya dan bermaksud memainkannya. Saat ia akan menyentuhkan tangannya di tuts piano, ia tiba-tiba berhenti.

“Kenapa tidak dilanjutkan?” Tanya Ny. Kim heran.

Jaejoong menatap kedua orang tuanya dengan raut wajah sedih. “Aku tak ingat bagaimana cara memainkannya.”

Ny. Kim menangis seketika, sedangkan Tn. Kim berusaha menghibur Jaejoong. “Jangan khawatir! Kau pasti akan segera mengingatnya kembali. Kau pasti lelah. Sebaiknya beristirahatlah. Kami akan memanggilmu saat makan malam nanti.”

***

Setelah Jaejoong tertidur, Tn. Kim menuntun istrinya untuk keluar dari kamar Jaejoong. Ia berusaha untuk menenangkan istrinya yang terus saja menangis.

“Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?” Ny. Kim bertanya kepada suaminya.

“Kita harus terus bersabar dan berusaha untuk membantunya mengembalikan ingatannya kembali.” Tn. Kim berusaha bersikap tenang.

“Dokter mengatakan bahwa kemungkinan untuknya bisa mengingat semuanya sangat kecil dan bisa memakan waktu selama bertahun-tahun.” Ny. Kim tampak putus asa.

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah terus menyemangatinya. Kita tidak boleh bersedih dan harus terlihat kuat di hadapannya.” Kata Tn. Kim kepada istrinya.

Ny. Kim mengangguk pelan dan mengusap air matanya.

***

Seminggu sudah berlalu. Tidak ada perkembangan yang berarti dari Jaejoong. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia mulai mengingat sesuatu, walaupun setiap hari Ny. Kim menunjukkan foto-foto lamanya dan barang-barang kesayangannya. Yang ia lakukan sampai saat ini hanyalah mencoba menghapal hal-hal yang harus ia hapal.

“Jae, ada yang ingin bertemu denganmu.” Ny. Kim menginterupsi Jaejoong yang sedang melihat-lihat album foto masa kecilnya.

“Siapa?” Jaejoong menutup album foto yang sedang dipegangnya.

“Kau lihat saja sendiri!” Ny. Kim tersenyum manis kepada putranya. “Ia sedang menunggumu di ruang tamu.”

Dengan rasa penasaran, Jaejoong bergegas menuju ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu, ia menemukan seorang pria tampan duduk di atas sofa. Pria tersebut tersenyum manis ke arahnya. “Apakah anda orang yang ingin bertemu denganku?”

“Hallo, Jae!” Pria tersebut menghampiri Jaejoong.

“Maaf, tapi aku tidak ingat siapa anda.” Raut wajah Jaejoong berubah murung.

“Hallo, Jae! Perkenalkan aku Jung Yunho.” Pria tersebut mengulurkan tangannya.

Jaejoong membulatkan matanya. “Jadi, kau adalah Yunho?” Ia menyambut uluran tangan Yunho. “Kau suamiku?”

Yunho menganggukkan kepalanya. Ia masih tersenyum manis kepada Jaejoong. Ia terkejut saat Jaejoong mulai terisak. “Kenapa kau menangis?”

“Hiks… Maafkan aku! Aku sama sekali tak mengingat apa pun tentangmu.” Air mata Jaejoong mengalir deras di pipinya.

Yunho segera memeluk tubuh rapuh istrinya tersebut untuk menenangkannya. “Ssshhh… Jangan menangis! Aku pun sama. Jadi, kau tidak perlu merasa sedih, karena kau tak sendirian.”

Jaejoong melepaskan pelukan Yunho di tubuhnya dan menatap wajah tampan suaminya tersebut. “Benarkah?”

Yunho mengangguk. “Oleh karena itu, lebih baik kita mulai dari awal. Anggap saja kita baru pertama kali bertemu.”

Ny. Kim yang sedari tadi mengintip di balik dinding tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Ia merasa bahwa ada setitik harapan untuk kesembuhan Jaejoong. Ia berharap kehadiran Yunho dapat mengembalikan ingatan putranya.

“Namaku Jung Yunho. Aku adalah anak tunggal keluarga Jung.” Yunho memulai percakapan.

“Aku Jaejoong, Kim Jaejoong. Aku juga anak tunggal.” Balas Jaejoong. “Aku adalah lulusan dari jurusan seni musik.”

“Wah, pastinya kau pandai bermain musik!” Yunho menunjukkan ekspresi kagumnya.

Jaejoong tertunduk. “Seharusnya begitu, tetapi saat ini aku sama sekali tidak ingat bagaimana bermain musik.”

“Hey, jangan bersedih!” Ujar Yunho. “Bagaimana kalau kita belajar memainkan alat musik bersama-sama?”

Jaejoong mengangkat kepalanya yang tertunduk. Ia kembali menatap wajah Yunho. “Kau mau belajar memainkan alat musik bersamaku?”

Yunho mengangguk. “Aku tidak mengerti alat musik. Mungkin jika kita belajar bersama, kita akan lebih cepat mengerti. Lagipula, sepertinya akan sangat membosankan jika belajar sendirian.”

“Ada banyak alat musik di kamarku. Ayo kita ke sana!” Jaejoong menuntun Yunho menuju ke kamarnya.

Tiba-tiba saja Yunho melepaskan pegangan tangan Jaejoong. “Apa tidak apa-apa kau membawa orang yang baru saja kau kenal ke kamarmu?”

“Benar juga.” Jaejoong menghentikan langkahnya. “Eh, tapi kau kan sebenarnya bukan orang asing. Jadi, sepertinya tidak apa-apa. Appa dan umma pasti tidak akan marah.”

***

“Wah! Kamarmu rapi sekali.” Seru Yunho saat memasuki kamar Jaejoong. “Kau punya banyak boneka.” Ia menghampiri koleksi boneka milik Jaejoong.

Umma mengatakan bahwa aku adalah penggemar gajah dan Hello Kitty. Aku mengoleksi boneka gajah dan Hello Kitty. Barang-barangku juga banyak yang bercorak gajah dan Hello Kitty.” Jaejoong menunjukkan koleksi barang-barangnya yang lain.

“Wah, kau menaruh piano besar di kamarmu.” Kini Yunho menghampiri piano milik Jaejoong.

“Aku sangat ingin memainkannya, tetapi aku tidak tahu caranya.” Jaejoong kembali bersedih.

“Ayo kita coba!” Yunho menarik Jaejoong untuk duduk di bangku di depan piano. Ia membawa jari-jari Jaejoong untuk menyentuh tuts piano. “Rasakanlah!”

“Aku tidak bisa.” Jaejoong menjauhkan jari-jarinya dari tuts piano tersebut.

Yunho mengambil sebuah buku yang berisikan not-not lagu untuk piano. “Apa kau bisa membacanya?”

Jaejoong menggeleng. “Aku tidak mengerti.”

Yunho merasa kasihan kepada Jaejoong. Ia berpikir sejenak dan kemudian mengambil buku yang berisikan cara membaca not balok dari rak buku. “Ayo kita belajar dari awal!”

***

Dengan ditemani Yunho, Jaejoong belajar membaca not balok dari awal. Pada awalnya memang terasa sulit, tetapi ia sangat bersemangat untuk melakukannya. Ia ingin segera bisa memainkan pianonya. Ditambah lagi, Yunho selalu memberikan semangat untuknya. “Aku haus. Tunggu sebentar aku akan mengambil minuman di dapur!” Ia melangkahkan kakinya keluar kamar. Namun, tiba-tiba saja ia berbalik. “Kau suka minum apa?”

Yunho tersenyum. “Aku suka teh dengan daun mint. Itu pun kalau ada.”

“Baiklah akan kubuatkan.” Jaejoong langsung melesat ke dapur.

***

Ny. Kim sedang asyik membuat kue di dapur. Walaupun mereka mempunyai beberapa orang pelayan, Ny. Kim sering memasak untuk keluarganya. Memasak adalah hobinya dan ia ingin membuatkan kue untuk menantunya yang sedang berkunjung.

Umma sedang apa?” Jaejoong menghampiri ibunya di dapur.

Ny. Kim tersenyum kepada putranya. “Umma sedang membuatkan kue untuk Yunho.”

“Jadi hanya Yunho yang dibuatkan kue, sedangkan aku tidak?” Jaejoong memanyunkan bibirnya.

“Tentu saja kau juga boleh makan kuenya.” Jawab Ny. Kim. “Kenapa kau kemari? Di mana Yunho?”

“Dia ada di kamarku. Tidak apa-apa kan ia masuk ke kamarku?” Tanya Jaejoong.

Ny. Kim terkekeh. “Tentu saja boleh. Walaupun kalian tidak mengingat satu sama lain, dia itu secara hukum adalah suamimu.”

Jaejoong tersipu malu. Ia menjadi salah tingkah karena ia digoda oleh ibunya.

“Jadi, ada apa kau kemari?” Tanya Ny. Kim lagi. “Kenapa Yunho ditinggalkan sendirian?”

“Oh iya, aku sampai lupa. Aku kemari untuk membuatkan minuman untuknya. Ia mengatakan bahwa ia ingin teh dengan daun mint.” Jawab Jaejoong.

“Baiklah, akan umma buatkan.” Ny. Kim menghentikan kegiatannya membuat kue untuk membuat minuman.

“Tidak usah, Umma. Biar aku saja yang membuatnya, tetapi tolong ajari aku! Aku tidak tahu cara membuatnya.” Ujar Jaejoong.

“Baiklah, akan umma ajarkan.” Balas Ny. Kim. “Sekarang petiklah beberapa helai daun mint di kebun belakang!”

***

Selagi menunggu Jaejoong membuat minuman, Yunho melihat-lihat seisi kamar Jaejoong. Dengan melihat barang-barang yang ada di kamar Jaejoong, ia bisa menilai pribadi seperti apakah Jaejoong. Berdasarkan pengamatannya, Jaejoong sangat mencintai musik dan menyukai hal-hal lucu seperti gajah dan Hello Kitty. Ia juga menemukan beberapa piala dan piagam penghargaan yang didapat Jaejoong dari lomba menyanyi. Rupanya Jaejoong sudah mempunyai bakat dalam bidang musik sejak kecil. Selain itu, ia juga melihat foto-foto Jaejoong yang dipajang di dinding. Ia benar-benar terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Jaejoong.

“Maafkan karena aku sudah membuatmu lama menunggu.” Jaejoong membawa nampan yang memuat setoples kue kering dan juga teh.

Melihat Jaejoong tampak kerepotan membawa nampan, Yunho segera membantu Jaejoong membawakan nampan tersebut. Mereka pun menyantap kue dan menyesap teh sambil berbincang-bincang. Mereka berbincang-bincang tentang banyak hal. Menceritakan diri mereka masing-masing. Dengan sekejap mereka menjadi akrab seperti teman dekat.

***

Malam harinya Yunho makan malam bersama dengan keluarga Kim. Ia banyak berbincang dengan Tn. Kim. Ternyata Tn. Kim adalah sahabat ayahnya sejak kecil.

Tn. dan Ny. Kim pun merasa senang dengan kehadiran Yunho bersama mereka. Mereka sangat bahagia karena ternyata kehadiran Yunho dapat membuat Jaejoong menjadi lebih ceria. Selama seminggu ini Jaejoong tampak kesepian karena hanya tinggal di rumah sambil mencoba mengingat masa lalunya.

Sejak saat itu, Yunho setiap hari mengunjungi Jaejoong. Mereka belajar memainkan piano. Lebih tepatnya ia menemani dan menyemangati Jaejoong untuk belajar bermain piano. Karena pada dasarnya Jaejoong memang sudah memiliki kemampuan dalam bermain piano, tidak terlalu sulit baginya untuk belajar bermain piano dari awal.

***

“Jae, bagaimana kalau hari ini kita tidak usah belajar piano?” Usul Yunho.

“Kenapa?” Jaejoong tampak kecewa.

“Apa kau tidak bosan setiap hari kita melakukan hal yang sama sepanjang hari?” Kata Yunho lagi.

“Apa kau bosan?” Tanya Jaejoong.

“Bukan begitu.” Jawab Yunho. “Hanya saja sepertinya akan sangat menyenangkan jika kita pergi jalan-jalan ke luar. Bukankah sepulang dari rumah sakit kau tidak pernah pergi berjalan-jalan ke luar?”

“Benar juga.” Jawab Jaejoong.

***

Setelah meminta izin dari Ny. Kim, Yunho dan Jaejoong pun pergi berjalan-jalan ke taman yang masih berada dalam komplek yang sama dengan tempat tinggal Jaejoong. Suasana taman sangat ramai di sore hari. Banyak anak-anak bermain dan ada juga beberapa pasang kekasih yang berkencan di sana.

“Mereka lucu sekali ya!” Jaejoong memperhatikan anak-anak yang sedang bermain bola.

“Apa kau ingin ikut bermain bersama-mereka?” Tanya Yunho.

Jaejoong menggeleng. “Aku tidak bisa,”

Yunho menghampiri anak-anak yang sedang bermain bola. “Bolehkan aku bermain bersama kalian?”

Anak-anak yang sedang bermain bola menghentikan permainan mereka. “Apa ahjusshi tidak malu bermain bersama kami?”

“Eh, aku ini masih muda. Aku sanggup melawan kalian semua sendirian.” Yunho tidak terima dipanggil ‘Ahjusshi’ oleh anak-anak tersebut.

“Baiklah kalau begitu.” Yunho pun bermain bola bersama dengan anak-anak tersebut.

Jaejoong terkekeh menonton tingkah lucu Yunho saat bermain bola dengan anak-anak tersebut. Ia terbahak-bahak saat melihat Yunho dipecundangi oleh anak-anak tersebut. Walaupun Yunho lebih besar dari anak-anak tersebut, ia kerepotan karena harus menghadapi mereka sendirian.

***

Hari sudah semakin sore. Anak-anak yang bermain bola bersama Yunho harus pulang ke rumah masing-masing. Yunho pun dengan kelelahan duduk di sebelah Jaejoong. “Haaaa… Lelah sekali. Anak-anak tersebut benar-benar mempermainkanku. Mereka sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk menguasai bola.”

Jaejoong terkekeh. Ia mengeluarkan sehelai sapu tangan dari sakunya. Ia pun kemudian melap keringat di wajah Yunho dengan sapu tangannya.

Yunho merasakan jantungnya berdegup dengan cepat saat tangan Jaejoong menyentuh wajahnya. Wajah mereka berdua sekarang sangat dekat. “Terima kasih, Jae.” Ia mengambil sapu tangan tersebut dari tangan Jaejoong dan melap wajahnya sendiri.

Jaejoong tidak berkata apa pun. Ia merasa gugup dan hanya menundukkan wajahnya. Ia tak berani menatap wajah Yunho.

Tiba-tiba hujan turun dan semua orang di taman berhamburan meninggalkan taman tersebut. Tinggallah Yunho dan Jaejoong berdua di taman tersebut.

“Jae, ayo kita juga harus segera pulang!” Yunho menarik tangan Jaejoong, Namun, Jaejoong sama sekali tidak bergeming. “Jae?”

“Aku masih ingin di sini.” Jaejoong memejamkan matanya dan merasakan siraman air hujan di wajahnya.

“Jae, nanti kau sakit.” Yunho meletakkan tangannya di atas kepala Jaejoong untuk melindungi Jaejoong dari air hujan.

“Biarkan saja!” Jaejoong masih memejamkan matanya dan mendongakkan kepalanya. “Aku ingin merasakan sejuknya air hujan.”

“Jae~” Yunho mengkhawatirkan Jaejoong.

Jaejoong kini membuka matanya. Ia menatap wajah Yunho. “Air hujan sedikit menghapuskan kegundahanku.”

“Jae~” Yunho membawa Jaejoong ke dalam pelukannya. Ia merasakan tubuh Jaejoong sedikit menggigil. “Apa kau sakit, Jae?”

Jaejoong melepaskan pelukan Yunho di tubuhnya. Ia tersenyum. “Aku baik-baik saja.”

Yunho benar-benar khawatir, tetapi orang yang ia khawatirkan justru tampak menikmati cuaca saat ini. Ia terkejut saat Jaejoong mendekatkan wajahnya dan kemudian menciumnya. Ia tidak menyangka bahwa Jaejoong yang terlebih dahulu bertindak. Seharusnya ia yang terlebih dahulu beraksi. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia membalas ciuman Jaejoong dengan lembut dan mereka berdua pun berciuman di bawah guyuran hujan selama beberapa menit.

***

Hubungan Yunho dan Jaejoong mengalami kemajuan yang pesat. Mereka tampak seperti sepasang remaja yang sedang jatuh cinta. Keduanya masih tampak malu-malu dan tak seorang pun di antara mereka berani untuk mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain. Lain halnya dengan ingatan mereka, tampaknya sama sekali tidak ada kemajuan. Bahkan dokter menyarankan agar mereka tidak usah dipaksa untuk mengingat sesuatu. Biarkan saja semuanya berjalan secara alami.

“Yun, sampai kapan kita akan terus seperti ini?” Jaejoong menyandarkan kepalanya di bahu Yunho. “Bagaimana kalau kita selamanya tidak bisa mengingat kembali masa lalu kita?”

“Kalau begitu, biarlah kita seperti ini.” Jawab Yunho singkat.

Jaejoong mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti mengapa Yunho berkata demikian. “Apa maksudmu? Apa kau tidak ingin mendapatkan ingatanmu kembali?”

“Jika itu adalah kehendak Tuhan, aku akan menerimanya.” Ia menatap Jaejoong dalam. “Aku bersyukur bahwa Tuhan masih mengizinkan kita untuk hidup setelah kecelakaan tersebut. Lagipula, aku sudah merasa cukup bahagia dengan keadaanku saat ini. Aku sangat bahagia karena aku bisa bersama denganmu setiap hari.”

Jaejoong sangat terharu mendengar perkataan Yunho. Ia tidak bisa menahan air matanya. Ia pun memeluk Yunho dan menangis di pelukan pria tampan tersebut. Ia ingin bisa seperti Yunho, menerima keadaan mereka.

***

Yunho dan Jaejoong sudah pasrah dengan keadaan mereka. Lima bulan sudah berlalu, tetapi tidak ada kemajuan sama sekali. Mereka tidak tahu kapan ingatan mereka akan kembali dan mereka juga tidak ingin terus-menerus menyusahkan orang tua mereka. Mereka pun memutuskan untuk menjalani kehidupan mereka secara normal. Mereka memutuskan untuk tinggal di apartemen yang sebelumnya memang direncanakan untuk mereka tinggali berdua setelah menikah. Yunho pun memutuskan untuk mulai bekerja kembali di perusahaan ayahnya.

Malam ini adalah malam pertama Yunjae tinggal di apartemen mereka. Setelah selesai menonton televisi, mereka masuk ke kamar mereka untuk tidur. Yunho harus beristirahat karena besok ia sudah mulai bekerja.

“Yun, apa kau sudah akan tidur?” Tanya Jaejoong.

“Hmmm…” Yunho menggumam sambil memejamkan matanya. “Pindahan sangat melelahkan. Lagipula besok aku sudah mulai masuk kerja. Kau pun juga pasti lelah, tidurlah!”

“Tapi…” Jaejoong ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

Yunho membuka matanya. “Apa kau merasa tidak nyaman tidur denganku?” Ia bangkit dan mengambil bantalnya. “Aku bisa tidur di kamar tamu.”

“Tidak. Bukan begitu maksudku.” Jaejoong menarik kembali Yunho ke atas tempat tidur.

“Lalu?” Yunho tidak mengerti.

“Ini adalah malam pertama kita. Apa kau tidak ingin kita melakukan sesuatu?” Jaejoong menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu.

Yunho tersenyum. “Aku tidak ingin kita terburu-buru. Aku tidak ingin mengambil kesempatan saat kau masih kehilangan ingatanmu. Aku ingin menunggu sampai ingatanmu membaik. Jangan sampai nanti kau menyesal.”

Jaejoong tampak kecewa. “Kita tidak tahu kapan ingatan kita akan kembali. JIka ingatan kita tidak pernah kembali, apakah kita tidak akan pernah melakukannya untuk selamanya?”

Yunho terkekeh. “Tentu saja tidak. Jikalau ingatanmu tidak pernah kembali, setidaknya tunggu sampai kau benar-benar siap untuk menyerahkan dirimu seutuhnya kepadaku.”

“Apa kau meragukanku sekarang?” Jaejoong merasa sedikit tersinggung.

Yunho menggeleng. “Bukan begitu. Hanya saja jika kita melakukannya malam ini juga, bukankan tampak terburu-buru? Kita masih punya banyak waktu.”

“Baiklah kalau begitu.” Jaejoong sudah lelah berdebat.

***

Jaejoong merasa sangat bosan berada di apartemennya sendirian saat Yunho pergi bekerja. Ia tahu bahwa seharusnya seorang istri mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Namun, ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tampak kebingungan. Ia pun menelepon ibunya untuk menanyakan hal tersebut. “Umma, aku bosan sendirian di sini dan aku juga tidak tahu bagaimana mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bagaimana kalau aku pergi ke sana agar umma bisa mengajariku?”

***

Jaejoong pun pergi ke rumah orang tuanya untuk belajar menjadi istri yang baik. “Umma, ajarkan aku memasak! Aku ingin menjadi istri yang baik untuk Yunho. Aku ingin mengantarkan bekal makan siang ke kantornya.”

Tiba-tiba saja Ny. Kim menitikkan air matanya. “Umma senang karena kau mau belajar menjadi istri yang baik.” Ia membelai rambut anaknya.

“Tentu saja. Sekarang ini aku adalah seorang istri. Aku bertanggung jawab atas rumah tanggaku.” Jawab Jaejoong. “Mengapa umma menangis?”

Ny. Kim segera menghapus air matanya. “Tidak apa-apa. Umma senang karena akhirnya kau mau juga belajar memasak.”

“Memangnya kenapa? Apa aku adalah anak yang nakal dan sering membantah saat umma ingin mengajariku memasak?” Jaejoong penasaran.

Ny. Kim menggeleng. “Tidak. Kau bukan anak yang nakal. Umma sangat bangga punya anak sepertimu.”

***

Jaejoong akhirnya selesai membuat makanan yang sederhana. Ia sangat senang karena dapat menyelesaikan masakan pertamanya. Ia ingin Yunho mencicipi masakan pertama yang pernah ia buat. Ia sangat antusias untuk mengantarkan bekal ke kantor suaminya. Ia tidak sabar untuk mendapatkan tanggapan dari suaminya mengenai masakannya tersebut. Ia pergi ke kantor suaminya diantar oleh sopir.

Pada jam makan siang jalanan sangat macet karena para pegawai pergi ke luar kantor untuk makan siang. Jaejoong melirik jam tangannya. Waktu makan siang sudah hampir berakhir. Ia khawatir ia akan terlambat. “Lee Ahjusshi, aku turun di sini saja. Kantornya sudah dekat. Aku akan berjalan kaki saja.” Ia memutuskan untuk turun dari mobil.

Jika ditempuh dengan jalan kaki, kantor Yunho tidak bisa dikatakan dekat. Jadi, Jaejoong memutuskan untuk berlari sambil menenteng tas kecil berisi kotak bekal. Ia sangat terburu-buru sampai-sampai ia tidak memerhatikan kendaraan yang melintas. Ia terserempet sebuah mobil dan terjatuh di atas jalan raya beraspal. Kepalanya membentur tepi trotoar. Darah mengalir di dahinya. Ia merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Namun, ia masih bisa melihat orang-orang berkerumun di sekitarnya. Tiba-tiba saja sekelebat ingatan-ingatan masa lalunya melintas.

“Pokoknya aku tidak ingin menikah. Aku ingin menjadi seorang musisi terkenal. Aku tidak sudi untuk menikah dengan seorang pria. Karirku jauh lebih penting daripada sebuah pernikahan konyol sesama jenis.”

Umma, berhentilah mengajariku pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh wanita! Aku ini seorang pria, tidak seharusnya aku melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut.”

“Jung Yunho, jangan harap kau bisa menikah denganku! Aku tidak suka terikat. Aku mencintai kebebasan. Tak seorang pun bisa mengaturku. Kedua orang tuaku saja tak bisa mengaturku, apalagi kau. Kau tahu? Kau ini gay yang sangat menjijikan. Jangan hanya karena ayah kita bersahabat, lantas kau berharap untuk memilikiku. Aku menentang dengan keras perjodohan kita!”

“Walaupun kita menikah, jangan harap kau bisa memilikiku! Sepulang dari Eropa nanti, kita menjalani hidup kita masing-masing. Aku tidak sudi tinggal bersamamu.”

***

Jaejoong tersadar dari mimpinya. Ia terbangun di atas sebuah tempat tidur putih di sebuah klinik. Ia hanya mengalami luka ringan di kepalanya. Tubuhnya bergetar dan keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. “Bagaimana ini? Bagaimana jika Yunho mendapatkan ingatannya kembali? Ia pasti akan membenciku. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Ia tak boleh mendapatkan ingatannya kembali. Ini tidak boleh terjadi.” Ia bangkit dari tempat tidur dan kemudian berlari menuju kantor suaminya.

***

“Yunho, akhirnya kau kembali bekerja.” Yoochun, rekan kerja Yunho, baru kembali dari rapat dengan perusahaan lain. “Apa kau ingat kepadaku?”

Yunho tersenyum kepada Yoochun. “Tentu saja aku ingat kepadamu.”

“Benarkah? Kukira kau tidak akan ingat kepadaku. Apa sekarang kau sudah mendapatkan kembali ingatanmu?” Tanya Yoochun.

Yunho terkekeh. Ia kemudian beranjak untuk menutup dan mengunci ruang kerjanya. “Sebenarnya aku sama sekali tidak hilang ingatan.”

“Apa?” Yoochun terkejut.

“Ssshttt… Jangan berbicara terlalu keras.” Yunho memperingatkan Yoochun. “Karena kau adalah sahabatku dan sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri, aku akan menceritakannya kepadamu.”

“Kenapa kau melakukan itu? Kau membuat semua orang khawatir, terutama keluargamu.” Yoochun merasa kesal karena sudah dibodohi.

“Keluargaku sudah mengetahuinya sejak awal.” Jawab Yunho.

“Lalu mengapa kau melakukannya?” Yoochun tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya tersebut. “Kau sudah membohongi semua orang. Apa tujuanmu?”

“Kau tahu sendiri kan mengenai pernikahanku dengan Jaejoong.” Yunho menghela nafas panjang. “Ia benar-benar membenciku dan menentang pernikahan kami. Saat aku tersadar setelah kecelakaan tersebut, aku mendengar bahwa ia mengalami amnesia. Kupikir ini adalah kesempatanku untuk mendapatkan hatinya.”

“Kau licik. Kau menggunakan cara kotor untuk mendekati orang yang kau sukai.” Yoochun berkomentar.

Yunho menundukkan kepalanya. “Aku tahu. Aku mengambil keuntungan dari keadaannya. Namun, hanya inilah satu-satunya kesempatanku.”

“Sampai kapan kau akan terus berpura-pura seperti ini? Lalu bagaimana jika ia mendapatkan kembali ingatannya?” Tanya Yoochun bertubi-tubi.

“Aku tidak tahu. Mungkin dia akan semakin membenciku jika ia mendapatkan kembali ingatannya. Mengenai hal itu, aku pasrah. Setidaknya aku pernah memiliki kenangan indah bersamanya.” Yunho tersenyum mengingat kenangannya bersama Jaejoong selama lima bulan terakhir. “Dan itu sudah cukup bagiku. Aku akan terus mengingatnya seumur hidupku. Itu sudah cukup membuatku bahagia, walaupun pada akhirnya aku tak bisa memilikinya.”

Yoochun berdecak. “Sebegitu besarkah rasa cintamu kepadanya? Padahal dia berperangai buruk, anak pembangkang, angkuh, dan sepertinya tidak ada sifat baik yang ia miliki.”

“Cinta itu buta. Mungkin karena sejak awal aku sudah mempersiapkan hatiku untuknya. Sejak kecil orang tuaku sudah memberitahukan bahwa aku dijodohkan dengannya, sehingga mulai saat itu aku berpikir bahwa aku hanya boleh mencintainya.” Yunho menjelaskan. “Saat aku bersama dengannya lima bulan ini, aku menemukan bahwa sebenarnya dia adalah orang yang baik. Ia patuh kepada orang tuanya dan ramah kepada semua orang.”

“Itu karena ia sedang amnesia. Sifat aslinya berbanding terbalik.” Yoochun menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Jaejoong.

“Aku yakin bahwa ia sebenarnya orang yang baik.” Yunho bersikeras.

“Ya sudahlah! Aku tidak akan menang berdebat dengan orang yang sedang jatuh cinta sepertimu. Apa pun yang aku katakan, kau pasti akan membelanya.” Yoochun melangkahkan kakinya menuju pintu. “Waktu istirahat hampir berakhir, aku harus kembali ke ruanganku.”

Yunho membukakan pintu ruang kerjanya untuk Yoochun. Namun, betapa terkejutnya ia saat menemukan Jaejoong sudah berdiri di depan pintu ruang kerjanya dengan berlinangan air mata. “Jae?” Tubuhnya membeku seketika.

“Jae, apa kabar?” Yoochun menjadi salah tingkah. “Maaf, aku harus kembali bekerja.” Ia langsung melesat pergi meninggalkan ruang kerja Yunho.

“Jae.” Yunho tidak tahu harus berbuat apa. Ia yakin Jaejoong mendengar percakapannya dengan Yoochun. “Maafkan aku. Aku…”

“Hiks…” Jaejoong mengusap air matanya dengan punggung tangannya dan langsung menghambur ke pelukan Yunho. Ia menangis kencang di pelukan suaminya.

“Jae?” Yunho bingung dengan sikap Jaejoong. Seharusnya Jaejoong murka kepadanya, bukan?

“Hiks… Kenapa kau berbuat demikian?” Jaejoong masih menenggelamkan kepalanya di dada Yunho.

“Maafkan aku, Jae! Aku bersalah karena sudah membohongimu.” Yunho dengan ragu membelai punggung Jaejoong.

“Kenapa kau masih saja mencintaiku, padahal aku sudah bersikap sangat buruk kepadamu?” Jaejoong merasa sangat bersalah.

“Jae.” Yunho melepaskan pelukan Jaejoong dan menatap mata istrinya tersebut.

“Aku sama sekali tidak layak mendapatkan cintamu. Aku… Aku adalah orang yang sangat jahat. Aku membangkang terhadap kedua orang tuaku dan bahkan sering membentak ibuku. Namun, kalian terus saja memberikanku kasih sayang yang melimpah dan selalu mendampingiku dan menyemangatiku, sehingga aku tidak merasa terpuruk di masa-masa sulitku karena kehilangan ingatanku.” Jaejoong berbicara panjang lebar. “Akulah yang harus meminta maaf kepada kalian.”

Yunho kembali memeluk tubuh istrinya. “Aku sangat mencintaimu, Jae.”

Jaejoong membalas pelukan Yunho. “Terima kasih! Kau berhasil mengajariku untuk mencintaimu. Sekarang aku mencintaimu dan aku tak ingin melepaskanmu.”

“Jae.” Yunho melepaskan pelukan mereka dan mencium bibir Jaejoong. Ia mencium Jaejoong dengan lembut dan penuh cinta. Ia merasa sangat bahagia karena akhirnya cintanya terbalas juga. Ia tidak pernah menyangka bahwa kisah cintanya berakhir bahagia.

Jaejoong membalas ciuman Yunho. Ia memejamkan matanya dan mengalungkan lengannya di leher Yunho. Ia benar-benar bersyukur karena Tuhan memberinya kesempatan untuk memperbaiki segala kesalahannya, terhadap Yunho dan kedua orang tuanya. Ia bersyukur bahwa Tuhan telah mengambil ingatannya sementara waktu. Ia berjanji bahwa ia akan berusaha memperbaiki diri dan tidak akan menyia-nyiakan Yunho yang selama ini telah mencintainya dan selalu berada di sisinya saat ia membutuhkan seseorang di masa sulitnya.

Not a Perfect Family (Chapter 8)

Title: Not a Perfect Family

Author: alienacass

Genre: Family, drama, humor

Pairing: Yunjae

Rating: PG-15

Length: 8/?

Disclaimer: TVXQ are not mine, but the story is mine.

Warning: Yaoi, mpreg

Characters: Kim Jaejoong (25), Jung Yunho (36), Yoochun (10), Junsu (8), dll

Summary:

Jung Yunho, duda beranak satu yang tampan dan kaya menikahi Kim Jaejoong yang juga merupakan single parent. Akankah mereka berhasil membangun keluarga yang sempurna?

Chapter 7

Chapter 8

Seperti biasa Jaejoong bangun pagi-pagi sekali. Sebagai ibu rumah tangga yang baik ia harus bangun paling awal dibandingkan anggota keluarganya yang lain. Ia akan merasa tidak enak jika ibu mertuanya sampai bangun lebih dahulu daripada dirinya.

Pagi ini Jaejoong merasa tidak enak badan. Perutnya terasa bergejolak. Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum memulai aktivitas hariannya. Namun, tiba-tiba saja ia merasa sangat mual dan memuntahkan isi perutnya. “Sepertinya aku masuk angin.” Ia pun memutuskan untuk mandi air hangat.

Selesai mandi seharusnya Jaejoong merasa lebih segar. Namun, kali ini kondisi tubuhnya benar-benar tidak fit. Ia sama sekali tidak bersemangat, padahal ia harus menyiapkan sarapan dan keperluan suami dan anak-anaknya.

“Maaf, aku hanya bisa menyiapkan roti bakar pagi ini.” Jaejoong menghidangkan roti bakar di meja makan setelah anggota keluarganya berkumpul.

“Jae, apa kau sakit? Kau kelihatan sangat pucat.” Ny. Jung memerhatikan wajah menantunya.

“Jae, apa kau tidak apa-apa?” Yunho mengkhawatirkan Jaejoong. “Kalau kau sakit, sebaiknya kau istirahat saja. Biar umma yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga.”

“Benar apa kata suamimu. Sebaiknya kau istirahat saja sampai kau sembuh.” Tak biasanya Ny. Jung sependapat dengan anaknya.

“Apa selama ini umma selalu menyiksanya sampai ia sakit begini?” Yunho mulai mencari gara-gara dengan ibunya.

“Enak saja! Umma tidak pernah memaksanya untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah.” Ny. Jung tidak terima dengan tuduhan anaknya. “Atau jangan-jangan kau yang setiap malam selalu mengerjainya.”

Diam-diam Jaejoong tersenyum melihat ibu dan anak tersebut. Mereka terlihat sangat akrab. “Sudah, jangan bertengkar! Aku tidak apa-apa. Kalian jangan membesar-besarkan masalah kecil!”

“Apanya yang masalah kecil? Jika ada anggota keluarga yang sakit, itu bukan masalah kecil.” Yunho tidak setuju dengan istrinya.

“Aku hanya masuk angin, bukan penyakit serius.” Jaejoong merasa Yunho terlalu berlebihan.

“Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus beristirahat seharian. Kalau perlu kau pergi ke dokter.” Yunho mulai menggunakan autoritasnya sebagai kepala keluarga.

“Tidak perlu. Aku masih kuat beraktivitas.” Jaejoong bersikeras.

“Jaejoong, kau jangan membantah!” Yunho meninggikan nada bicaranya. Seketika anggota keluarganya menjadi ciut ketakutan. Itu artinya ia benar-benar serius.

“Ba… baik.” Sepertinya Jaejoong tidak punya keberanian untuk membantah. “Aku akan beristirahat.”

***

Hyung, ayo kita makan bekalnya bersama-sama!” Junsu menghampiri Yoochun yang sedang duduk di bangku yang berada di pinggir lapangan sekolah.

“Tidak mau. Kau pergi sana!” Hardik Yoochun.

“Kenapa?” Junsu heran dengan perilaku kakak tirinya. “Bukankah kita selalu makan bekal bersama selama ini?”

“Mulai sekarang kau jangan mendekatiku lagi!” Ucap Yoochun ketus. “Lebih baik kau bersama teman-temanu sana!”

Hyung~” Junsu merasa sedih. “Apa aku berbuat salah kepadamu?”

Yoochun tidak menjawab pertanyaan Junsu. “Kalau kau tidak mau pergi, aku saja yang pergi.” Yoochun pergi meninggalkan Junsu dan menuju ruangan kelasnya. Ia merasa sangat kesal. Ia iri kepada adik tirinya tersebut yang telah merebut perhatian ayahnya. Ia berjalan menuju kelasnya tanpa melihat ke depan, sehingga ia menabrak seseorang.

“Hey, lihat-lihat kalau jalan! Kau membuat makananku tumpah ke lantai!” Shindong, seorang siswa yang tubuhnya jauh lebih besar daripada Yoochun, berteriak ke arah Yoochun.

“Itu salahmu sendiri. Badanmu yang besar itu menghalangi jalanku.” Balas Yoochun.

“Apa kau bilang?” Shindong mulai emosi. “Apa kau mengatai bahwa aku gendut?”

“Aku tidak bilang begitu.” Jawab Yoochun enteng.

“Secara tidak langsung kau mengatakan bahwa aku gendut.” Balas Shindong lagi.

“Terserah kau saja lah. Aku malas meladenimu.” Yoochun melenggang pergi. “Kenyataannya juga memang kau gendut.”

“Apa kau bilang? Kurang ajar!” Shindong tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia bermaksud untuk memukul Yoochun.

Untung saja teman-teman Shindong mencegahnya untuk memukul Yoochun. “Jangan! Kalau kau berkelahi di sekolah, kau akan dihukum.”

“Baiklah! Kali ini kau kulepaskan karena kita sedang berada di lingkungan sekolah. Aku tak mau sampai kena hukuman,” Shindong berkata kepada Yoochun.

“Pengecut!” Yoochun mencemooh Shindong. “Dihukum pihak sekolah saja kau takut, padahal badanmu itu besar, tapi ternyata nyalimu kecil.”

“Kau!” Shindong benar-benar marah. Untung saja teman-temannya memeganginya, sehingga ia tak bisa menyerang Yoochun.

”Kau mau menantangku berkelahi?” Tanya Yoochun dengan nada meremehkan. “Aku siap kapan pun kau mau.”

“Baiklah! Temui aku di lahan kosong yang berada di sebelah stasiun setelah pulang sekolah nanti!” Tantang Shindong.

***

Seperti biasa, setelah bel sekolah berbunyi tanda sekolah telah usai, Junsu akan pergi ke kelas Yoochun untuk kemudian mereka akan menunggu sopir yang akan menjemput mereka. Namun, hari ini ia tidak menemukan Yoochun di kelasnya. Teman-teman sekelas Yoochun mengatakan kepadanya bahwa Yoochun pergi terburu-buru meninggalkan kelas. “Hyung pergi ke mana ya?”

***

Yoochun kini sudah berhadapan dengan Shindong di sebuah lahan kosong dekat stasiun. Ternyata Shindong membawa serta teman-temannya, sedangkan ia hanya sendiri. “Ternyata kau membawa teman-temanmu. Kau memang benar-benar pengecut.”

“Aku sudah tidak peduli lagi kau mengataiku gendut atau pengecut. Yang pasti sekarang aku hanya ingin menghajarmu.” Shindong bersiap-siap dengan kepalannya.

“Jangan kau kira aku takut!” Kata Yoochun santai. “Maju saja kalian semua sekaligus! Akan kuhadapi kalian semua.”

Shindong memerintahkan teman-temannya untuk menyerang Yoochun dan perkelahian pun terjadi, perkelahian yang sangat tidak seimbang, satu lawan sepuluh orang.

Yoochun sudah terbiasa berkelahi. Gerakannya sangat lincah dalam menghindari serangan lawan dan kemudian membalasnya. Pada awalnya ia dapat menangani semua lawannya. Namun, lama kelamaan staminanya terkuras dan ia mulai kerepotan. Ia tidak pernah menghadapi lawan sebanyak ini sebelumnya. Lawan-lawannya mulai berhasil menghantam pukulan ke arahnya. Pukulan demi pukulan mulai menghujami tubuhnya sampai tubuhnya ambruk ke tanah. Darah mulai mengalir dari hidung dan mulutnya. Ia pun jatuh pingsan saat sebatang kayu melayang mengenai kepalanya.

“Bagaimana ini?” Shindong dan teman-temannya mulai panik saat Yoochun jatuh pingsan. Mereka ketakutan hingga mereka akhirnya melarikan diri meninggalkan Yoochun tergeletak tak sadarkan diri di lahan kosong tersebut.

***

Yunho menerima telepon dari Jaejoong yang memberitahunya bahwa Yoochun ditemukan oleh petugas stasiun dalam keadaan tak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka. Petugas tersebut mengenali seragam sekolah Yoochun dan menghubungi pihak sekolah, kemudian pihak sekolah menelepon Jaejoong. Petugas stasiun tersebut juga lah yang membawa Yoochun ke rumah sakit.

Tanpa pikir panjang lagi, Yunho langsung meninggalkan kantornya setelah sebelumnya menyuruh asistennya untuk menangani semua pekerjaan di kantor. Ia tidak ingin kejadian yang terjadi kepada Soojin terulang kembali. Saat ia mendapatkan telepon dari ibunya yang mengatakan bahwa Soojin dalam keadaan kritis, ia malah terus melanjutkan pekerjaannya, sehingga ia tak sempat menemui Soojin di saat-saat terakhirnya.

Yunho berlari-lari di sepanjang koridor rumah sakit sambil mencari-cari ruang gawat darurat. Akhirnya, sampailah ia di ruang gawat darurat. Di sana sudah ada Jaejoong, Ny. Jung, dan juga Junsu yang menunggu di luar ruang gawat darurat. “Bagaimana keadaan Chunnie?”

“Tenangkan dirimu dulu, Yun!” Ny. Jung berusaha menenangkan putranya yang terlihat sangat kacau. “Dokter sedang berusaha menyelamatkannya. Ia mengalami pendarahan besar di kepalanya.”

“Apa yang sebenarnya terjadi kepadanya?” Yunho bertanya kepada ibunya.

“Sepertinya ia menjadi korban pengeroyokan. Kami sudah melaporkannya kepada pihak kepolisian. Pihak sekolah pun akan membantu menyelidiki siapa pelakunya. Kemungkinan pelakunya adalah teman satu sekolahnya.” Ny. Jung memberitahu Yunho.

Appa, maafkan aku karena aku tak bisa menjaga hyung dengan baik!” Junsu merasa bersalah.

Tiba-tiba saja salah seorang dokter yang menangani Yoochun keluar dari ruang gawat darurat. “Pasien mengalami pendarahan yang cukup hebat di kepalanya. Kami perlu melakukan transfusi darah.”

Yunho langsung saja menghampiri dokter tersebut. “Dokter, ambil saja darahku! Aku adalah ayahnya. Darahku pasti cocok dengannya.”

“Baiklah, ikut saya! Saya akan memeriksa kondisi tubuh Anda terlebih dahulu sebelum mengambil darah Anda.” Dokter tersebut menyuruh Yunho untuk mengikutinya ke sebuah ruangan untuk diperiksa.

***

Beberapa saat kemudian, dokter sudah mendapatkan hasil pemeriksaan Yunho. “Maaf, Yunho-sshi! Anda tidak bisa mendonorkan darah untuk pasien.”

“Kenapa?” Tanya Yunho heran.

“Golongan darah Anda AB, sedangkan golongan darah pasien adalah O.” Dokter tersebut menjelaskan dengan hati-hati kepada Yunho. “Golongan darah O hanya bisa menerima golongan darah O juga.”

Ekspresi wajah Yunho berubah muram seketika. Sesuatu yang berat seakan-akan menghantam kepalanya. Ia menjadi muram bukan karena ia tak bisa mendonorkan darahnya untuk anaknya, melainkan fakta golongan darah mereka. Seseorang yang bergolongan darah AB tidak mungkin punya anak bergolongan darah O. Apakah artinya ini?

Sang dokter sepertinya sudah tahu bahwa Yunho bisa menangkap makna dari kata-katanya. “Sepertinya kita harus mencari donor lain secepatnya. Persediaan darah O di bank darah sedang kurang. Kita baru bisa menggunakan darah dari bank darah jika memang benar-benar tidak ada donor yang cocok.”

Yunho sepertinya tidak memerhatikan ucapan sang dokter. Ia terlihat termenung.

“Saya akan bertanya kepada istri atau ibu Anda. Siapa tahu di antara mereka ada yang bergolongan darah O. Anda tunggu saja di sini.” Sang dokter pergi meninggalkan Yunho sendirian di ruangan tersebut.

Yunho berpikir keras. Apakah itu artinya Yoochun bukan anaknya? Atau jangan-jangan dokter salah memeriksa golongan darahnya. Dengan peralatan yang canggih di rumah sakit ini, tidak mungkin dokter salah mengidentifikasi golongan darahnya. Ia merasakan kepalanya mulai pusing. Ini terlalu rumit untuknya, Ia sangat bingung.

***

Dokter yang memeriksa golongan darah Yunho menghampiri Jaejoong, Ny. Jung, dan Junsu yang sedang menunggu di luar ruang gawat darurat. “Golongan darah Yunho-sshi tidak cocok dengan golongan darah pasien. Apakah ada di antara kalian yang bergolongan darah O?”

“Sayang sekali, golongan darahku bukan O.” Jawab Ny. Jung dengan raut wajah sedih.

“Aku saja!” Jawab Jaejoong. “Golongan darahku O.”

“Baiklah, kalau begitu ikut saya! Saya akan memeriksa terlebih dahulu kondisi kesehatan Anda.” Sang dokter menyuruh Jaejoong mengikutinya ke tempat sekarang Yunho berada.

***

Yunho tersadar dari lamunannya saat dokter masuk bersama Jaejoong. Ia masih terlihat lemas dan seperti orang kebingungan. Ia kemudian memerhatikan saat dokter tersebut memeriksa kesehatan Jaejoong.

“Jaejoong-sshi, Anda juga tidak bisa mendonorkan darah Anda.” Dokter memberitahu Jaejoong.

“Kenapa?” Tanya Jaejoong. “Aku memang sedikit tidak enak badan hari ini, tetapi menurutku sakitku tidak parah. Aku akan baik-baik saja jika aku mendonorkan darahku.”

“Jaejoong-sshi, dari hasil pemeriksaan kesehatan Anda, sepertinya Anda sedang mengandung. Jadi, akan terlalu berisiko bagi tubuh Anda jika Anda melakukan donor darah.” Dokter menjelaskan kepada Jaejoong.

“Be.., benarkah?” Jaejoong tampak gembira. Ia sedikit melirik ke arah Yunho, tetapi suaminya tersebut tampak tidak berreaksi apa pun. ‘Kenapa dia tampak tidak senang?’

“Saya belum terlalu yakin.” Jawab dokter. “Sebaiknya Anda periksakan lebih lanjut ke dokter ahli kandungan. Aaah, karena tidak ada anggota keluarga yang bisa mendonorkan darah, mau tidak mau kita harus menggunakan persediaan darah di bank darah.”

***

Jaejoong dan Yunho kembali ke depan ruang gawat darurat untuk menemui Ny. Jung dan Junsu. “Umma, aku juga tidak bisa mendonorkan darahku.”

“Lalu bagaimana dengan Chunnie?” Ny. Jung tampak khawatir.

“Tenang saja! Dokter akan menggunakan persediaan darah di bank darah.” Jaejoong mencoba menenangkan ibu mertuanya.

Umma, bisa kita bicara berdua?” Tiba-tiba saja Yunho berkata.

“Ada apa?” Ny. Jung merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia melirik ke arah Jaejoong seolah-olah bertanya. Akan tetapi, Jaejoong juga tidak tahu.

“Agar lebih leluasa, kalian pergi saja ke kantin rumah sakit. Sekalian kalian bisa makan siang di sana. Kita belum sempat makan siang, bukan?” Jaejoong mencoba untuk mengerti. “Biar aku dan Jun-chan saja yang menunggu di sini. Kalau ada apa-apa, aku akan memberi tahu kalian.”

“Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Jae! Nanti umma belikan makanan untuk kalian.” Balas Ny. Jung. “Yun, ayo!”

***

Sesampainya di kantin yang ada di rumah sakit, Ny. Jung langsung menanyai anaknya. “Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan?”

Umma, apakah umma mengetahui bahwa Soojin selingkuh?” Tanya Yunho pada intinya.

Ny. Jung terkejut mendengar pertanyaan anaknya. “Kenapa kau berpikir demikian? Soojin adalah istri yang setia. Dia tidak pernah berselingkuh di belakangmu.”

“Apa umma yakin?” Yunho menatap ibunya.

Umma bisa menjaminnya.” Jawab Ny. Jung yakin.

Umma juga tahu bahwa aku kurang memerhatikannya. Mungkin saja ia mencari perhatian dari pria lain.” Lanjut Yunho.

“Jaga bicaramu, Yun!” Ny. Jung tidak terima Yunho menuduh Soojin. “Dia bukan wanita seperti itu.”

“Bagaimana umma bisa begitu yakin? Dia tidak mungkin memberi tahu umma jika ia selingkuh.” Ujar Yunho lagi.

“Karena umma tahu segala tentang dirinya. Umma selalu menemaninya setiap saat, di saat kau tidak ada, di saat ia tersiksa karena penyakitnya. Umma selalu mendampinginya.” Ny. Jung menitikkan air matanya. “Hanya itu yang bisa umma lakukan untuk menebus kesalahanmu.”

Yunho teringat kembali akan kesalahan-kesalahannya terhadap mendiang istrinya. “Kalau ia tidak selingkuh dengan pria lain, lalu mengapa Chunnie bukanlah anakku?”

Ny. Jung menarik nafas dalam-dalam dan mempersiapkan dirinya untuk mulai bercerita. “Jadi kau sudah tahu bahwa Chunnie bukan anak kandungmu.”

Yunho terkejut dengan jawaban ibunya. “Jadi, umma tahu ia bukanlah anakku? Kenapa umma menyembunyikannya dariku?”

“Tenanglah, Yun!” Ny. Jung berusaha menenangkan Yunho. “Chunnie memang bukan anak kandungmu, tetapi umma bisa jamin bahwa Soojin tidak pernah berselingkuh karena Chunnie juga bukan anak kandung Soojin.”

“Apa?” Ucapan ibunya kali ini benar-benat membuat Yunho lebih terkejut lagi. “Bagaimana bisa?”

Ny. Jung berderai air mata. “Kumohon jangan salahkan dia, salahkan saja umma! Ia berniat berterus terang kepadamu saat ia hampir menemui ajalnya. Namun, kau tidak pernah datang menemuinya. Karena putus harapan, ia meminta umma yang mengatakannya kepadamu. Akan tetapi, umma pikir akan lebih baik jika kau tidak pernah tahu. Aku takut kau akan semakin menelantarkan Yoochun jika kau tahu ia bukan anakmu.”

“JIka Chunnie bukan anak kami, lalu bagaimana dengan anak kami yang sesungguhnya?” Tanya Yunho. “Soojin benar-benar mengandung kan saat itu? Aku melihat bahwa perut besarnya itu asli.”

“Saat itu ia memang benar-benar mengandung. Akan tetapi, ia mengalami keguguran saat usia kandungannya tujuh bulan. Ia hampir gila saat dokter mengatakan bahwa rahimnya harus diangkat. Itu artinya ia tidak akan pernah bisa mempunyai keturunan.” Ny. Jung menjawab pertanyaan Yunho.

Yunho kembali merasa bersalah karena ia tidak pernah memerhatikan Soojin. Ia bahkan selama ini tidak pernah tahu bahwa Soojin mengalami keguguran.

“Ia sangat takut kau akan menceraikannya jika kau mengetahui bahwa ia tak bisa memberimu keturunan. Akhirnya, umma menyarankannya untuk berpura-pura bahwa keguguran tersebut tidak pernah terjadi dan mengadopsi anak yang baru lahir pada tanggal seharusnya ia melahirkan.” Ny. Jung menunduk sedih.

“Jika rahimnya diangkat, bagaimana bisa ia menderita tumor rahim?” Tanya Yunho lagi.

“Sebelum rahimnya diangkat, itu memang tumor rahim, tetapi kemudian tumornya menjalar ke bagian tubuhnya yang lain.” Jawab Ny. Jung.

“Sejak kapan ia sakit?” Yunho terus bertanya.

“Kami tidak tahu sejak kapan. Penyakitnya diketahui saat ia memeriksakan kehamilannya. Saat itu sangat berrisiko baginya untuk mengandung. Dokter bahkan menyarankan agar ia tak melanjutkan kehamilannya.” Ny. Jung menjelaskan. “Namun, ibu mana yang tega membunuh anaknya sendiri? Ia tetap bersikukuh untuk melanjutkan kehamilannya sampai saat itu terjadi. Ia mengalami keguguran karena kandungannya sangat lemah dan juga pengaruh dari tumor yang dideritanya.”

Yunho mencoba mengingat-ingat. Seingatnya ia tidak pernah sekali pun menemani Soojin memeriksakan kehamilannya. Ia merasa sangat berdosa. “Pantas saja aku tak pernah merasakan ikatan batin yang kuat dengan Chunnie. Ternyata ia bukan anakku.”

Ny. Jung memegang kedua bahu Yunho. “Yun, kumohon kau jangan membencinya! Ia sama sekali tidak bersalah. Kita lah yang bersalah. Ia bahkan tidak tahu apa-apa.”

Yunho menangis. “Aku tidak tahu, Umma. Aku perlu waktu untuk berpikir.”

***

Yoochun sudah sadarkan diri. Ia kini berada di dalam kamar rawat di rumah sakit. Kepalanya dibalut perban. Saat ia membuka matanya ia melihat neneknya, ibu tirinya, dan adik tirinya. Sang ayah tidak ada di sana. Bahkan di saat ia dalam keadaan seperti ini pun ayahnya tidak ada untuknya. Ia benar-benar kecewa.

“Chunnie, kau sudah sadar, Nak?” Jaejoong lah yang pertama kali menghampiri Yoochun. “Apa kau ingin minum?” Ia menyodorkan segelas air kepada Yoochun dan membantunya minum.

Yoochun masih lemas. Ia tidak berkata apa-apa dan hanya berbaring di tempat tidur. Saat ini ia benar-benar kecewa kepada ayahnya.

“Jae, kau sejak tadi menjaganya. Sebaiknya kau beristirahat sekarang. Kau kan sedang tidak enak badan. Sekarang giliran umma yang menjaganya.” Ny. Jung berkata kepada Jaejoong.

“Baiklah, Umma! Sekalian aku ingin memeriksakan diriku ke dokter.” Balas Jaejoong. Ia pun meninggalkan kamar rawat Yoochun untuk memeriksakan dirinya ke dokter, tepatnya ke dokter kandungan. Ia belum memberitahukan hal ini kepada ibu mertua dan anak-anaknya. Ia baru akan memberi tahu mereka jika sudah dipastikan bahwa ia benar-benar hamil.

Halmoni, si wajah kecil itu di mana? Apakah ia sama sekali tidak datang?” Tanya Yoochun pada akhirnya.

Ny. Jung memandang sendu ke arah Yoochun. “Tadi ia menjagamu saat kau tidak sadar. Mungkin ia sedang beristirahat sekarang.” Ia terpaksa berbohong karena tidak ingin membuat Yoochun semakin sedih. Ia bahkan tidak tahu di mana anaknya gerangan.

“Apa ia marah kepadaku karena aku berkelahi lagi?’ Tanya Yoochun takut-takut.

“Melihatmu dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin terlintas di benaknya untuk marah kepadamu?” Ny. Jung mencoba tersenyum. “Kalau pun nanti ia berteriak-teriak lagi kepadamu, itu semata-mata karena ia sangat mengkhawatirkanmu dan tidak ingin kau terluka.”

***

Jaejoong keluar dari ruangan dokter kandungan dengan gembira. Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa ia positif hamil 6 minggu. Tiba-tiba saja senyumnya pudar kala ia teringat ekspresi datar Yunho saat dokter mengatakan bahwa ada kemungkinan dirinya hamil. Suaminya tersebut tampak tidak senang mendengarnya. “Ah, mungkin saja saat itu ia bersedih karena memikirkan Chunnie. Apa aku harus segera memberitahunya atau tidak? Saat ini Chunnie sedang sakit. Kami semua harus fokus dengan kesehatannya terlebih dahulu. Aku tak mau ia pusing karena harus memikirkan kehamilanku juga.”

***

Umma, sejak tadi Yunho tidak kemari?” Jaejoong penasaran karena belum melihat Yunho sejak Yoochun keluar dari ruang gawat darurat dan dipindahkan ke ruang rawat.

Ny. Jung hanya menggeleng. Ia takut Yoochun mendengar kata-katanya, walaupun anak itu sekarang sedang memejamkan matanya.

Jaejoong mengerti maksud Ny. Jung. Ia pun menurunkan volume suaranya. “Sebenarnya dia ke mana?”

Ny. Jung menarik Jaejoong ke sudut ruangan, menjauh dari tempat tidur Yoochun. “Aku tidak tahu dia di mana. Ponselnya tidak aktif.”

“Apa Umma sudah menanyakannya kepada Seunghyun?” Tanya Jaejoong lagi.

“Ia bilang Yunho tidak kembali lagi ke kantor.” Jawab Ny. Jung.

Jaejoong merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya. Ia merasa Yunho sangat aneh hari ini. “Kalau aku boleh tahu, apa yang kalian bicarakan di kantin?”

Ny. Jung tidak tahu harus memjawab apa. Ia ragu apakah ia harus memberi tahu Jaejoong atau tidak. “Tidak ada apa-apa, Jae! Bukan sesuatu hal yang penting.”

“Dia terlihat aneh hari ini. Apakah umma tahu apa penyebabnya?” Jaejoong mengkhawatirkan suaminya. “Ia mulai terlihat aneh setelah dokter memeriksa apakah ia bisa mendonorkan darahnya atau tidak. Apa ia kecewa karena ia tidak bisa mendonorkan darahnya untuk Chunnie?”

Ny. Jung berpikir bahwa ia sebaiknya memberitahu Jaejoong. Jaejoong sekarang merupakan bagian dari keluarga Jung juga. “Sebenarnya itu karena golongan darah mereka berbeda.”

“Memangnya kenapa? Bukankah itu wajar?” Jaejoong belum bisa menangkap maksud perkataan Ny. Jung.

“Masalahnya, Yunho bergolongan darah AB, sedangkan Chunnie bergolongan darah O.” Lanjut Ny. Jung. “Apakah kau tau artinya?”

Jaejoong berpikir sejenak. Ia hampir berteriak saat ia menyadari sesuatu. “Omo!”

“Ssssttt!!! Jangan keras-keras, Jae!” Ny. Jung memperingatkan Jaejoong. “Nanti anak-anak terbangun.” Saat itu Junsu juga sedang tertidur di sofa.

Mendengar teriakan kecil Jaejoong, Yoochun tersadar dari tidurnya. Sayup-sayup ia bisa mendengar percakapan nenek dan ibu tirinya.

Tidak ingin membuat Jaejoong salah paham dengan informasi yang hanya setengah-setengah, Ny. Jung menceritakan semuanya kepada Jaejoong. Ia percaya kepada menantunya tersebut sepenuhnya.

‘Jadi, aku bukanlah anak appa.’ Yoochun menahan air matanya. Ia tetap berpura-pura tidur.

***

Jaejoong, Ny. Jung, dan Junsu semalaman menginap di ruang perawatan Yoochun. Pagi-pagi sekali Jaejoong dan Junsu pulang ke rumah karena Junsu harus pergi ke sekolah, sedangkan Yunho masih tidak jelas keberadaannya. Ia bahkan tidak ada di rumah.

Setelah Junsu pergi ke sekolah, Jaejoong kembali ke rumah sakit, membawakan pakaian untuk ibu mertuanya dan juga makanan.

“Jae, kau meninggalkan sesuatu.” Ny. Jung memegang sebuah amplop yang merupakan hasil pemeriksaan Jaejoong kemarin.

“Omo! Aku sangat ceroboh. Bisa-bisanya aku meninggalkan hal penting seperti ini.” Jaejoong mengambil amplop tersebut dari Ny. Jung.

“Kenapa kau tidak bilang kalau kau hamil?” Ny. Jung berpura-pura marah. “Maaf, aku membuka amplopnya karena aku penasaran dengan penyakitmu.”

“Maaf, Umma! Bukannya aku tidak mau memberi tahu umma. Hanya saja aku sedang menunggu waktu yang tepat.” Jaejoong menjelaskan. “Kita semua harus fokus terhadap kesehatan Chunnie terlebih dahulu.”

“Hey, apa hubungannya kesehatan Chunnie dengan kehamilanmu?” Balas Ny. Jung. “Justru berita kehamilanmu ini dapat sedikit mengobati kesedihan kita.”

Yoochun terbangun. Ia sempat mendengar kabar tentang kehamilan ibu tirinya. Posisinya di keluarga Jung akan semakin sulit sekarang. Orang yang selama ini ia kira sebagai ayahnya akan mendapatkan anak yang benar-benar darah dagingnya. Ia akan benar-benar dicampakkan.

“Eh, kau sudah bangun?” Jaejoong menghampiri tempat tidur Yoochun. “Apa kau menginginkan sesuatu?”

Yoochun memalingkan wajahnya dari Jaejoong. Ia sangat kesal. Jaejoong dan bayinya akan benar-benar mengambil seluruh perhatian Yunho.

“Anak Bodoh, kau jangan seperti itu kepada ibumu!” Kata Ny. Jung kepada Yoochun. “Ia sudah menjagamu semalaman.”

Umma, jangan memarahinya!” Jaejoong berkata kepada ibu mertuanya. “Chunnie kan masih sakit.”

Yoochun tiba-tiba saja terisak. Ia sudah tidak bisa menahan kesedihannya. “Tidak ada seorang pun yang menyayangiku.”

“Tuh kan, Umma! Chunnie jadi menangis!” Jaejoong menyalahkan ibu mertuanya. “Chunnie Sayang, halmoni tidak bermaksud memarahimu. Ia hanya bercanda. Jangan dimasukkan ke hati ya! Tentu saja kami semua sangat menyayangimu. Kami semua sangat mengkhawatirkan keadaanmu.”

“Maafkan halmoni!” Ny. Jung merasa menyesal telah berkata demikian kepada Yoochun. “Kau tahu kan halmoni senang bercanda.”

Yoochun menangis semakin keras. “Kalian semua tidak benar-benar menyayangiku. Kalian semua hanya kasihan kepadaku, kan?”

“Kenapa kau berbicara seperti itu?” Jaejoong berusaha menenangkan Yoochun. “Kami bersungguh-sungguh menyayangimu.”

“Bohong!” Yoochun berteriak. “Kau senang kan karena kau sudah mencuri perhatian appa dariku?”

“Chunnie, jaga bicaramu!” Ny. Jung merasa Yoochun sudah keterlaluan.

Appa sekarang lebih memerhatikanmu dan si pantat bebek. Lama-lama ia akan melupakanku dan kemudian membuangku.” Yoochun berkata penuh amarah.

Ny. Jung ikut menangis. Ia tidak pernah melihat cucu kesayangannya itu semarah ini. Selama ini Yoochun hanya melakukan pemberontakan kecil untuk menarik perhatian Yunho. Ini pertama kalinya Yoochun meledak.

Jaejoong mendekap Yoochun yang meronta di atas tempat tidur. “Tenanglah, Nak! Tidak akan ada yang mengambil ayahmu darimu. Kau adalah orang yang sangat spesial baginya. Tak akan ada yang bisa menggantikan posisimu di hatinya, termasuk diriku atau anakku.”

Yoochun masih menangis tersedu-sedu. Namun, ia berhenti meronta di pelukan Jaejoong. “Aku ingin mati saja. Hanya umma yang benar-benar menyayangiku.”

Jaejoong ikut menangis mendengar perkataan Yoochun. “Jangan berkata seperti itu! Kami akan sangat bersedih jika kau pergi meninggalkan kami, terutama appa-mu.”

“Dia sama sekali tidak menyayangiku. Ia membenciku. Ia bahkan sama sekali tidak datang menemuiku.” Yoochun meracau.

***

Yunho terbangun di kantornya. Semalam ia menginap di kantornya. Setelah merenung di tepi Sungai Han, ia datang ke kantornya setelah lewat tengah malam. Ia sudah terbiasa menginap di sana. Diliriknya jam tangannya, pukul sembilan pagi. Ia bangkit dan pergi ke kamar mandi yang berada di dalam kantornya untuk membersihkan diri.

Yunho berdiri di bawah pancuran. Air dingin membasahi seluruh tubuhnya, mendinginkan kepalanya. Semalaman ia berpikir. Ia mengevaluasi kesalahan-kesalahannya di masa lalu terhadap keluraganya. Apa yang telah terjadi kepada keluarganya sebagian besar disebabkan oleh dirinya, keegoisannya. Ia tidak bisa menyalahkan Soojin, ibunya, apalagi Yoochun. Bocah itu sama sekali tak bersalah.

Yunho mulai mengingat-ingat kembali kenangannya bersama Yoochun. Saat ia mendengar kabar bahwa istrinya melahirkan, ia sedang berada di luar negeri untuk keperluan bisnis. Saat ia pulang ke Korea, ia merasa sangat bahagia karena ia mendapatkan seorang putra. Ia masih ingat bagaimana bahagianya ia saat ia menggendong Yoochun untuk pertama kalinya. Ia mengulas sebuah senyuman saat ia mengingat hal tersebut.

Yunho juga menyadari bahwa ia sangat jarang menghabiskan waktu dengan putranya tersebut. Pernah suatu ketika Yoochun memintanya datang ke sekolah pada hari ayah. Akan tetapi, ia sangat sibuk dan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, padahal ayah dari teman-temannya sengaja mengambil cuti agar bisa hadir ke acara hari ayah yang diselenggarakan di sekolah. Yoochun sangat sedih dan marah kepadanya selama beberapa hari.

Yunho meresa kecewa karena Soojin dan ibunya merahasiakan siapa Yoochun sebenarnya. Ia merasa dibohongi. Namun, yang paling ia sesalkan adalah mengapa Yoochun tidak terlahir sebagai anak kandungnya. Di lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat menyayangi anak itu. Ia menyadari bahwa ia telah menelantarkan anak itu dan ia ingin memperbaiki semuanya. Kini anak itu sedang berbaring di rumah sakit dengan luka di kepalanya. Anak itu pasti menderita dan merasa kesakitan. Hatinya sakit saat memikirkan hal itu. Ia segera menyelesaikan acara mandinya dan memakai pakaiannya. Kemudian ia berlari meninggalkan kantornya. ‘Bagaimana jika ia mati? Bagaimana jika aku tidak sempat bertemu dengannya? Bagaimana jika aku tak sempat mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya?’

***

Sampailah Yunho di rumah sakit. Ia bertanya kepada resepsionis di mana kamar perawatan Yoochun. Ia berlari sekencang-kencangnya menuju kamar tersebut. Sesampainya ia di depan kamar Yoochun, ia mendengar anak itu berteriak. “Aku ingin mati saja. Hanya umma yang benar-benar menyayangiku.” Hatinya sakit saat mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut Yoochun.

“Jangan berkata seperti itu! Kami akan sangat bersedih jika kau pergi meninggalkan kami, terutama appa-mu.” Yunho juga bisa mendengar bahwa Jaejoong sedang menenangkan anaknya tersebut.

“Dia sama sekali tidak menyayangiku. Ia membenciku. Ia bahkan sama sekali tidak datang menemuiku.” Menjerit hati Yunho saat Yoochun berkata demikian.

Yunho segera menerobos masuk kamar perawatan Yoochun dan langsung memeluk anak tersebut. “Tidak, itu tidak benar! Aku sangat menyayangimu.”

Yooochun berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Yunho. “Bohong! Kau bahkan tidak mau melihat keadaanku. Kau malu punya anak sepertiku yang sering berbuat onar.”

Yunho semakin mengeratkan pelukannya. “Maafkan appa karena selama ini kurang memerhatikanku! Appa berjanji bahwa appa akan lebih memerhatikanmu.”

Appa membenciku karena aku bukan anak appa, kan?” Semua orang di ruangan tersebut terkejut mendengar perkataan Yoochun.

“Apa yang kau bicarakan, Nak?” Yunho berkata. “Tentu saja kau adalah anak appa.”

Appa tidak usah berbohong. Aku mendengar halmoni mengatakannya kepada istri appa.” Balas Yoochun. “Benar kan aku bukan anak appa?”

Yunho merasa tidak perlu membohongi Yoochun lagi. Anaknya itu bukanlah seorang bocah yang masih bisa dibohongi. Ia membelai kepala Yoochun. “Aku tidak peduli kau anak kandungku atau bukan. Aku tidak peduli apakah darahku mengalir di dalam tubuhmu atau tidak. Bagiku kau adalah anakku dan akan tetap menjadi anakku untuk selamanya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu dariku. Walaupun mungkin suatu hari ada yang datang menemuiku dan mengatakan bahwa mereka adalah keluargamu yang sesungguhnya, aku akan mempertahankanmu.”

“Tapi kau akan segera punya anak yang benar-benar darah dagingmu. Kau akan melupakanku dan mencurahkan semua perhatianmu untuk anak kandungmu.” Balas Yoochun.

“Walaupun kelak aku akan punya 25 anak kandung sekali pun, kasih sayangku kepadamu tidak akan pernah berkurang. Lagipula, aku tidak tahu kapan aku akan punya anak dengan Jaejoong.” Ujar Yunho.

“Bodoh! Kau sama sekali tidak berubah.” Yoochun mencibir. “Kau masih saja bukan suami yang baik. Apa kau tidak tahu bahwa si dada montok itu sedang hamil?”

“Apa?” Yunho langsung mengalihkan pandangannya ke Jaejoong. “Benarkah itu?”

Jaejoong menggigit bibirnya dengan gugup. Ia takut Yunho marah. Ia mengangguk pelan. “Maaf!”

Yunho kebingungan sekarang. ‘Jadi dia benar-benar bisa hamil.’ Selama ini Yunho penasaran apakah Jaejoong benar-benar bisa hamil atau tidak. Dia masih belum sepenuhnya percaya bahwa Jaejoong mengandung dan melahirkan Junsu. Dia ingin membuktikannya sendiri apakah Jaejoong bisa hamil dan ternyata itu benar.

“Apa kau tidak suka?” Tanya Jaejoong takut.

“Eh? Bukan begitu.” Jawab Yunho cepat. “Tentu saja aku senang. Hanya saja…”

“Hanya saja kau tidak percaya bahwa aku bisa hamil kan?” Tebak Jaejoong. “Sama seperti Junho saat aku mengatakan kepadanya bahwa aku mengandung anaknya.”

“Enak saja! Jangan samakan aku dengan dia!” Yunho tidak terima disamakan dengan mantan kekasih Jaejoong. “Dari sudut mana pun aku jauh lebih baik dari dia.”

Yoochun tiba-tiba terkekeh dan melupakan segala kemarahannya. Ayahnya memang selalu seperti itu, seperti anak kecil. Sebenarnya dia sangat senang saat ayahnya bertingkah konyol dan mem-bully-nya. Itu artinya Yunho masih memberikannya perhatian. Hanya saja perhatian yang ia berikan berbeda dengan ayah-ayah lain. Cara Yunho memarahinya, memanggilnya dengan sebutan si jidat lebar, itu menjadi tanda bahwa Yunho menyayanginya. Ya, Yunho menyayanginya. Ia kini bisa menyadarinya bahwa sebenarnya Yunho sangat menyayanginya.

“Apa kau menertawaiku?” Yunho terlihat tidak suka ditertawakan.

“Memangnya siapa lagi yang aku tertawakan?” Balas Yoochun.

“Berhenti menertawaiku! Kau pikir aku ini badut?” Balas Yunho.

Yoochun menjulurkan lidahnya. “Kau memang badut. Tidak ada orang yang sekonyol dirimu.”

“Kurang ajar, Kau!” Yunho mulai menggelitiki tubuh Yoochun.

“Sudah, Yun!” Jaejoong berusaha menghentikan Yunho. “Chunnie kan masih terluka.”

Ny. Jung tersenyum memerhatikan interaksi Yunho dan Yoochun. Ia merasa lega bahwa Yunho tidak mempermasalahkan asal-usul Yoochun. Ia benar-benar bangga kepada anaknya. Kekhawatirannya selama ini sirnalah sudah.

***

Hari ini Yunho tidak pergi ke kantor. Ia ingin menghabiskan waktu seharian merawat Yoochun. Sekarang ini ia sedang menyuapi Yoochun.

“Appa~” Panggil Yoochun.

“Hmm.” Yunho menggumam.

“Tolong perhatikan umma dada montok ya!” Yoochun berpesan kepada Yunho.

“Tentu saja.” Yunho memasukkan sesendok penuh makanan ke mulut Yoochun.

“Jangan ulangi kesalahanmu terhadap Soojin Umma kepadanya!” Lanjut Yoochun.

“Aku akan berusaha semampuku untuk tidak mengulangi kesalahanku di masa lalu.” Yunho tersenyum.

Appa tidak marah kan kepada Soojin Umma karena ia membohongi appa?” Yoochun bertanya.

“Tentu saja tidak. Justru aku yang takut ia marah kepadaku dan kemudian menghantuiku.” Jawab Yunho.

“Kau memang pantas untuk dihantui.” Yoochun tersenyum. “Appa juga jangan marah ya kepada halmoni!”

“Tentu saja tidak. Si nenek sihir itu adalah ibuku. Jika aku marah kepadanya, kemarahanku itu tidak akan lama. Bagaimana pun ia adalah ibuku.” Balas Yunho. “Dengarkan aku, ya! Semarah apa pun seorang anak kepada orang tuanya, anak tersebut harus mengingat semua kebaikan orang tuanya. Pada dasarnya, setiap orang tua itu menyayangi anaknya dan ingin yang terbaik untuk anaknya. Hanya saja kadang-kadang si anak jarang menyadarinya dan salah mengartikan perhatian orang tuanya tersebut. Sebesar apa pun kesalahan yang diperbuat oleh seorang anak, orang tua pasti akan memaafkannya karena kasih sayang orang tua terhadap anak tidak ada batasnya.”

Jaejoong yang saat itu berada di ruangan itu juga tiba-tiba teringat akan keluarganya, terutama ayahnya. Apakah ayahnya sudah bisa memaafkan dirinya?

“Halo semuanya!” Junsu yang baru saja pulang sekolah tiba-tiba masuk.

“Suara lumba-lumbamu itu berisik sekali!” Yoochun berteriak ke arah adik tirinya. “Kau tahu kan ini adalah rumah sakit. Suaramu itu mengganggu ketenangan pasien di sini.”

“Ih, hyung anak manja!” Junsu tidak menghiraukan peringatan Yoochun. “Sudah besar masih disuapi.”

“Aku kan sedang sakit!” Balas Yoochun.

“Dasar anak manja!” Junsu terus saja mengolok-olok Yoochun.

“Kau anak cengeng!” Balas Yoochun.

“Anak manja!” Balas Junsu lagi.

“Anak cengeng!” Yoochun tidak mau kalah.

Yunho benar-benar dibuat pusing oleh kedua anaknya tersebut. “Kedua setan ini saja sudah membuatku pusing, apalagi jika setan ketiga sudah lahir.” Ia memandangi perut Jaejoong yang masih rata. “Mungkin aku akan menjadi gila.”

TBC

Note:

Golongan darah Yunho yang sebenarnya adalah A terpaksa harus di buat AB untuk kepentingan cerita.

AB + O = A atau B

AB + A = A atau AB atau B

AB + B = AB atau A atau B

AB + AB = A atau AB atau B

Jadi, secara ilmiah orang bergolongan darah AB tidak mungkin punya anak bergolongan darah O.

Golongan darah O hanya bisa menerima darah dari golongan darah O juga.

Not a Perfect Family (Chapter 7)

Title: Not a Perfect Family

Author: alienacass

Genre: Family, drama, humor

Pairing: Yunjae

Rating: PG-15

Length: 7/?

Disclaimer: TVXQ are not mine, but the story is mine.

Warning: Yaoi, mpreg

Characters: Kim Jaejoong (25), Jung Yunho (36), Yoochun (10), Junsu (8), dll

Summary:

Jung Yunho, duda beranak satu yang tampan dan kaya menikahi Kim Jaejoong yang juga merupakan single parent. Akankah mereka berhasil membangun keluarga yang sempurna?

Chapter 6

Chapter 7

Yunho merasa mendengar suara teriakan Junsu. ‘Ini pasti hanya imajinasiku saja. Si pantat bebek itu sedang berada di Italia.’ Yunho tidak menghiraukan suara tersebut. Ia terus saja melumat bibir istrinya.

BUK!!!

“Awww!!!” Yunho memegangi kakinya yang baru saja ditendang oleh Junsu. Matanya terbelalak. “Kenapa kau ada di sini?”

Ahjusshi jelek, apa yang kau lakukan? Apa kau ingin memakan umma-ku?” Junsu berkacak pinggang dengan sorotan matanya mengintimidasi Yunho.

“Sebenarnya aku memang ingin memakannya.” Yunho masih merasa kesakitan.

Jaejoong langsung memeluk putra kesayangannya? “Jun-chan, kenapa kau ada di sini? Kau pulang dengan siapa?”

“Kami pulang!” Ny. Jung, diikuti Yoochun, memasuki halaman rumah keluarga Jung.

Yunho terlihat sedikit kesal karena ibu dan anak-anaknya muncul tanpa terduga.

“Kenapa kau cemberut seperti itu? Cepat bawa barang-barang kami masuk!” Sepertinya Ny. Jung masih kesal karena Yunho tidak mengangkat panggilan teleponnya.

Tak ingin berdebat dengan ibunya, Yunho mengangkut barang-barang bawaan ibunya dari bagasi taksi yang tadi mereka gunakan. “Kenapa kalian pulang mendadak sekali dan tidak memberitahu kami dahulu? Bukankah masih ada waktu beberapa hari?”

“Apa kau tidak senang kami pulang?” Ny. Jung menatap anaknya.

“Bukan begitu, Umma. Seharusnya umma mengabariku dahulu supaya aku bisa menjemput kalian di bandara.” Yunho menjelaskan kepada ibunya. “Tentu saja aku senang kalian sudah pulang. Tanpa kalian rumah ini terasa sepi sekali.”

“Cih…” Ny. Jung mendecih. “Bagaimana aku akan memberitahumu? Telepon penting dariku saja tidak kau angkat.”

“Kapan umma meneleponku?” Yunho merasa ibunya tidak pernah meneleponnya.

“Mungkin telepon yang waktu itu.” Jaejoong berusaha mengingatkan Yunho.

Yunho menatap istrinya. Ia tampak tak mengerti maksud Jaejoong.

“Yang itu.” Kata Jaejoong lagi.

“Yang mana?” Yunho mengernyitkan dahinya. “Kapan?”

“Yang itu. Saat kita sedang… itu.” Jaejoong tidak tahu bagaimana harus memberitahu suaminya.

“Sedang apa?” Yunho masih saja tidak mengerti.

“Sudahlah! Sekarang tidak penting lagi. Aku lapar.” Ny. Jung gemas dengan kelakuan anaknya. “Yunho, kau ambilkan makanan untuk umma dan anak-anak!”

“Aku akan ambilkan sekarang, Umma.” Jaejoong hendak beranjak menuju dapur.

“Jae, tidak usah. Aku ingin Si Bodoh ini yang melayaniku.” Ny. Jung sedang ingin mem-bully anaknya.

Umma, aku harus segera pergi ke kantor. Aku sudah terlambat.” Yunho memberi tahu ibunya.

“Kau kan bosnya. Jadi tidak apa-apa kau membolos sehari saja.” Ny. Jung berkomentar. “Pokoknya aku ingin hari ini kau melayaniku dan anak-anak, juga membantu Jaejoong mengerjakan pekerjaan rumah tangga.”

Umma, aku bisa melakukan semuanya.” Jaejoong berusaha menyelamatkan suaminya.

“Kalau aku tidak pergi ke kantor, siapa yang akan mengerjakan pekerjaanku?” Yunho berkata. “Seunghyun tak akan bisa mengatasi semuanya sendirian.”

“Selalu saja kau mementingkan pekerjaanmu di atas keluargamu. Sebaiknya kau merekrut asisten lagi untuk membantumu jika Seunghyun kerepotan membantumu sendirian.” Ny. Jung mulai mengomeli anaknya.

***

Hari ini Ny. Jung benar-benar memperbudak Yunho. Ia menyuruh Yunho mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Menurutnya, Yunho harus merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya agar ia bisa lebih menghargai istrinya tersebut. Ia bahkan membawa Jaejoong ke kamarnya untuk mencoba pakaian yang ia beli di Italia.

Umma, apa tidak apa-apa Yunho mengerjakan semua itu?” Jaejoong kini mengkhawatirkan Yunho. Suaminya tersebut tidak terbiasa mengerjakan semua itu. Jadi, pasti sulit baginya untuk mengerjakannya.

“Sudahlah, kau tidak usah memikirkannya. Ia pasti baik-baik saja.” Ny. Jung membongkar isi kopernya. “Lihatlah, Jae! Bagaimana gaun ini? Bagus tidak?”

“Bagus.” Jaejoong berkomentar. “Sangat cocok untuk umma.”

“Gaun ini bukan untukku, tetapi untukmu.” Kata Ny. Jung.

Umma, ini kan pakaian untuk wanita.” Jaejoong berkata kepada ibu mertuanya.

“Kau ini sangat cantik. Jadi, menurutku kau akan pantas memakainya.” Balas Ny. Jung.

“Aku takut Yunho akan marah jika aku memakai pakaian wanita lagi.” Kata Jaejoong. “Sepertinya dia tidak suka.”

“Oh, jadi begitu. Lalu kita apakan pakaian ini? Aku tidak memerlukan gaun seperti ini.” Ny. Jung berpikir. “Kalau ia tidak suka kau memakainnya, bagaimana kalau ia saja yang memakainya?”

Umma, sudah jangan menyiksanya lagi!” Jaejoong merengek.

“Aku tidak menyiksanya.” Ny. Jung menyangkal. “Aku jadi iri kepadanya. Kau terus saja membelanya. Jadi, kau benar-benar mencintainya ya.”

Jaejoong bingung harus mengatakan apa. Ia sendiri merasa belum yakin dengan perasaannya terhadap Yunho. Selama ini yang ia lakukan adalah semata-mata karena ia ingin menjadi istri yang baik. “Aku tidak tahu, Umma.”

Ny. Jung sedikit kaget mendengar jawaban Jaejoong. “Apa kau meresa tidak bahagia dengan pernikahan kalian?”

“Bukan begitu, Umma.” Jaejoong mencoba meluruskan. “Aku bahagia punya keluarga baru seperti kalian. Walaupun aku masih belum berhasil dekat dengan Chunnie, tetapi aku menyayanginya dan berusaha untuk tidak membeda-bedakannya dengan Jun-chan. Yunho juga sangat baik kepadaku. Hanya saja jika menyangkut masalah cinta, aku tidak tahu.”

Ny, Jung memeluk Jaejoong. “Kalian pasti bisa belajar untuk saling mencintai.” Kemudian ia melepaskan pelukannya dan menatap Jaejoong. “Apa kau masih mencintai ayah kandung Jun-chan?”

Jaejoong menundukkan kepalanya. “Aku berusaha untuk tidak mengingat-ingatnya. Akan tetapi, Jun-chan sangat mirip dengannya, sehingga kadang-kadang aku teringat kepadanya.” Kini giliran Jaejoong yang memeluk ibu mertuanya. “Umma, aku takut jika bayang-bayangnya akan terus menghantui pernikahanku dengan Yunho.”

Ny. Jung membelai punggung Jaejoong. “Aku yakin kau pasti bisa melaluinya. Sejalan dengan berlalunya waktu, kau pasti akan melupakannya dan mencintai anakku.”

***

Sementara itu, di dapur Yunho sedang berusaha memasak makan siang, dibantu oleh kedua putranya. “Jidat lebar, kocok telurnya dengan benar! Bukan seperti itu.”

Appa cerewet sekali! Kalau begitu appa kerjakan sendiri saja!” Yoochun menaruh mangkuk berisi kocokan telur di meja dan melenggang pergi ke ruang keluarga untuk menonton film kartun di televisi.

“Hey, mau ke mana kau? Kita belum selesai!” Yunho berteriak dari arah dapur.

“Suruh si pantat bebek saja yang membantumu! Aku ingin menonton film kartun kesayanganku.” Yoochun tidak menuruti ayahnya.

Yunho menghela nafas. “Anak itu. Apa dia menganggapku sebagai orang tuanya atau tidak? Dia tidak pernah mendengarkanku.”

“Itu karena ahjusshi kurang memerhatikannya.” Celetuk Junsu. Dengan lihai ia memotong sayuran dengan rapi.

Yunho memandang Junsu. “Pekerjaanmu rapi sekali.” Ia memeriksa potongan sayuran yang dipotong Junsu.

“Aku sering membantu umma memasak.” Balas Junsu.

“Benar juga. Jaejoong sangat pandai memasak. Bakatnya pasti menurun kepadamu.” Yunho menanggapi Junsu.

“Dan aku yakin kelakuan hyung jidat lebar yang menyebalkan itu menurun darimu.” Junsu mejulurkan lidahnya ke arah Yunho.

Yunho sebenarnya tidak terima Junsu berkata demikian, tetapi setelah ia pikir-pikir lagi mungkin pernyataan Junsu memang benar. “Hey, pantat bebek!”

“Ada apa?” Junsu tidak menatap Yunho. Ia masih sibuk memotong sayuran.

“Bisakah kau berhenti memanggilku ‘ahjusshi’?” Pinta Yunho.

Junsu menolehkan kepalanya ke arah Yunho. “Lalu aku harus memanggil apa? Kau sudah terlalu tua untuk kupanggil ‘hyung’. Kau bahkan jauh lebih tua dari umma-ku.”

“Panggil aku ‘appa’!” Lanjut Yunho.

“Aku tidak mau.” Junsu menolak.

“Kenapa?” Tanya Yunho. “Mengapa kau belum bisa menerimaku sebagai ayahmu?”

“Karena aku tidak butuh seorang ayah!” Junsu berteriak.

Yunho sedikit kaget saat Junsu berteriak. Ia lebih kaget lagi saat melihat Junsu menitikkan air matanya. Dengan spontan ia memeluk putra tirinya tersebut. “Maafkan aku! Aku tidak akan memaksamu lagi. Aku tahu bahwa aku bukanlah ayahmu dan tak akan pernah bisa menggantikannya.” Ia melepaskan pelukannya dan memandang Junsu. “Apa kau ingin bertemu dengan ayah kandungmu?”

“Aku sangat membenci Si Brengsek itu!” Jawab Junsu.

“Hey, kau tidak boleh berkata seperti itu!” Yunho menghapus air mata Junsu. “Bagaimana pun ia adalah ayahmu. Tanpa dirinya kau tak akan pernah lahir ke dunia. Aku juga bukan ayah yang baik untuk Yoochunnie, tapi sedih rasanya jika ia tidak menganggapku sebagai ayahnya. Mungkin ayahmu juga akan merasa sedih jika kau membencinya.”

Junsu tidak membalas perkataaan Yunho. Ia sibuk melap ingusnya.

“Apa yang akan kau lakukan jika ia tiba-tiba muncul di hadapanmu dan meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan kepadamu dan ibumu?” Yunho membantu Junsu melap ingus.

“Aku tidak tahu.” Jawab Junsu. “Aku bahkan tidak yakin bahwa ia akan mencari kami.”

“Mungkin kau harus mencoba memaafkannya dan mencoba mendengarkan alasan mengapa ia meninggalkan kalian.” Yunho memberi saran.

***

“Apa ini?” Ny. Jung berteriak saat melihat makanan yang tersaji di meja makan.

“Ini tumis sayuran dan telur dadar.” Jawab Yunho.

Dengan ragu-ragu Ny. Jung mencicipi tumis sayuran buatan Yunho. “Asin sekali.”

‘Sepertinya makanan tersebut sudah terkontaminasi ingus Junsu. Rasakan kau nenek sihir!’  Gumam Yunho dalam hati. “Sepertinya aku terlalu banyak memberi garam.”

“Telur dadarnya lumayan enak.” Komentar Jaejoong.

Yunho tersenyum manis ke arah istrinya. Ia merasa senang karena Jaejoong memuji masakannya.

***

Atas saran ibunya, Yunho merekrut asisten baru untuk membantu pekerjaannya. Sepertinya ia harus mengurangi beban pekerjaannya. Ia sudah berjanji bahwa ia akan lebih memerhatikan keluarganya.

“Selamat pagi! Apakah Anda Seunghyun-sshi?” Seorang pria muda menyapa Seunghyun.

“Benar, saya adalah Choi Seunghyun, asisten dari Direktur Jung.” Seunghyun menjawab.

“Perkenalkan saya Kim Junho, asisten Direktur Jung yang baru.” Pria muda tersebut memperkenalkan dirinya. “Saya akan mulai bekerja hari ini.”

“Oh, jadi kau adalah asisten baru tersebut.” Balas Seunghyun. “Tuan Jung sudah memberi tahuku. Ia menyuruhku untuk memberitahukan apa saja pekerjaanmu. Kita akan jadi rekan kerja. Jadi, panggil aku Seunghyun saja!”

“Saya jadi merasa tidak enak, Senpai!” Junho tersenyum kaku.

Senpai? Apa kau dari Jepang?” Seunghyun merasa heran.

“Oh, maafkan aku, Sunbae!” Junho segera membungkuk meminta maaf. “Sudah sembilan tahun saya tinggal di Jepang. Baru beberapa minggu yang lalu saya kembali ke Korea.”

“Seunghyun, apakah asisten baru tersebut sudah datang?” Tiba-tiba saja Yunho keluar dari ruang kerjanya. Ia sudah melihat asisten barunya bersama Seunghyun.

“Selamat pagi, Tuan Jung!” Junho member isalam.

“Oh, ternyata kau sudah datang. Apa Seunghyun sudah menjelaskan apa saja pekerjaanmu?” Tanya Yunho.

“Seunghyun Sunbae sedang menjelaskannya kepadaku.” Jawab Junho.

“Baiklah kalau begitu. Selamat datang dan selamat bekerja!” Ucap Yunho.

***

Siang ini Jaejoong mengantarkan makan siang untuk Yunho seperti biasanya. Biasanya ia akan menanyakan suaminya terlebih dahulu kepada Seunghyun. Akan tetapi, kali ini ia tidak menemukan Seunghyun di mejanya, tetapi orang lain di sebelah meja Seunghyun. “Selamat siang!”

Merasa ada seseorang yang menyapanya, Junho mendongakkan kepalanya untuk melihat orang tersebut. “Jaejoongie!”

Jaejoong merasa terkejut melihat seseorang di depannya. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan bertemu lagi dengan orang tersebut. “Jun.”

Seunghyun baru saja kembali dari kamar kecil. Ia melihat Jaejoong sudah datang dan mengobrol dengan Junho. “Jaejoong-sshi, Anda sudah datang.”

Suara Seunghyun menyadarkan Jaejoong dari keterkejutannya. “Oh, iya. Selamat siang, Seunghyun-sshi!”

“Selamat siang!” Balas Seunghyun. “Tuan Jung ada di dalam. Sepertinya ia sudah menunggu kedatangan Anda.”

“Baiklah kalau begitu. Aku akan masuk.” Jaejoong pun masuk ke ruangan Yunho dengan terburu-buru, meninggalkan Seunghyun dan Junho.

Setelah Jaejoong masuk ke ruang kerja Yunho, Junho bertanya kepada Seunghyun. “Sunbae, dia siapa?”

“Dia adalah Kim Jaejoong, istri dari Tuan Jung.” Jawab Seunghyun.

Junho terkejut mendengar jawaban Seunghyun. “Oh~ Aku tidak tahu kalau istri Tuan Jung adalah seorang pria.”

“Walaupun ia seorang pria, tapi ia bisa hamil dan melahirkan.” Seunghyun memberitahu Junho.

“Oh, benarkah?” Lagi-lagi Junho dibuat terkejut. ‘Jadi benar bahwa Jaejoong bisa hamil.’

***

Sekarang Jaejoong berada di ruang kerja Yunho sedang menikmati makan siang bersama. “Yun, tadi aku menemukan orang lain bersama Seunghyun. Siapa dia?”

“Oh, dia asisten baruku. Dia mulai bekerja hari ini.” Jawab Yunho.

“Siapa namanya?” Tanya Jaejoong lagi.

“Namanya Kim Junho. Dia baru kembali dari Jepang.” Jawab Yunho lagi.

“Oh~” Sebenarnya Jaejoong sudah mengetahui nama pria tersebut. Ia hanya ingin memastikan.

Yunho tiba-tiba menghentikan kegiatan makannya. “Ngomong-ngomong, namanya mirip dengan Jun-chan ya.”

“Uhuk… uhuk…” Jaejoong tersedak mendengar perkataan Yunho.

Yunho dengan sigap memberikan air minum untuk Jaejoong dan menepuk-nepuk punggungnya. “Hati-hati!”

***

Jaejoong merasa galau. Kemunculan pria di masa lalunya tersebut sangat tak disangka-sangka. Ia ragu apakah harus memberi tahu Yunho atau tidak. Pria tersebut adalah asisten suaminya sekarang. Itu artinya ia akan sering bertemu dengan pria tersebut. Ia benar-benar bingung.

“Jae, kau terlihat gelisah. Apa kau ada masalah?” Yunho merasa istrinya terlihat aneh.

“Tidak apa-apa.” Jaejoong berusaha untuk bersikap senormal mungkin.

Yunho mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong. “Jangan-jangan kau ingin itu, ya?”

Jaejoong tidak bisa menangkap maksud perkataan suaminya. “Ingin apa?”

“Kau sedang ingin bercinta denganku, kan?” Yunho mulai menjilati wajah istrinya. “Kalau kau sedang ingin, katakan saja! Tidak usah malu-malu.”

“Tidak, bukan begitu.” Jaejoong merasa tidak enak untuk menolak Yunho yang sepertinya sudah mulai bergairah. Akan tetapi, saat ini pikirannya sedang memikirkan pria lain.

***

Hari-hari berikutnya Jaejoong berusaha untuk mengindari berbicara langsung dengan Junho. Ia mengintip terlebih dahulu di balik dinding apakah Seunghyun ada di mejanya atau tidak. Setelah yakin Seunghyun ada di mejanya, ia langsung berbicara dengan Seunghyun dan tidak menghiraukan Junho.

Sekarang Jaejoong sedang di perjalanan pulang sehabis dari kantor Yunho. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Nomor telepon asing muncul di layar ponselnya. “Halo!”

“Jaejoongie!” Sapa seseorang yang menelepon Jaejoong.

Merasa mengenali suara tersebut, Jaejoong refleks menutup teleponnya. ‘Mau apa dia meneleponku?’ Wajahnya berubah pucat sekarang.

Beberapa saat kemudian ponsel Jaejoong bordering kembali, masih panggilan dari orang yang sama. Ia ragu untuk mengangkat teleponnya. Namun, jika ia tidak mengangkatnya, orang tersebut pasti akan terus meneleponnya. “Halo!”

“Jaejoongie, kumohon jangan menutup teleponnya!” Sahut orang di seberang sana.

Jaejoong mencoba untuk tenang. “Ada apa kau meneleponku?”

“Bisakah kita berbicara?” Orang tersebut memohon.

“Dengar, Jun! Kita sekarang tidak ada urusan apa-apa. Kumohon kau tidak menggangguku dan berpura-pura tidak pernah mengenalku sebelumnya!” Jaejoong menegaskan. “Aku adalah istri bosmu. Kuharap kau menghormatiku seperti kau menghormati suamiku.”

“Tentu saja kita masih punya urusan.” Balas Junho. “Seunghyun Sunbae menceritakan tentang dirimu kepadaku. Kau menikah dengan Tuan Jung beberapa bulan yang lalu. Apakah anakmu yang bernama Junsu itu adalah anakku?”

Jaejoong langsung membeku mendengar ucapan Junho. Inilah hal yang ia takutkan, yaitu Junho mengetahui bahwa Junsu adalah anaknya. Ia sangat ketakutan sekarang.

“Bisakah kau temui aku sekarang?” Lanjut Junho.

“Apa yang kau inginkan dariku?” Tanya Jaejoong.

“Aku hanya ingin meluruskan urusan di antara kita.” Jawab Junho.

“Bukankah seharusnya kau sedang bekerja?” Jaejoong berusaha untuk menghindar.

“Aku sudah meminta izin. Aku mengatakan bahwa aku ada urusan penting. Hanya sekarang lah kesempatan kita untuk berbicara tanpa diketahui oleh suamimu.” Junho menjelaskan.

“Baiklah.” Jawab Jaejoong. Ia menyuruh sopirnya untuk menurunkannya di halte bis terdekat. Ia mengatakan bahwa ia ingin berbelanja terlebih dahulu. Ia tak ingin membuat sopirnya kebosanan menungguinya berbelanja. Ia akan menelepon sopirnya untuk menjemputnya jika ia sudah selesai berbelanja.

***

Jaejoong memasuki sebuah kafe di mana ia akan bertemu dengan Junho. Ia melihat Junho sudah berada di sana dan menghampiri pria tersebut. Ia pun langsung duduk di hadapan pria tersebut. “Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan denganku!”

“Santai, Jaejoongie! Sebaiknya kau memesan minuman terlebih dahulu.” Balas Junho.

“Aku sedang tidak ingin meminum apa pun.” Jaejoong terlihat kacau. “Sebaiknya kau cepat bicara. Aku tak punya banyak waktu. Anak-anakku pasti sekarang sudah sampai di rumah.”

“Ngomong-ngomong tentang anak-anak, Junsu adalah anakku, kan?” Tanya Junho pada intinya.

Jaejoong tidak tahu harus berkata jujur atau tidak. Ia takut.

“Jaejoongie, kau terlihat sangat tegang. Apa aku terlihat begitu menakutkan?” Tanya Junho santai.

Jaejoong rasanya ingin marah kepada pria di hadapannya tersebut. “Berhenti memanggilku seperti itu! Aku adalah istri bosmu. Ingat itu!”

“Baiklah Ny. Jung!” Sepertinya emosi Junho mulai terpancing. “Tolong jawab sejujurnya! Apakah Junsu adalah anakku?”

“Kau tidak akan pernah bisa menyentuhnya. Jangan harap kau bisa menemuinya!” Jaejoong terisak. Ia sedih sekaligus marah.

“Jadi benar bahwa dia adalah anakku.” Ucap Junho lemah.

Jaejoong semakin terisak. “Kau tak akan pernah bisa menjadi ayahnya. Dia adalah anak yang kau tolak dahulu.”

Junho mencoba menyentuh bahu Jaejoong yang bergetar. “Maafkan aku! Aku tidak bermaksud meninggalkanmu saat itu.”

Jaejoong menatap Junho tajam. “Kau bahkan tidak percaya bahwa aku mengandung anakmu.”

Junho merasa frustasi. Ia tampak menyesal. “Bagaimana aku bisa percaya? Kau adalah seorang pria.”

“Tetapi kenyataannya aku bisa hamil.” Balas Jaejoong. “Kau bahkan menuduhku bahwa aku menjebakmu dan berusaha menghancurkan masa depanmu.”

“Coba pikir baik-baik, Jaejoongie, maksudku Ny. Jung! Siapa yang akan percaya bahwa saat itu kau sedang hamil? Wajar jika aku dan keluargaku berpikir negatif terhadapmu. Saat itu aku baru saja lulus SMA dan bermaksud melanjutkan pendidikanku di Jepang. Kami berpikir bahwa kau menggunakan alasan kehamilanmu untuk mencegah kepergianku dan membuatku menikahimu.” Junho menjelaskan kepada Jaejoong. “Jika aku tahu bahwa kau benar-benar hamil, aku tidak akan mungkin meninggalkanmu.”

“Penyesalanmu sekarang tidak ada gunanya. Kau tidak merasakan bagaimana sulitnya diriku setelah kau meninggalkanku. Keluargaku mengusirku dan aku hanya sendirian saat aku melahirkan dan membesarkan anakku.” Air mata Jaejoong mengalir kembali saat ia mengingat masa sulitnya. “Sekarang aku sudah berbahagia dengan Yunho. Luharap kau tidak menggangguku lagi dan juga Jun-chan.”

“Jun-chan?” Junho tiba-tiba tersenyum. “Kau bahkan memanggilnya dengan panggilan yang sama untukku. Apa itu artinya kau masih mencintaiku?”

Jaejoong tertawa meremehkan. “Suamiku lebih tampan dan lebih hebat darimu. Ia juga adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Untuk apa aku masih mencintaimu?”

“Benarkah?” Junho tersenyum miris. “Aku tahu aku tak sebanding dengannya, tetapi aku adalah cinta pertamamu. Akulah yang mengajarkanmu tentang cinta.”

“Kau memang cinta pertamaku, tetapi kini itu tak ada artinya lagi. Aku bisa mendapatkan cinta Yunho jauh lebih banyak daripada cinta darimu.” Balas Junho.

“Benarkah?” Junho tertawa. “Bagus kalau begitu. Kudengar ia adalah tipe pria yang sangat mencintai pekerjaannya dibandingkan keluarganya.”

Jaejoong semakin kesal. “Sedikit demi sedikit dia mulai berubah.”

“Okay okay, aku percaya.” Junho tidak suka Jaejoong terus mamuji Yunho. “Kudengar ia menambah asistennya karena ia ingin lebih memerhatikan keluarganya. Kuakui ia memang hebat. Ia hebat dalam berbisnis dan ia juga mau berubah demi keluarganya. Lalu bagaimana denganmu? Apakah cintamu kepadanya lebih besar daripada cintamu kepadaku dulu?”

Jaejoong mulai bingung. “Tentu saja. Dia adalah pria yang sangat sempurna. Tidak ada bagian dari dirinya yang membuatku tak mencintainya.”

Junho menghela nafas. “Sepertinya tidak ada harapan lagi untukku.”

“Apa maksudmu?” Jaejoong mengernyitkan dahinya.

“Kau tahu?” Junho menatap Jaejoong. “Aku sempat berpikir bahwa kau sama sekali tak mencintainya. Aku berpikir bahwa kau menikah dengannya hanya  karena kau menginginkan kehidupan yang lebih baik.”

Ucapan Junho menusuk hati Jaejoong. Apa yang dikatakannya memang benar. “Kalau begitu kau salah besar karena aku sangat mencintainya.”

“Baiklah kalau begitu. Aku tak bisa mengharapkan dirimu untuk kembali kepadaku.” Ujar Junho lesu. “Selama ini aku masih terus memikirkanmu. Sejujurnya aku sangat merindukanmu. Namun, aku juga kecewa karena aku pikir bahwa kau bermaksud menipuku dengan mengatakan bahwa kau mengandung anakku.”

Jaejoong sama sekali tidak menyangka bahwa Junho masih memiliki perasaan terhadap dirinya. ‘Tahukah kau bahwa aku pun masih sering memikirkanmu?’

“Bagaimana dengan Jun-chan? Apa kau menceritakan tentang diriku kepadanya?” Tanya Junho cemas.

Jaejoong menggeleng. “Aku tak pernah memberitahunya. Aku takut ia akan semakin membencimu jika ia tahu siapa ayah kandungnya. Ia pun tak pernah menanyakan siapa dirimu. Ia anak yang sangat pengertian.”

“Jaejoongie~ Maaf, maksudku Ny. Jung! Bolehkah aku bertemu dengannya?” Junho menggenggam tangan Jaejoong. “Bagaimana pun aku adalah ayahnya. Aku ingin menebus kesalahanku dengan menyayanginya. Biarkan aku menemuinya sekali saja! Soal dia membenciku atau tidak, biar dia sendiri yang memutuskannya. Jika ia tak menginginkan kehadiranku, aku tak akan memaksanya. Aku akan pergi dari kehidupan kalian.”

Jaejoong merasa sedikit iba kepada Junho. “Beri aku waktu untuk memikirkannya!”

***

Jaejoong merasa semakin bingung. Ia ingin memberi kesempatan kepada Junho untuk memperbaiki kesalahannya. Pria tersebut meninggalkannya hanya karena sebuah kesalahpahaman. Namun, ia tak tahu bagaimana harus memberitahu Junsu dan Yunho. Ia sangat menghormati Yunho dan tidak ingin melukai perasaannya. Ia takut Yunho akan marah dan kehidupan berrumah tangga yang selama ini ia idam-idamkan akan hancur.

“Jae, kau melamun?” Ny. Jung akhirnya bertanya setelah dari tadi ia memerhatikan menantunya tersebut.

“Eh?” Jaejoong tersadar dari lamunannya.

“Kalau kau ada masalah, cerita saja kepada umma. Jangan memendamnya sendirian!” Ujar Ny. Jung kepada Jaejoong.  “Apa kau bertengkar dengan Yunho?”

“Tidak. Umma tidak usah khawatir. Kami baik-baik saja.” Jawab Jaejoong. Ia berusaha tersenyum di hadapan ibu mertuanya.

“Kau bisa mempercayaiku. Mungkin saja aku bisa membantumu. Bagaimana pun aku sudah hidup lebih lama darimu.” Kata Ny. Jung lagi.

Jaejoong berpikir mungkin ia bisa menceritakan masalahnya kepada ibu mertuanya. Ia pun memutuskan untuk bercerita. Pada awalnya, ia takut untuk bercerita. Ia takut mertuanya tersebut marah. “Jadi, bagaimana menurut Umma?”

Ny. Jung menghela nafas. “Sebaiknya kau diskusikan masalah ini dengan Yunho. Dia adalah suamimu sekarang. Dalam sebuah pernikahan, tidak baik ada rahasia dia antara suami istri. Akan lebih baik jika ia mengetahuinya dari mulutmu sendiri daripada ia mengetahuinya dari orang lain.”

“Bagaimana jika ia marah?” Jaejoong khawatir.

“Itu adalah risikonya, tetapi itu lebih baik. Ia akan lebih marah lagi jika ia tahu bahwa kau merahasiakan hal tersebut darinya.” Ny. Jung menasihati Jaejoong.

Umma, apakah ia pernah bertengkar hebat dengan Soojin?” Jaejoong bertanya kepada Ny. Jung.

“Tidak pernah. Mereka tidak pernah bertengkar. Anakku adalah orang yang sangat cuek dan tidak perhatian kepada istrinya, sedangkan Soojin adalah tipe istri yang tidak suka menuntut. Jadi, tidak pernah ada pertengkaran di antara mereka, walaupun sebenarnya aku tahu bahwa Soojin sangat menderita.” Ny. Jung bercerita. “Sebenarnya anakku adalah orang yang sangat baik. Ia tidak pernah bermaksud untuk menyakiti orang lain. Kalau pun ia memarahi Chunnie, itu karena ia sangat menyayangi anaknya tersebut.”

Jaejoong sedikit merasa lega setelah mendengar cerita ibu mertuanya. Ia sedikit memiliki keberanian untuk berterus terang kepada Yunho.

“Aku sarankan kau memberitahunya saat moodnya sedang bagus.” Saran Ny. Jung. “Kau tahu kan bagaimana membuat moodnya menjadi bagus?”

***

Jaejoong berdandan sangat cantik malam ini. Ia mengumpulkan segenap keberaniannya karena malam ini ia bermaksud untuk berterus terang kepada Yunho. Suaminya tersebut sedang mandi dan mungkin sebentar lagi akan keluar.

Yunho keluar dari kamar mandi. Ia memakai celana panjang dan kaus oblong.

“Kau sudah selesai?” Jaejoong tersenyum manis kepada suaminya. “Apa kau akan lembur lagi malam ini?”

“Sepertinya begitu.” Jawab Yunho.

“Apa kau benar-benar sibuk dan tak punya waktu malam ini untukku?” Jaejoong mendekati suaminya.

“Sebenarnya aku tidak terlalu sibuk. Hanya saja aku tidak terbiasa tidur cepat. Jadi, lebih baik aku bekerja saja.” Jawab Yunho.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kau menghabiskan malam bersamaku?” Jaejoong memberanikan diri untuk menggoda suaminya. Selama ini ia tidak pernah berani berbuat begitu.

Yunho merasa sedikit heran. Tidak biasanya Jaejoong segenit itu. Namun, di lain pihak ia merasa sangat senang. “Baiklah. Aku tidak punya alasan untuk menolak.”

***

Jaejoong berusaha memberikan pelayanan yang terbaik untuk suaminya. Jika selama ini ia hanya menerima dan membiarkan Yunho yang beraksi, kali ini ia berbuat lebih. Ia menjadi lebih agresif malam ini.

“Jae, kau berbeda sekali malam ini. Setan apa yang merasukimu?” Yunho memeluk istrinya erat setelah mereka selesai bercinta.

Jaejoong mendongakkan kepalanya untuk memandang suaminya. “Apa kau tidak suka?”

“Oh, tentu saja aku suka sekali.” Jawab Yunho bersemangat. “Hanya saja kau tidak seperti itu biasanya.”

“Aku senang kalau kau menyukainya.” Jaejoong kembali menyandarkan kepalanya di dada Yunho. “Yun, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan.”

“Apa itu?” Yunho memandang Jaejoong dengan penuh rasa penasaran.

“Yun, aku bertemu kembali dengan ayah kandung Junsu.” Jaejoong membuka pembicaraan.

Yunho merasa seperti tersambar petir. Tiba-tiba saja ia merasa takut. Ia takut Jaejoong dan Junsu akan pergi meninggalkannya. Beberapa bulan ini ia sudah terbiasa dengan kehadiran Jaejoong dan Junsu dalam kehidupannya, walaupun hubungannya dengan Junsu tak bisa dikatakan baik.

Karena Yunho tidak berkomentar apa-apa, Jaejoong mulai khawatir. “Yun, apa kau marah?”

Yunho memaksakan senyum di wajahnya. “Kenapa aku harus marah?”

Jaejoong kemudian menceritakan kepada Yunho bahwa pria tersebut adalah Junho, asisten baru Yunho. Ia pun menceritakan mengenai pembicaraannya dengan Junho saat mereka berdua bertemu di sebuah kafe.

Yunho benar-benar terkejut mengetahui bahwa asisten barunya adalah ayah kandung Junsu. Ia sedikit menyesal telah merekrut asisten baru. Hatinya benar-benar panas.

“Yun, apakah aku harus memberi tahu Jun-chan?” Jaejoong meminta saran suaminya. “Kau tidak marah kan?”

Yunho berusaha untuk tetap bersikap tenang. Ia tiba-tiba teringat percakapan dengan Junsu saat mereka sedang memasak di dapur. Saat itu Junsu mengatakan bahwa ia sangat membenci ayah kandungnya. Jadi, seharusnya ia tak perlu khawatir. Akan tetapi, bagaimana jika hati Junsu melunak setelah mereka bertemu dan lebih memilih ayah kandungnya daripada dirinya?

“Yun, apa kau mendengarkanku?” Jaejoong tidak mendapatkan jawaban dari suaminya.

“Maaf, aku sedang berpikir.” Yunho berusaha tersenyum. “Menurutku Jun-chan sudah besar. Ia bahkan lebih dewasa daripada umurnya. Kehidupannya yang sulit membuat ia menjadi dewasa sebelum waktunya, berbeda sekali dengan si jidat lebarku itu. Kupikir ia berhak mengetahui siapa ayah kandungnya. Biarkan ia memutuskan apakah ia mau menemuinya atau tidak!”

Jaejoong merasa lega. Ternyata suaminya adalah orang yang sangat bijaksana. Semua kekhawatirannya sirna seketika. “Yun, terima kasih!” Ia memeluk Yunho dengan erat.

***

Yunho tidak bisa tidur. Di sampingnya Jaejoong sudah tidur dengan pulas. Ia merasakan gemuruh di dadanya. Apakah ia cemburu? Ia benar-benar takut Junho akan mengambil kembali Jaejoong dan Junsu. Namun, ia tidak boleh egois. Jika Jaejoong dan Junsu memang lebih memilih pria tersebut, mau tidak mau ia harus merelakan mereka pergi. Pernikahannya dengan Jaejoong bukan berdasarkan cinta. Jadi, mungkin saja Jaejoong masih mencintai pria tersebut. Ia pun menyadari bahwa sikap manis Jaejoong kepada dirinya selama ini hanyalah semata-mata karena kewajibannya sebagai seorang istri. Ia benar-benar sadar akan hal tersebut. Namun, mengapa ia merasa sangat sedih saat ini?

***

Saat ini Jaejoong sudah berada di hadapan Junsu. Ia bermaksud memberi tahu putranya mengenai ayah kandungnya. Di sebelahnya ada Yunho yang menggenggam tangannya erat untuk memberikannya dukungan moral.

“Ada apa Umma tiba-tiba ingin berbicara denganku?” Tanya Junsu heran. “Terlebih lagi ahjusshi jelek ini juga ada di sini. Jangan-jangan kalian ingin memberitahuku bahwa aku akan punya adik.”

“Sebenarnya kami ingin sekali mengabarkanmu bahwa kau akan punya adik.” Celetuk Yunho.

“Jadi benar kau telah menghamili umma-ku?” Junsu berteriak.

“Sayang sekali bukan itu yang ingin ibumu bicarakan.” Jawab Yunho. “Ada hal penting lain yang ingin ia beritahukan kepadamu.”

Junsu menatap ibunya dengan serius. “Apa yang ingin umma beritahukan kepadaku?”

Jaejoong menarik nafas dalam-dalam sebelum mulai berbicara. “Jun-chan, apa kau ingin bertemu dengan ayah kandungmu?”

Emosi Junsu tiba-tiba naik. “Kenapa tiba-tiba umma membicarakan orang itu?”

Umma bertemu dengannya dan ia mengatakan bahwa ia ingin bertemu denganmu.” Jaejoong memberi tahu putranya.

“Untuk apa?” Junsu berteriak. “Setelah apa yang ia perbuat kepada kita, untuk apa ia ingin menemuiku?”

“Jun-chan, tenangkan dirimu! Kau jangan marah-marah kepada ibumu!” Yunho berusaha menenangkan Junsu.

“Kenapa umma mau berbicara dengannya?” Junsu membentak Jaejoong. “Sekarang umma sudah punya ahjusshi jelek, kenapa umma menemuinya?”

Jaejoong tak bisa menahan tangisnya. Selama ini Junsu tidak pernah berkata kasar kepada dirinya. “Maafkan umma!”

“Jae, jangan menangis!” Yunho sekarang memeluk Jaejoong untuk menenangkannya.

Junsu pun ikut menangis. “Maafkan aku! Aku tak bermaksud membentak umma.”

“Hey, ada apa ini? Apakah sekarang sedang diadakan lomba menangis?” Yunho mencoba untuk mencairkan suasana.

Junsu tiba-tiba berlari menuju kamarnya sambil menangis. Saat ini ia ingin menangis sepuasnya. Namun, di kamarnya ada Yoochun yang sedang berguling-guling di atas tempat tidur sambil bermain game.

“Hey, anak cengeng!” Yoochun menghampiri Junsu yang melesakkan kepalanya ke atas bantal. “Ada apa kau menangis? Apakah kau baru saja dimarahi oleh appa?”

Junsu tidak menghiraukan Yoochun. Ia menangis tersedu-sedu.

***

Setelah berhasil menenangkan Jaejoong, Yunho memutuskan untuk menyusul Junsu ke kamarnya. “Hey, jidat lebar! Bisa kau tinggalkan kami berdua?”

“Ada apa? Appa memarahinya ya?” Tanya Yoochun.

“Enak saja! Jangan main tuduh sembarangan! Mana mungkin aku berbuat demikian? Aku adalah orang tua yang sangat pengertian.” Balas Yunho.

“Perhatian katamu?” Yoochun mencibir.

“Chunnie, appa sedang tidak ingin main-main denganmu sekarang. Sebaiknya kau bermain saja di ruang bermain.” Yunho menatap Yoochun dengan wajah seriusnya. “Kalau kau jadi anak baik, appa akan mengajakmu pergi bertamasya kapan-kapan.”

“Kapan-kapan?” Yoochun mencibir lagi. “Kapan-kapan itu kapan?”

“Kau ini susah sekali diberitahu ya!” Yunho mulai emosi. “Apa kau ingin benar-benar appa marahi?”

“Baiklah. Aku keluar.” Yoochun melangkah menuju pintu kamarnya. “Aku tidak ingin dimakan hidup-hidup oleh monster berwajah kecil seperi appa.” Yoochun menjulurkan lidahnya ke arah Yunho sebelum ia menutup pintu kamarnya.

“Dasar anak kurang ajar, Kau! Tidak sopan!” Yunho meneriaki Yoochun yang sudah melarikan diri ke ruang bermain. Kemudian ia beralih kepada Junsu yang masih menenggelamkan kepalanya di atas bantal. “Jun-chan. Apa kau tidur?”

“Ya, aku sedang tertidur pulas.” Jawab Junsu tanpa mengubah posisi tubuhnya.

Yunho tertawa kecil. “Kalau kau tertidur pulas, kenapa kau bisa menjawab pertanyaanku?”

Junsu tidak bergeming. Ia pura-pura tertidur.

“Jun-chan, kumohon kau jangan marah kepada ibumu! Ia tidak bermaksud untuk menemui pria itu.” Yunho memulai pembicaraan. “Kami pikir kau mungkin saja ingin bertemu dengannya.”

Junsu membalikkan badannya menghadap Yunho. “Ahjusshi payah!”

Yunho tersentak mendengar perkataan Junsu. “Payah katamu?”

“Kenapa ahjusshi membiarkan umma bertemu dengannya? Bagaimana kalau umma jatuh cinta lagi kepadanya? Apa ahjusshi tidak cemburu?” Junsu mengolok-olok Yunho.

Yunho hanya terdiam. Apa benar ia memang payah? “Kami hanya memikirkan yang terbaik untukmu.”

“Kalau aku dan umma ingin tinggal bersamanya sebagai sebuah keluarga bagaimana?” Tanya Junsu.

“Jika itu memang yang terbaik untuk kalian, kenapa tidak?” Yunho memaksakan senyuman di wajahnya, padahal hatinya terasa sangat sakit.

Ahjusshi tidak cemburu dan tidak akan mencegah kami?” Tanya Junsu lagi. Ia merasa tidak puas dengan jawaban Yunho sebelumnya.

Yunho menghela nafas. “Aku tidak bisa memaksakan kehendakku kepada siapa pun. Jika kalian hidup bahagia bersamanya, aku pun akan ikut berbahagia.” Sakit hatinya saat mengatakan hal ini.

Junsu benar-benar kecewa dengan jawaban Yunho. “Baiklah kalau begitu. Aku akan mencoba untuk menemuinya.”

Hancur hati Yunho saat Junsu berkata demikian. Diam-diam ia berharap Junsu menolak bertemu dengan Junho. Ia benar-benar merasa takut bahwa Jaejoong dan Junsu akan lebih memilih pria tersebut.

***

Sudah disepakati bahwa hari ini Junsu akan bertemu dengan Junho. Junho ingin menghabiskan hari minggu yang cerah ini dengan putra yang selama ini ia abaikan di taman bermain.

“Tumben sekali appa mengajak kami pergi ke taman bermain.” Yoochun menyindir ayahnya. Seluruh keluarga Jung memtuskan untuk pergi ke taman bermain juga. Saat Junsu bersama Junho nanti, mereka pun akan bersenang-senang di sana.

“Harusnya kau merasa senang, bukannya menyindirku seperti itu.” Balas Yunho.

Junsu sedari tadi hanya diam saja. Ia merasa sangat gugup sekarang. Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan kepada ayah kandungnya nanti. Terlalu banyak yang ia ingin katakan.

Jaejoong dapat membaca kegelisahan Junsu. “Apa kau baik-baik saja?” Ia membelai punggung putranya.

“Aku baik-baik saja.” Jawab Junsu lirih.

***

“Kita sudah sampai!” Yunho berusaha terlihat ceria, padahal ia pun merasa gugup. Ia harus mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan terburuk.

Junho yang sudah sampai terlebih dahulu menghampiri keluarga Jung. “Selamat siang semuanya!” Pandangannya tertuju kepada anak kecil yang mirip dengannya.

“Jun-chan, dia adalah Kim Junho. Kau bersenang-senanglah dengannya hari ini!” Yunho memperkenalkan Junho kepada Junsu.

Junsu diam saja. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.

“Chunnie, ayo kita pergi ke sebelah sana! Halmoni ingin naik wahana yang di sana.” Ny. Jung menarik lengan Yoochun untuk meninggalkan Yunho, Jaejoong, Junsu, dan Junho.

Junsu melirik sekilas ke arah ibunya, seakan-akan meminta persetujuan.

Jaejoong tersenyum dan mengangguk pelan, seolah-olah memberikan persetujuannya.

Junsu pun berjalan ke arah Junho dengan ragu-ragu.

“Aku akan menjaganya hari ini.” Ucap Junho kepada Yunho. “Terima kasih sudah mengizinkanku.”

“Jae, kalau kau ingin ikut bersama mereka, pergilah!” Yunho berkata kepada Jaejoong.

“Bolehkah?” Junho hanya meminta izin untuk bersama Junsu. Ia tidak menyangka bahwa bosnya tersebut akan mengizinkan Jaejoong ikut juga.

Jaejoong menatap Yunho dan Junho bergantian. Ia sedang menimbang-nimbang. Jujur saja, ia masih memiliki perasaan terhadap cinta pertamanya tersebut. Akan tetapi, ia tidak ingin menyakiti perasaan Yunho yang selama ini sangat baik kepadanya. Ia bersyukur bisa mendapatkan Yunho sebagai suaminya. Ia takut jika ia ikut dengan Junho hari ini, ia akan jatuh cinta lagi kepada pria tersebut. “Tidak, aku ingin bersamamu.” Ia meraih lengan Yunho.

Yunho sedikit terkejut saat Jaejoong memeluk lengannya erat. Hal itu benar-benar di luar dugaannya. Mungkin Jaejoong merasa tidak enak kepadanya. “Tidak apa-apa kalau kau ingin ikut mereka.” Yunho tersenyum kepada Jaejoong, mencoba meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja.

Jaejoong menggeleng. Ia semakin mengeratkan pelukannya di lengan Yunho. “Aku hanya ingin bersamamu.”

Junho, yang memang sejak awal sudah merasa kalah dalam hal memenangkan hati Jaejoong, hanya bisa pasrah. Ia dapat melihat bahwa Jaejoong tidak ingin berpisah dari Yunho. ‘Apakah kau benar-benar mencintainya dan sudah melupakan cintamu kepadaku?’

Yunho merasakan hangat di hatinya. “Baiklah kalau itu maumu.” Ia menoleh ke arah Junho. “Maaf, sepertinya kalian harus pergi tanpa Jaejoong.”

***

Yunho mengajak Jaejoong duduk di taman bunga yang berada di dalam taman bermain tersebut. “Jae, apa tidak apa-apa?”

Jaejoong memeluk pinggang Yunho dengan erat. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Yunho. “Apanya?”

Yunho menoleh ke arah istrinya. “Apa kau yakin tidak ikut bersama mereka?”

Jaejoong mendongak untuk memandang suaminya. “Apa kau tidak percaya bahwa aku benar-benar ingin bersamamu? Apa kau mengira aku berkata demikian hanya untuk menjaga perasaanmu?”

Yunho terdiam. Ia memandang istrinya dalam.

“Apa kau takut aku akan lebih memilihnya daripada dirimu?” Lanjut Jaejoong.

Yunho menunduk. Apa yang dikatakan Jaejoong memang benar. Ia merasa sangat takut.

“Kenapa kau malah ingin menyerahkanku kepadanya? Aku adalah milikmu. Aku sudah berikrar di hadapan Tuhan bahwa aku adalah milikmu selamanya.” Ucap Jaejoong.

“Jae, aku hanya ingin kalian bahagia. Aku tak ingin memaksamu untuk tetap berada di sisiku.” Balas Yunho.

“Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku tidak merasa terpaksa.” Ujar Jaejoong. “Aku bahagia bersamamu. Walaupun pernikahan kita tidak berdasarkan rasa cinta, aku serius untuk menjalaninya.”

“Kau tahu bahwa aku bukanlah suami yang baik.” Kata Yunho.

“Kita sudah berjanji untuk melalui semua rintangan bersama-sama. Menurutku kau sudah berusaha semampumu untuk menjadi suami yang baik bagiku dan ayah yang baik untuk anak-anak kita.” Jaejoong menjelaskan kepada Yunho. “Aku bisa melihat keseriusanmu untuk berubah menjadi lebih baik.”

“Jae, apa kau masih mencintai dia?” Tanya Yunho pada akhirnya.

Jaejoong tersenyum. “Apa kau cemburu?”

Yunho memalingkan wajahnya. Ia menjadi salah tingkah.

“Ia adalah masa laluku. Sebesar apa pun cintaku kepadanya dulu, sekarang tidak ada artinya lagi.” Jaejoong menarik wajah Yunho untuk kembali memandangnya. “Masa depanku adalah dirimu. Mungkin sekarang aku masih belum bisa mencintaimu sepenuhnya, tetapi aku yakin bahwa aku akan bisa mencintaimu jauh lebih besar dari cintaku kepadanya dulu. Aku hanya perlu sedikit waktu.” Ia memberanikan dirinya untuk mencium suaminya.

***

Junho mengajak Junsu menaiki beberapa wahana di taman bermain. Mereka tidak terlalu banyak bicara. Suasana di antara mereka sangat canggung. Setelah menaiki beberapa wahana, mereka merasa lelah. Junho pun mengajak Junsu untuk makan siang di sebuah restoran yang berada di dalam taman bermain.

“Bagaimana dengan sekolahmu?” Junho bertanya kepada Junsu saat mereka sedang makan siang.

“Baik.” Jawab Junsu singkat. Ia lebih memilih untuk fokus pada makanannya.

“Kalau sudah besar, kau ingin menjadi apa?” Tanya Junho lagi.

“Aku ingin menjadi pria yang bertanggung jawab yang akan melindungi keluargaku, terutama anak-anakku.” Jawab Junsu dengan kesal.

Junho mengerti bahwa Junsu sedang menyindirnya. “Maafkan aku karena telah menelantarkanmu selama ini!”

“Tidak usah minta maaf.” Jawab Junsu dengan tenangnya. “Mungkin aku harus berterima kasih kepadamu. Jika kau tidak meninggalkan kami, mungkin aku tak akan punya ayah sehebat Yunho Appa.”

Junho merasa hatinya tertusuk pisau. Putranya lebih memilih ayah tirinya daripada dirinya yang merupakan ayah kandungnya. Ia juga menyadari bahwa semua ini adalah salahnya sendiri. “Apa ia memperlakukanmu dengan baik.”

“Walaupun ia payah, aku tak bisa meminta ayah yang lebih baik daripada dia. Dia adalah ayah terbaik untukku. Ia selalu bersabar menghadapiku, walaupun aku selalu membuatnya kesal dengan tingkah lakuku.” Junsu menjelaskan. “Aku baru menyadari hal tersebut setelah aku bertemu denganmu. Ternyata ia berjuta-juta kali lipat lebih baik daripada dirimu.”

“Oh.” Junho tidak bisa berkomentar.

“Dan yang terpenting ia sangat baik kepada umma. Aku tidak pernah melihat umma sebahagia itu sebelumnya.” Lanjut Junsu. “Umma tidak pernah bersedih lagi setelah menikah dengannya. Jika umma bahagia, aku pun akan bahagia.”

“Apa kau tidak ingin memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku? Bagaimana pun aku adalah ayah kandungmu. Darahku mengalir di dalam tubuhmu.” Junho berusaha melunakkan hati Junsu.

“Yunho Appa pernah mengatakan kepadaku bahwa aku tidak boleh membencimu. Karena aku sangat menghormati dan mengaguminya, mungkin aku akan mencoba untuk memaafkanmu. Namun, rasanya aku tak bisa memberimu kesampatan kedua. Aku tak akan meninggalkannya dan memilihmu.” Balas Junsu.

“Baiklah kalau begitu.” Junho pun akhirnya menyerah. Ia mengakui bahwa ia kalah telak dari Yunho. “Bolehkah aku menemui lain kali?”

“Jika umma dan appa mengizinkan.” Jawab Junsu.

Ternyata di restoran itu juga keluarga Jung lainnya sedang menikmati makan siang mereka. Hanya saja letaknya berjauhan dengan Junho dan Junsu.

Appa, kenapa Appa terus melirik ke arah sana?” Yoochun merasa heran dengan kelakuan ayahnya.

“Diam Kau! Appa sedang melakukan pengintaian.” Yunho bahkan sampai memakai teropong untuk mengintai.

“Yun, kau ini memalukan sekali.” Komentar Ny. Jung.

“Aku hanya mengkhawatirkan Jun-chan.” Balas Yunho.

“Memangnya apa yang sedang appa lihat?” Yoochun memandang ke arah Yunho melihat. Ia melihat Junsu bersama orang yang tadi pagi mereka temui. “Dia siapa? Kenapa si pantat bebek malah bersamanya, bukan bersama kita?”

“Dia adalah ayah kandung Jun-chan.” Jaejoong menjawab pertanyaan Yoochun.

***

Menjelang sore hari Junho mengembalikan Junsu kepada keluarga Jung. “Yunho-sshi, terima kasih sudah mengizinkanku menghabiskan waktu bersama Jun-chan.”

“Ah, itu bukan masalah.” Balas Yunho. “Kalian pasti bersenang-senang kan?”

“Ya, kami bersenang-senang.” Jawab Junho sambil tersenyum. Ia pun segera berpamitan. “Aku mohon diri.”

Setelah kepergian Junho, Junsu langsung berlari dan memeluk pinggang Yunho sambil menangis. Hal tersebut membuat anggota keluarga yang lain terkejut. “Appa~

Yunho membalas pelukan Junsu. “Hey, kenapa kau menangis? Seharusnya kau merasa senang.”

“Jangan lagi menyerahkanku kepada orang lain! Aku tak ingin punya appa selain dirimu.” Junsu mengeratkan pelukannya di pinggang Yunho.

Yunho tersenyum. Akhirnya Junsu bisa menerimanya sebagai ayahnya. “Apakah itu artinya aku boleh menghamili ibumu?”

“Jika itu membuat umma bahagia, aku tidak bisa menolaknya.” Jawab Junsu.

Yoochun yang melihat pemandangan tersebut merasa iri. Kenapa ayahnya terlihat lebih memerhatikan Junsu daripada dirinya, padahal Junsu bukanlah anak kandungnya? Apa salah dirinya?

***

Keesokan paginya Junho menemui Yunho. “Yunho-sshi, aku ingin menyerahkan surat pengunduran diriku.”

Yunho mengernyitkan dahinya. “Kenapa? Apa karena masalah itu?”

“Aku memutuskan bahwa aku tak akan mengganggu hidup Jaejoong dan Junsu lagi. Mereka berdua jelas-jelas lebih memilihmu daripada diriku.” Jawab Junho. “Aku harus menerima kekalahanku dengan lapang dada.”

“Apa-apaan ini? Menang? Kalah? Aku sama sekali tidak merasa kita sedang bertanding atau semacamnya.” Yunho menaikkan nada bicaranya. “Lagipula, tidak seharusnya kita mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Aku merasa tidak ada masalah dengan pekerjaanmu. Pekerjaanmu cukup baik.”

Junho menundukkan kepalanya. Orang di hadapannya ini benar-benar profesional dan bijaksana. Tidak salah jika Jaejoong dan Junsu lebih memilih pria ini daripada dirinya.

“Walaupun Jaejoong dan Junsu lebih memilihku, bukan berarti kau tidak boleh menemui mereka.” Ujar Yunho lagi.

“Tapi aku merasa tidak enak. Aku tidak ingin mengganggu ketenangan keluarga Anda.” Balas Junho.

“Apa kau merasa terganggu dengan kehadiran Jaejoong setiap jam makan siang?” Yunho bertanya. “Aku bisa melarangnya untuk tidak datang lagi kemari. Kami bisa makan siang di tempat lain.”

“Apa tidak apa-apa seperti itu?” Tanya Junho.

“Tentu saja. Dia memang tidak seharusnya datang kemari, mengganggu saja.” Jawab Yunho.

“Terima kasih banyak, Yunho-sshi! Anda sangat baik. Setelah semua yang terjadi, kupikir Anda akan memecatku.” Ujar Junho jujur.

“Semoga kau mendapatkan orang yang tepat yang lebih baik daripada Jaejoong.” Yunho menghibur Junho.

“Baiklah, Yunho-sshi. Sebaiknya saya kembali bekerja sekarang.” Junho mohon diri dari ruang kerja Yunho.

TBC

Not a Perfect Family (Chapter 6)

Title: Not a Perfect Family

Author: alienacass

Genre: Family, drama, humor

Pairing: Yunjae

Rating: NC-17 (yang berbahaya hanya sedikit sekali dan berada di akhir, sisanya aman)

Length: 5/?

Disclaimer: TVXQ are not mine, but the story is mine.

Warning: Yaoi, mpreg

Characters: Kim Jaejoong (25), Jung Yunho (36), Yoochun (10), Junsu (8), dll

Summary:

Jung Yunho, duda beranak satu yang tampan dan kaya menikahi Kim Jaejoong yang juga merupakan single parent. Akankah mereka berhasil membangun keluarga yang sempurna?

Chapter 5

Chapter 6

“Bisakah kalian tidak ribut sebentar saja?” Ny. Jung memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing. “Ini sudah hari ketiga kita di Italia, tetapi halmoni sama sekali belum bisa merasakan liburan karena kalian terus saja bertengkar.”

Yoochun dan Junsu langsung terdiam saat merasakan aura kemarahan Ny. Jung. Sejak pergi meninggalkan Korea, Junsu terus saja merengek ingin pulang dan hal tersebut sangat mengganggu Yoochun. Akhirnya, pertengkaran dan perkelahian pun tak bisa dielakkan.

“Kau!” Ny. Jung menunjuk Yoochun. “Sebagai seorang kakak seharusnya kau menghibur adikmu, bukan membuatnya menangis.”

“Tanpa kuapa-apakan pun dia sudah menangis dengan sendirinya.” Yoochun membela diri. “Dasar anak mami!”

“Sudah sudah! Halmoni lelah. Halmoni mau pergi ke spa untuk merilekskan tubuh dan pikiran. Kalian benar-benar membuat halmoni pusing saja. Kalian berdua tunggu di kamar! Halmoni tidak akan lama. Jangan kemana-mana sampai halmoni kembali!” Ny. Jung bersiap-siap pergi ke spa yang ada di hotel tempat mereka menginap.

“Aku tidak mau ditinggal berdua saja dengannya.” Yoochun protes.

Ny. Jung mendelik. “Sebagai seorang kakak kau bertanggung jawab menjaga adikmu. Apa kau mau kuadukan kepada ayahmu?”

Yoochun bergidik saat membayangkan wajah ayahnya saat sedang marah. “Jangan!”

“Kalau begitu jaga Jun-chan baik-baik saat halmoni pergi!” Kata Ny. Jung tegas.

Halmoni, aku ikut~” Junsu memeluk pinggang Ny. Jung. Ia takut ditinggal berdua dengan Yoochun.

Ny. Jung melepaskan pelukan Junsu di pinggangnya. “Kau tinggal di sini saja dengan Chunnie Hyung. Halmoni tidak akan lama.”

“Aku tidak mau. Bagaimana kalau ia menjahatiku?” Rengek Junsu.

“Kalau ia berbuat jahat kepadamu, pukul saja dahinya yang lebar itu!” Jawab Ny. Jung. “Telepon halmoni kalau terjadi sesuatu!”

“Tapi…” Junsu menatap ketakutan ke arah Yoochun.

“Sudah ya! Halmoni harus pergi. Kalian baik-baik di sini! Jangan nakal! Kalau kalian berbuat onar, halmoni akan meninggalkan kalian pulang ke Korea.” Ancam Ny. Jung.

***

Setelah ditinggalkan Ny. Jung, kedua bocah Yoochun dan Junsu saling bertatapan. “Apa kau lihat-lihat?” Ketus Yoochun.

“Kau jangan berbuat macam-macam ya kepadaku!” Teriak Junsu.

“Aku malas berurusan denganmu. Lebih baik aku pergi berjalan-jalan ke luar saja.” Yoochun berjalan menuju pintu.

“Eh, tunggu!” Junsu menarik tangan Yoochun. “Bukankah halmoni berpesan agar kita tetap di sini?”

“Di sini ada kau. Aku malas berurusan denganmu.” Yoochun melanjutkan langkahnya keluar kamar.

“Tunggu!” Junsu mengejar Yoochun.

“Kenapa kau mengikutiku?” Yoochun mempercepat langkahnya untuk menghindari Junsu.

“Kau harus kembali. Kalau tidak, nanti halmoni akan memarahimu.” Junsu mencoba menyeimbangkan langkahnya dengan Yoochun.

“Aku tidak akan pergi jauh-jauh. Aku akan kembali sebelum halmoni datang.” Yoochun keluar meninggalkan lobi hotel.

“Kau mau pergi ke mana? Kupikir kau hanya akan berjalan-jalan di dalam hotel saja.” Junsu bertanya.

“Tidak ada yang bisa dilihat-lihat di dalam hotel. Aku ingin jalan-jalan melihat jalanan di Italia.” Jawab Yoochun santai sambil melanjutkan langkahnya.

“Bagaimana kalau kau tersesat? Memangnya kau hapal jalanan di sini?” Junsu mulai khawatir.

“Kalau tersesat, tinggal berbalik saja dan ikuti jalan yang sudah dilewati sebelumnya.” Jawab Yoochun. “Kalau kau takut tersesat, kembali saja sana! Untuk apa kau ikuti aku?”

“Aku tak bisa membiarkanmu sendirian. Aku takut kau diculik oleh penjahat.” Jawab Junsu polos.

“Hahahaha…” Yoochun tertawa. “Kau ini berlebihan. Memangnya siapa yang akan menculikku? Ayahku memang terkenal di Korea, tetapi aku tidak yakin si wajah kecil itu terkenal sampai ke Italia. Jadi, tidak ada untungnya mereka menculikku.”

“Bagaimana kalau kau diculik untuk dijual? Bisa saja kan?” Imajinasi Junsu sudah melebar kemana-mana.

“Di sini banyak orang. Kalau ada orang jahat, teriak saja. Kau ini paranoid.” Yoochun semakin melangkahkan kakinya meninggalkan hotel tempat mereka menginap.

Junsu berjalan di belakang Yoochun, mengikuti kakak tirinya tersebut. Ia benar-benar takut Yoochun tersesat atau diculik.

Yoochun melihat sebuah restoran Italia yang ramai dikunjungi oleh turis asing dari berbagai negara. Ia berpikir pasti para pelayan restoran di sana bisa berbahasa Inggris. Jadi, ia pun memutuskan untuk masuk ke restoran tersebut.

“Kenapa kita ke sini?” Junsu sedikit ketakutan melihat banyaknya orang asing yang bertubuh sangat tinggi.

“Aku mau makan pizza.” Yoochun menghampiri sebuah meja kosong di sudut restoran tersebut.

Junsu mengikuti Yoochun dan duduk berhadapan dengan kakak tirinya tersebut. “Memangnya kau punya uang untuk membeli pizza?”

“Tentu saja aku bawa. Bagaimana mungkin aku berani pergi ke luar tanpa membawa uang? Memangnya kau?” Kata Yoochun sinis.

“Selamat siang, adik-adik manis!” Seorang pelayan wanita dengan ramah menyapa Yoochun dan Junsu dengan bahasa Inggris. “Apa kalian hanya berdua? Di mana orang tua kalian?”

“Orang tua kami sedang berjalan-jalan di sekitar daerah ini. Karena kami lapar, mereka menyuruh kami kemari.” Jawab Yoochun dengan bahasa Inggris yang bisa dikatakan lumayan untuk anak seusianya.

“Oh, baiklah kalau begitu. Kalian ingin makan apa?” Pelayan wanita tersebut memberikan buku menu kepada Yoochun.

“Aku mau pizza yang ini.” Yoochun menunjuk sebuah gambar pizza di buku menu.

Pelayan tersebut mencatat pesanan Yoochun. “Ada lagi?”

“Aku juga mau gelato dengan rasa buah dan 2 gelas jus jeruk.” Yoochun menambah daftar pesanannya.

“Baiklah, adik manis. Tunggu sebentar! Pesanan kalian akan datang dalam beberapa menit.” Kemudian pelayan tersebut pergi.

“Apa yang baru saja kalian bicarakan?” Junsu sedari tadi hanya tercengang mendengarkan percakapan Yoochun dan sang pelayan wanita.

“Aku baru saja mengajaknya kencan.” Yoochun berbohong.

“Apa?” Junsu tidak menyangka Yoochun akan berbuat seperti itu.

“Tentu saja tidak. Aku baru saja memesan makanan.” Balas Yoochun.

“Apa kau memesankan makanan juga untukku?” Sepertinya Junsu mulai kelaparan.

“Untuk apa?” Yoochun terus saja bercanda untuk membuat Junsu kesal.

“Yah! Kau tega sekali. Aku juga lapar.” Junsu cemberut.

“Bukan urusanku.” Yoochun menjulurkan lidahnya.

“Aku akan mengadukanmu kepada halmoni.” Ancam Junsu.

“Lakukan saja! Aku tidak takut.” Balas Yoochun.

Junsu tidak tahu harus membalas apa lagi. Dia hanya cemberut dan menyilangkan lengannya di dada.

***

Pesanan Yoochun akhirnya datang. “Sepertinya enak sekali.”

“Kau memesankan minuman untukku?” Junsu tampak senang melihat ada dua gelas jus jeruk di atas meja.

“Siapa bilang?” Yoochun dengan lahap memakan pizzanya.

“Ada dua gelas jus jeruk di atas meja.” Junsu bermaksud meraih salah satu gelas berisi jus jeruk.

Yoochun menghalangi tangan Junsu yang hampir menyentuh gelas jus jeruk. “Dua-duanya untukku.”

Raut wajah Junsu berubah seketika. “Kau ini rakus dan pelit sekali. Kau memesan sebanyak ini, tetapi kau tak memesankan apa pun untukku.”

“Hahahaha…” Yoochun tertawa saat mulutnya penuh dengan pizza, sehingga ia tersedak. “Uhuk… uhuk…”

“Rasakan!” Sekarang giliran Junsu yang menertawakan Yoochun.

Yoochun segera minum jus jeruk di hadapannya. “Senang sekali kau melihatku menderita.”

“Itulah balasan untuk orang rakus dan pelit.” Ejek Junsu.

“Kau membuat nafsu makanku hilang.” Yoochun berhenti makan.

“Kalau begitu, boleh kan aku habiskan pizzanya?” Tanpa menunggu jawaban Yoochun, Junsu secepat kilat menyambar sepotong pizza.

“Ambil saja semuanya untukmu!” Yoochun memanggil pelayan dan membayar makanannya. Setelah itu, ia berdiri dari kursinya.

“Mau ke mana?” Junsu sedang asyik melahap pizza. “Aku masih belum selesai makan.”

“Aku ingin meneruskan acara jalan-jalanku.” Yoochun terus melangkah tanpa menghiraukan Junsu.

“Tunggu!” Junsu bergegas membungkus pizza yang tersisa dengan serbet dan kemudian mengejar Yoochun. “Jidat lebar, tunggu aku!”

Yoochun pura-pura tidak mendengar panggilan Junsu. “Lalalalalalalalalala…”

Dengan sekuat tenaga Junsu berlari untuk mengejar Yoochun. Nafasnya terengah-engah. “Apa kau tuli? Aku memanggilmu dari tadi.”

“Lalalalalalala…” Yoochun tetap tidak menghiraukan Junsu dan terus melangkah.

“Kurang ajar, kau!” Junsu memukul kepala Yoochun. “Kejam sekali kau tidak menghiraukanku.”

Yoochun mengusap kepalanya yang baru saja dipukul Junsu. “Hey, Kau! Bagaimana pun aku ini lebih tua darimu. Tidak sopan sekali kau memukul kepala orang yang lebih tua darimu.”

“Itu karena kau sangat menyebalkan.” Balas Junsu.

“Kau berisik sekali. Kalau kau ingin mengikutiku, jangan ribut!” Yoochun kembali melanjutkan langkahnya.

***

“Aduh, segarnya setelah perawatan di spa! Pikiranku terasa lebih tenang.” Ny. Jung baru saja keluar dari spa. “Bocah-bocah itu bagaimana kabarnya ya?” Ia kemudian mengecek ponsel, tidak ada kabar dari cucu-cucunya. “Sepertinya mereka baik-baik saja. Ah, sebaiknya aku pergi jalan-jalan dulu. Selama di sini aku belum sempat jalan-jalan karena terlalu sibuk mengurusi kedua bocah itu.”

***

“Wah, itu stadion Giuseppe Meazza! Hari ini akan ada pertandingan antara AC Milan dan Inter Milan. Ayo kita ke sana!” Junsu menarik tangan Yoochun dan berlari menuju stadion.

“Eh, aku mau dibawa kemana?” Tanya Yoochun.

“Ayo kita nonton pertandingannya! Pertandingannya akan segera dimulai.” Junsu memohon.

“Apa kau gila! Aku tidak mau!” Tolak Yoochun.

“Ayolah! Ini kesempatan yang sangat langka. Kapan lagi kita bisa menyaksikan derbi kota Milan secara langsung?” Junsu membujuk Yoochun.

“Aku sudah tidak punya uang untuk membeli tiket. Lagipula, tiket untuk pertandingan sebesar ini pasti sudah habis terjual.” Yoochun menjelaskan.

“Lalu bagaimana? Aku sangat ingin menonton pertandingan ini.” Junsu mulai merengek.

“Kau jangan mulai lagi ya! Atau aku akan meninggalkanmu di sini.” Ancam Yoochun.

Junsu terus menarik-narik tangan Yoochun menuju pintu masuk stadion. “Ayo kita masuk! Aku ingin menonton.”

“Kau gila! Kita tidak punya tiket masuk.” Yoochun berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Junsu.

“Kalau begitu kita menyusup saja.” Junsu memaksa.

“Kalau kau ingin menyusup, menyusup saja sana sendirian! Aku tidak ingin mendapatkan masalah gara-gara kau.” Yoochun terus berusaha melepaskan diri, tetapi saat Junsu punya keinginan keras, tenaganya cukup kuat juga.

“Kalian berdua, tunjukkan tiket kalian!” Seru penjaga pintu masuk stadion kepada Yoochun dan Junsu dalam bahasa Italia.

Junsu berbisik ke telinga Yoochun. “Apa yang ia katakan?”

“Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti bahasa Italia.” Balas Yoochun. “Tapi sepertinya ia meminta kita menunjukkan tiket masuk.”

“Bagaimana ini?” Junsu panik.

“Kalau begitu kita lari saja.” Dengan segera Yoochun menarik tangan Junsu masuk ke dalam stadion.

“Eh, tunggu kalian berdua!” Petugas penjaga pintu masuk tersebut berusaha mengejar Yoosu dan kemudian memanggil rekan-rekannya untuk membantunya mengejar kedua bocah tersebut. Namun, para supporter yang berada di sekitar pintu masuk membuat mereka kesulitan untuk menangkap kedua bocah tersebut yang dengan tubuh mungil mereka menyusup dengan leluasa di antara para supporter kedua kesebelasan.

***

“Aku bosan.” Jaejoong berguling-guling sendirian di atas sofa sambil memindah-mindah saluran televisi. “Kira-kira umma dan anak-anak sedang apa ya? Apa mereka sedang bersenang-senang? Apa mereka masih saja sering bertengkar? Walaupun mereka sering membuatku pusing dengan pertengkaran mereka, tetapi rumah ini terasa sepi saat mereka tidak ada. Aaaarghhh!!! Aku bingung akan melakukan apa sendirian di rumah sebesar ini. Semua pekerjaan rumah tangga sudah aku kerjakan. Bahkan aku sudah selesai mencabuti rumput liar di taman belakang. Yunho baru pulang paling cepat pukul sepuluh malam. Aku bosan.”

***

“Wah, pakaian-pakaian ini bagus sekali!” Ny. Jung terkesima melihat pakaian-pakaian yang dipajang di sebuah butik ternama di kota Milan. “Memang pantas jika kota Milan menjadi kota mode.” Ia mencoba beberapa pakaian tersebut. “Baju ini bagus sekali. Tapi apa aku pantas memakainya? Aku sudah tidak muda lagi.” Ia mematut dirinya di depan cermin. “Apa aku beli untuk Jaejoong saja ya? Ia masih muda dan cantik. Eh, tapi menantuku itu kan seorang pria.” Ia berpikir sejenak. “Ah, tidak apa-apa. Aku beli saja untuknya. Memakai gaun pengantin saja dia pantas.”

***

Yoosu sudah berhasil melarikan diri dari para petugas stadion. Mereka berbaur di antara penonton di tribun. “Aku lelah sekali!” Yoochun mengeluarkan inhaler dari saku celananya. Sepertinya asmanya kambuh karena berlari-lari.

“Kau kenapa?” Junsu mengkhawatirkan Yoochun yang terengah-engah sambil menggunakan inhaler.

“Asmaku kambuh.” Yoochun masih terengah-engah.

“Aku tidak tahu kalau kau punya penyakit asma.” Kata Junsu.

“Memangnya aku harus melapor kepadamu?” Yoochun kembali ketus setelah nafasnya mulai teratur.

“Kau sih tidak suka olahraga.” Junsu mencibir. “Aku jarang sakit karena aku rajin berolahraga.”

“Diam kau! Nikmati saja pertandingannya! Kita sudah repot-repot melarikan diri dari petugas stadion sampai asmaku kambuh.” Yoochun menyandarkan tubuhnya.

Pertandingan berlangsung sangat keras. Kedua kesebelasan tidak ingin kalah oleh rival sekotanya dan ingin menunjukkan tim mereka yang terkuat di kota Milan. Kerasnya pertandingan membuat beberapa pemain kehilangan kendali emosinya dan terjadilah perkelahian di antara beberapa pemain dari kedua kesebelasan.

Suasana di tengah lapangan yang memanas membuat para supporter kedua kesebelasan terpancing dan terjadilah keributan di antara supporter kedua kesebelasan. Suasana di tribun penonton pun ricuh. Para supporter saling mendorong satu sama lain.

“Aduh, bagaimana ini?” Junsu bersembunyi di bawah kursi penonton untuk menghindari kerusuhan.

“Ayo kita keluar dari sini!” Yoochun menarik Junsu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk melindungi kepalanya agar tidak terkena hajaran para supporter yang sedang mengamuk. Ia menuntun Junsu untuk menggapai pintu keluar stadion.

Akhirnya, kedua bocah tersebut berhasil keluar stadion dengan selamat. Akan tetapi, ternyata suasana di luar stadion tidak jauh berbeda dengan di dalam stadion. Para supporter yang berada di luar stadion pun rusuh.

“Sepertinya kita tidak bisa kembali ke jalan yang tadi kita lewati.” Kata Yoochun kepada Junsu.

“Jadi bagaimana kita akan kembali ke hotel?” Tanya Junsu. “Halmoni pasti mencari-cari kita.”

“Aku tidak tahu. Sebaiknya kita cari jalan lain yang lebih aman.” Yoochun menuntun Junsu untuk mencari jalan yang lebih aman dan menghindari kerusuhan.

***

“Anak-anak, halmoni kembali!” Ny. Jung membuka pintu kamar hotelnya. “Maaf karena halmoni pergi lama sekali.” Ia terkejut saat mendapati kamar hotelnya sangat sepi. “Eh, kenapa sepi sekali?” Ia kemudian memeriksa setiap sudut kamar hotelnya untuk mencari keberadaan cucu-cucunya. “Chunnie, Jun-chan, di mana kalian?”

***

“Ouch!” Jari Jaejoong teriris saat ia sedang memasak untuk makan malam. “Kenapa perasaanku tiba-tiba menjadi tidak enak begini? Apa terjadi hal buruk ke pada anak-anak? Ah, tidak mungkin. Anak-anak kan sedang berlibur. Mereka pasti sedang bersenang-senang. Jangan-jangan terjadi hal buruk kepada Yunho.” Ia pun segera menelepon suaminya tersebut.

“Jae, ada apa kau menelepon? Apa terjadi sesuatu di rumah?” Tanya Yunho khawatir. Tidak biasanya istrinya tersebut menelepon ke kantor. “Atau jangan-jangan kau merindukanku?”

“Err… Maaf kalau aku mengganggu pekerjaanmu. Kau sedang di mana sekarang? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Jaejoong. Perasaannya semakin merasa tidak enak.

“Aku ada di kantor sekarang. Memangnya kenapa?” Yunho heran dengan gelagat istrinya.

“Sepertinya aku mendapatkan firasat buruk. Aku takut hal buruk menimpamu.” Jaejoong menjelaskan kepada suaminya.

Yunho terkekeh. “Tenang, Jae! Aku baik-baik saja. Apa kau takut aku berselingkuh?”

“Bukan. Bukan begitu. Aku yakin bahwa kau bukan orang yang suka berselingkuh.” Jaejoong menjadi salah tingkah. “Aku lega kalau kau baik-baik saja di sana.”

“Ya sudah kalau begitu. Aku tutup teleponnya ya! Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku. Aku janji aku akan pulang secepatnya begitu pekerjaanku selesai.” Yunho tertawa tidak jelas setelah menutup teleponnya. Ia berpikir bahwa Jaejoong meneleponnya karena merindukannya. Hanya saja Jaejoong malu untuk mengakuinya.

Walaupun Jaejoong sudah mendapatkan kabar bahwa suaminya baik-baik saja, hatinya tetap merasa tidak tenang. Namun, ia sendiri tidak tahu mengapa demikian. Ia berdoa dalam hati agar suaminya baik-baik saja.

***

“Aduh, kemana anak-anak itu?” Ny. Jung sudah lelah berkeliling hotel untuk mencari kedua cucunya. Ia kemudian menghampiri resepsionis untuk menanyakan keberadaan cucunya. “Apakah Anda melihat kedua cucuku? Mereka berdua adalah anak laki-laki asal Korea. Yang satu berusia 10 tahun dan berdahi lebar, sedangkan yang satunya lagi berusia 8 tahun dengan pantat yang agak menggembung.”

“Oh, maafkan saya, Nyonya! Sepertinya saya tidak melihat cucu Anda yang ciri-cirinya Anda sebutkan.” Jawab resepsionis hotel.

“Lalu mereka pergi kemana?” Ny. Jung mulai panik. Ia berteriak kepada resepsionis tersebut. Ia menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar.

“Maafkan saya, Nyonya! Saya benar-benar tidak tahu.” Resepsionis tersebut berusaha menenangkan Ny. Jung.

“Nyonya, sepertinya tadi siang saya melihat kedua cucu Anda keluar dari hotel ini.” Seorang bell boy memberitahu Ny. Jung.

“Apa? Keluar hotel.” Ny. Jung semakin panik setelah mendengar pernyataan bell boy tersebut. “Lalu kenapa kau tidak menghentikan mereka?” Ny. Jung mencengkeram kerah bell boy tersebut.

“Sudah, Nyonya! Tenanglah!” Beberapa staff hotel berusaha menenangkan Ny. Jung.

“Bagaimana ini? Mereka masih sangat kecil dan tidak bisa berbahasa Italia. Bagaimana kalau mereka diculik oleh mafia?” Ny. Jung menangis.

“Tenangkan diri Anda, Nyonya! Sebaiknya kita melapor saja ke polisi.” Saran sang manajer hotel.

***

“Jae, kenapa kau tidak makan makananmu?” Yunho melihat istrinya hanya mengaduk-ngaduk makanan di piringnya.

“Aku tidak berselera makan.” Jawab Jaejoong lemah.

“Kau tampak murung malam ini. Apa kau sakit?” Yunho menyentuh dahi Jaejoong, tidak demam.

“Aku baik-baik saja.” Jaejoong tidak ingin membuat suaminya khawatir.

“Lalu kenapa kau tampak tidak bersemangat? Aku kan sudah pulang.” Khusus untuk hari ini Yunho pulang sangat cepat. “Kau menginginkanku, bukan?”

“Huh? Apa?” Jaejoong tidak memperhatikan Yunho bicara. Tiba-tiba saja Yunho menggendongnya dan membawanya ke kamar.

***

Hyung, kita dimana?” Junsu sudah lelah berjalan tanpa arah.

Yoochun menoleh ke arah Junsu. “Huh? Apa kau memanggilku?”

“Memangnya siapa lagi kalau bukan kau?” Junsu mulai merasa kesal.

“Kau memanggilku apa tadi?” Yoochun mulai menggoda adiknya.

“Memangnya aku memanggilmu apa?” Junsu tidak mengerti maksud pembicaraan Yoochun.

“Kau memanggilku ‘Hyung’.” Yoochun menyeringai.

“Memangnya kenapa kalau aku memanggilmu ‘Hyung’? Bukankah itu wajar karena kau lebih tua dariku dan kita sekarang satu keluarga.” Balas Junsu.

“Tumben sekali. Ini pertama kalinya kau memanggilku ‘Hyung’. Biasanya kau memanggilku ‘jidat lebar’.” Yoochun menjelaskan.

“Jadi kau tidak suka aku memanggilmu ‘Hyung’ dan lebih suka dipanggil ‘jidat lebar’, begitu?” Balas Junsu dengan galaknya.

“Bukan begitu. Hanya saja terdengar aneh karena tidak biasanya.” Yoochun kemudian melanjutkan perjalanannya. “Ayo, kita jalan lagi!”

“Aku lapar~” Rengek Junsu.

Yoochun menghentikan langkah kakinya. “Bukankah tadi kau sudah makan pizza di restoran?”

“Aku tidak sempat makan tadi karena kau buru-buru pergi.” Jawab Junsu. “Eh, tapi aku membungkus beberapa potong pizza.” Ia merogoh saku celananya dan menemukan bungkusan berisi potongan pizza yang sudah tak berbentuk.

“Bentuknya sudah aneh.” Yoochun merasa jijik.

“Kau mau?” Junsu menawari Yoochun.

“Tidak usah. Kau makan saja sendiri.” Tolak Yoochun.

Junsu kemudian melahap potongan pizza tersebut. “Hyung, berapa lama lagi kita akan sampai di hotel?”

“Aku tidak tahu.” Yoochun menghela nafas.

Junsu menghentikan kegiatan makannya. “Apa maksudmu, Hyung? Kenapa kau tidak tahu?”

“Bagaimana aku bisa tahu? AKu bahkan tidak tahu kita berada di mana.” Jawab Yoochun.

“Apa? Lalu kenapa kau tidak bertanya kepada orang?” Junsu marah.

“Bagaimana aku bertanya kepada orang? Aku tidak bisa berbahasa Italia!” Yoochun membentak Junsu.

“Lalu kenapa kau tidak menelepon halmoni?” Lanjut Junsu.

“Aku tidak tahu nomor teleponnya. Ia mengganti nomor ponselnya saat di Italia.” Jawab Yoochun.

Junsu mulai terisak. “Bagaimana kalau kita bertemu penjahat? Aku takut.”

Yoochun memeluk Junsu untuk menenangkan adiknya tersebut. “Maafkan aku karena telah membantakmu. Jangan menangis! Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungimu jika kita bertemu orang jahat.”

“Hiks… hiks…” Junsu mengusap air matanya. “Aku ingin pulang. Aku ingin bertemu umma.”

“Kita pasti akan pulang dan bertemu dengan appa dan umma. Jadi, jangan menangis! Ayo kita cari pos polisi terdekat!” Yoochun menggenggam tangan Junsu dan menuntunnya untuk mencari pos polisi.

***

Ny. Jung sekarang berada di kantor polisi. Ia berjalan mondar-mandir karena gelisah sambil menunggu kabar dari polisi yang sedang bekerja mencari kedua cucunya. “Bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan kepada Yunho dan Jaejoong? Yunho pasti murka dan Jaejoong pasti menangis saat mengetahui anak mereka hilang.” Setelah mengumpulkan keberaniannya, ia pun memutuskan untuk menelepon putranya di Korea sana.

Ring ring ring

“Aaahhh… Yun… ahhh… Ponselmu berbunyi.” Jaejoong memberitahu suaminya.

“Biarkan saja… Ahhh… Jae~” Yunho sedang sibuk mengerjai istrinya. “Siapa malam-malam begini menelepon? Mengganggu saja.”

“Aaaahhh… Mungkin asistenmu.” Jaejoong tidak berhenti mendesah. “Angkat saja dahulu. Siapa tahu itu adalah telepon penting.”

“Baiklah kalau begitu.” Dengan terpaksa Yunho menarik keluar penisnya dari lubang istrinya dan meraih ponselnya yang berada di meja samping tempat tidur. Ia melihat nomor asing di layar ponselnya. Namun, ia tidak memperhatikan kode negaranya. “Nomor tidak dikenal. Pasti tidak penting. Biarkan saja.” Ia mematikan ponselnya dan melemparnya ke atas bantal. Kemudian ia segera melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti bersama istrinya.

“Aduh, dasar anak bodoh! Kenapa teleponnya dimatikan?” Ny. Jung memaki-maki ponselnya.

***

Akhirnya, Yoochun dan Junsu berhasil menemukan pos polisi. Kebetulan, polisi di pos tersebut mengetahui kabar hilangnya dua anak laki-laki asal Korea dan melaporkannya ke kantor polisi di mana Ny. Jung melapor.

***

Halmoni!” Yoochun dan Junsu segera menghambur memeluk nenek mereka saat mereka baru saja tiba diantarkan oleh petugas polisi ke tempat Ny. Jung berada.

Ny. Jung menyambut pelukan kedua cucunya. “Cucuku, kemana saja kalian seharian ini? Halmoni mencari kalian kemana-mana.” Wanita tua tersebut tak sanggup membendung tangis bahagianya.

***

Ini adalah hari kelima sejak kepergian Ny. Jung dan kedua cucunya ke Italia. Yunho berpamitan kepada istrinya untuk pergi ke kantor. “Boojae, aku pergi dulu ya, Sayang! Tunggu aku nanti malam! Aku akan usahakan untuk pulang secepatnya.” Ia mencium istrinya di depan rumah. Ia tidak peduli jika ada orang yang lewat di depan rumahnya. Ia mencium istrinya sangat dalam dan bernafsu.

Ahjusshi jelek! Apa yang kau lakukan kepada umma-ku?”

TBC

Because of You (Chapter 6)

Title: Because of You

Genre: Drama,  romance

Pairing: Yunjae

Author: alienacass

Rating: PG-15

Length: 6/9 atau 10

Disclaimer: Yunjae are not mine, but the story is mine.

Warning: Yaoi

Characters: Jung Yunho (18), Kim Jaejoong (23), dll.

Summary:

Orang tua Yunho bercerai saat ia berusia 15 tahun. Ayahnya ternyata seorang gay dan memutuskan tinggal bersama kekasihnya yang bernama Kim Jaejoong, seorang model terkenal.

Ibu Yunho bunuh diri setelah diceraikan oleh ayahnya, sehingga sejak saat itu ia hidup sendiri. Meskipun demikian, biaya hidupnya masih ditanggung oleh ayahnya.

Tiga tahun kemudian, ayah Yunho meninggal dunia. Di dalam surat wasiatnya, ayah Yunho memintanya untuk menjaga kekasihnya, yaitu Kim Jaejoong. Bagaimana ia akan menghadapi Kim Jaejoong yang merupakan penyebab kehancuran keluarganya?

Chapter 5

Chapter 6

Kutatap matanya dalam, mulai berkaca-kaca. Aku berusaha menyelami perasaannya dengan memandang mata indahnya.

Beberapa detik kemudian ia mendorongku menjauh. “Tidak!” Tatapan matanya penuh kesedihan.

“Mengapa? Kau mencintaiku, bukan?” Aku mengharapkan ia menjawab ‘ya’.

“Kau gila, Jung Yunho! Ini caramu untuk membalas dendam kepadaku kan?” Air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.

“Tidak. Aku tahu bahwa kau sebenarnya bukan kekasih ayahku.” Kataku.

“Apa?” Ia mulai menaruh curiga. Dibukanya lemari pakaiannya. Ia mencari-cari sesuatu. Sepertinya ia tak menemukan apa yang dicarinya, kemudian ia kembali berbalik ke arahku. “Kau mengambil buku harianku.”

“Maafkan aku. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.” Aku merasa bersalah.

Ia menutup matanya dan mulai terisak. “Jadi, kau sudah mengetahui segalanya?” Ia pun membuka matanya dan kembali menatapku.

Aku hanya menggangguk, tidak berani berkata apa pun. Aku merasa sangat bersalah karena selama ini aku sudah menuduhnya dan terus menerus menyakitinya. Masih kuingat saat aku menamparnya, dua kali, dan saat aku memukulnya hingga hidungnya berdarah dan ia jatuh pingsan. Namun, itu belumlah seberapa. Kata-kataku lebih menyakiti hatinya.

Kudekati tubuh rapuhnya, membawanya ke dalam dekapanku. Kubiarkan ia menangis di dadaku. “Maafkan aku.”

Setelah dapat menenangkan dirinya, ia melepaskan pelukanku. “Tak seharusnya aku mencintaimu.”

“Mengapa?” Tanyaku. “Apa karena kita berdua sama-sama laki-laki? Kita bisa pergi dari negara ini dan menetap di negara yang melegalkan hubungan sesama jenis.”

“Kau tidak mengerti apa yang kau katakan. Kau hanya bingung setelah membaca pengakuanku. Kau tidak mencinataiku. Kau tidak boleh mencintaiku seperti itu!” Ia menegaskan kalimat terakhir.

“Aku memang tidak tahu apakah itu cinta. Aku juga belum pernah merasakan jatuh cinta kepada seseorang sebelumnya. Namun, aku juga merasakan apa yang kau rasakan terhadapku. Jantungku berdebar saat berhadapan denganmu. Dirimu selalu ada di pikiranku. Aku tak suka saat orang lain menyentuhmu. Apakah ini bukan cinta?” Kuguncangkan bahunya, mencari kepastian.

“Kau tidak boleh, Jung Yunho. Aku tidak layak kau cintai. Kau masih muda. Masa depan yang cerah terbentang di hadapanmu. Jangan kau hancurkan hanya karena kau mencintaiku!” Aku tak mengerti mengapa ia berkata seperti itu. Ia sangat memerdulikan masa depanku. “Kau adalah satu-satunya penerus keluarga Jung. Kau harus menikahi seorang wanita dan memiliki keturunan.”

“Tapi bukankah appa merestuimu untuk menikah denganku?” Kutatap matanya dengan penuh pengharapan.

“Jihoonie hanya main-main. Tentu saja ia tidak serius berkata seperti itu. Orang tua mana yang menginginkan anaknya menjadi seorang homoseksual?” Balasnya.

Ahjusshi-mu tidak keberatan dengan orientasi seksualmu. Walaupun ia bukan orang tua kandungmu, tetapi ia lah yang telah membesarkanmu, bukan? Jadi, bisa dikatakan bahwa ia adalah orang tuamu.” Aka tak ingin menyerah begitu saja untuk meyakinkannya. “Aku yakin. Orang tuaku pasti akan bahagia jika aku bahagia, apa pun pilihan hidupku.”

Ahjusshi?” Ia menatap heran ke arahku. “Apa kau tahu siapa aku?”

“Kau adalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan oleh seorang ahjusshi baik hati di Amerika.” Jawabku. “Siapa pun keluargamu, tidak akan berpengaruh terhadap perasaanku kepadamu.”

Ia terkekeh. Kemudian ia terdiam, tampaknya ia sedang berpikir. “Lalu, bagaimana dengan ibumu? Apa kau tidak ingin membalaskan dendam ibumu?”

Umma hanya salah paham. Ia dibutakan oleh api cemburu. Aku mengerti perasaannya. Aku pun merasa tidak suka saat Tiffany memelukmu.” Sepertinya ia masih berpikir bahwa aku hanya akan memanfaatkan perasaannya terhadapku untuk membalas dendam. “Ini tidak seharusnya terjadi. Andai saja kedua orang tuaku dapat membicarakannya baik-baik, mereka tidak akan bercerai dan ibuku tidak perlu bunuh diri.” Bayangan tentang ibuku membuat hatiku sakit. “Aku tidak lagi marah kepadamu karena itu bukan salahmu.” Kubelai pipi halusnya.

Ia tampak ragu-ragu pada awalnya. Namun, akhirnya ia memelukku. “Baiklah.” Ia kembali menangis. Aku tidak tahu mengapa. Mungkin ia bahagia karena cintanya kepadaku telah terbalaskan. Ia tak perlu menerima kebencianku lagi. Namun, aku merasa ada sesuatu hal yang tidak beres di sini. Ia menangis semakin keras di pelukanku dan aku yakin bahwa tangisnya bukanlah tangis kebahagiaan.

Kulepaskan pelukannya di tubuhku dan kutatap wajahnya, mencari sebuah jawaban. “Ada apa?”

Ia mengusap air matanya dengan tangannya dan memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. “Aku… bahagia, sangat bahagia. Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.” Aku tahu ia pasti menyembunyikan sesuatu dariku.

***

Sejak itu, hubungan kami berubah menjadi hubungan sepasang kekasih. Hubungan kami lebih seperti hubungan sepasang remaja yang baru jatuh cinta, sangat manis dan malu-malu.

Aku tak pernah mengeluarkan kata-kata kasar lagi kepadanya. Aku tak ingin menyakiti hati orang yang kucintai. Jika hatinya sakit, hatiku pun tersakiti. Aku ingin membahagiakannya, menggantikan semua kesedihannya selama ini menjadi kebahagiaan.

“Boojae, ayo sini aku suapi!” Kudekatkan sesendok makanan di depan mulutnya. Saat ini kami sedang makan malam berdua di rumah. Sebisa mungkin kami selalu menyempatkan untuk sarapan dan makan malam bersama di rumah jika kami tidak sibuk.

Pada awalnya para pelayan terheran-heran dengan hubungan kami yang berubah drastis, tetapi akhirnya mereka turut senang karena mereka tidak perlu lagi menghadapiku yang sedang marah atau mendengarkan teriakan kami saat bertengkar. Aku yakin selama ini mereke mendengar jika kami bertengkar. Akan tetapi, mereka tidak pernah ikut campur dalam urusan kami.

“Apa-apaan kau ini? Bagaimana jika ada yang melihat?” Ia melihat-lihat ke sekeliling, khawatir jika ada yang melihat kami. “Hubungan kita yang berubah drastis seperti ini saja sudah membuat mereka heran dan penasaran, apalagi jika mereka melihat kau menyuapiku. Mereka akan semakin curiga. Lagipula, panggilan apa itu? Aku tak suka.”

“Itu panggilan sayangku untukmu.” Aku berpura-pura marah karena ia tak suka panggilan sayang yang kuberikan. “Kau makan saja sendiri. Aku sudah kehilangan nafsu makanku.” Aku berdiri, hendak pergi.

Ia memegang pergelangan tanganku. “Kau mau ke mana? Habiskan dulu makananmu! Aku sudah susah payah membuatkannya spesial untukmu. Setidaknya hargai hasil karyaku. Lagipula, aku takut sakit maagmu kambuh.” Ia sangat peduli dengan penyakitku.

“Aku tidak menyuruhmu untuk memasak.” Ucapku ketus.

“Baiklah. Kau boleh memanggilku sesuka hatimu, tetapi hanya saat kita berdua saja. Akan terasa aneh jika orang lain mendengarnya.” Kali ini ia pun harus mengalah lagi. Dalam hubungan kami, ia lah yang selalu mengalah dalam menghadapiku yang keras kepala. Ia lebih dewasa dariku yang masih kekanak-kanakan ini. Kadang-kadang aku merasa tidak enak. Harusnya aku lah yang melindunginya, tetapi justru ia lah yang harus lebih banyak bersabar menghadapiku.

Sampai saat ini kami memang masih menyembunyikan status hubungan kami. Lingkungan di tempat kami tinggal memang masih memandang bahwa homoseksual adalah sesuatu hal yang tabu dan melanggar kodrat. Akan sangat riskan jika hubungan kami diketahui oleh masyarakat. Karir modeling yang sudah ia bangun akan hancur dengan seketika dan kami pun akan dikucilkan dari masyarakat. Orang-orang akan memandang kami dengan tatapan jijik. Bagiku tidak masalah asalkan aku bisa terus bersama-sama dengannya. Namun, ia pasti akan sedih jika hal itu terjadi dan aku tak ingin ia bersedih.

Para pelayan di rumahku sepertinya dengan mudah mengetahui hubungan kami. Perubahan sikap kami yang sangat drastis dalam waktu singkat pasti menimbulkan kecurigaan mereka. Tak jarang pula mereka melihatku keluar dari kamar Jaejoong pada pagi hari, atau sebaliknya mereka melihat Jaejoong keluar dari kamarku. Ya, kami sering tidur bersama, kadang-kadang di kamarku atau kadang-kadang di kamarnya. Tunggu dulu! Kalian jangan berpikiran yang tidak-tidak! Kami memang sering tidur bersama, yaitu tidur berdua di atas tempat tidur yang sama, memejamkan mata sambil berpelukan. Itu saja, tidak lebih.

***

“Selamat siang, Yunho-sshi!” Tak disangka-sangka Tiffany datang ke kelasku pada saat istirahat. “Apa kedatanganku mengganggu waktu istirahatmu?” Tanyanya dengan senyum manis di wajahnya.

“Tidak sama sekali.” Aku membalas senyumannya. Aku tidak ingin terlihat dingin lagi di mata semua orang.

“Er…” Tiffany menggigit bibir bahwanya, tampak ragu untuk mengatakan sesuatu.

“Ada apa? Katakanlah!” Apa aku masih terlihat sangat menakutkan di matanya?

“Aku membuatkanmu bekal.” Ia menaruh sebuah kotak makan siang di atas mejaku. “Aku sendiri yang membuatnya.” Ia tampak malu-malu dan wajahnya merona.

“Maafkan aku, Fany! Bukannya aku tidak mau menerimanya, tetapi aku juga membawa bekal dari rumah.” Kukeluarkan sebuah kotak makanan berwarna pink dan bergambar Hello Kitty dari dalam tasku. Setiap hari, kekasihku, Jaejoongie, membuatkan bekal untuk kubawa. Ia tidak ingin aku lupa makan atau makan sembarangan. Ia benar-benar mengkhawatirkan penyakit maagku. Jika aku lupa tidak memakan bekal buatannya, ia akan marah-marah, menasihatiku seperti seorang ibu menasihati anaknya. Umma saja tidak pernah seperhatian ini kepadaku.

Tiffany tampak kecewa dan sedih. “Baiklah kalau begitu.” Ia mengambil kembali kotak bekal yang dibawanya.

Aku benar-benar merasa tidak enak kepadanya. “Begini saja, karena kau sudah repot-repot membuatnya, bagaimana kalau kau berikan saja kepada Yoochun? Ia pasti akan senang menerimanya.”

“Baiklah.” Tiffany memaksakan senyuman di wajahnya. Itu membuatku benar-benar merasa bersalah, tetapi mau bagaimana lagi? Boojae sudah membuatkanku bekal dan aku harus memakannya. Jika aku juga harus memakan bekal pemberian Tiffany, rasanya aku tidak akan sanggup. Bekal yang dibuatkan Boojae saja sudah sangat banyak. Sepertinya ia ingin aku menjadi gemuk.

“Chun, kemarilah!” Aku memanggil Yoochun yang baru saja hendak keluar dari kelas.

Yoochun pun berbalik dan memandangku. “Ada apa? Aku sedang buru-buru ke kantin. Aku sudah kelaparan.” Sepertinya Yoochun ingin meninggalkanku berdua saja dengan Tiffany.

“Kebetulan sekali, Tiffany membawakan makanan.” Ujarku.

“Eh?” Yoochun pun mendekat ke arah kami. Ia memandang kotak bekal yang dibawa Tiffany. “Tapi ini pasti untukmu, kan?”

“Tidak apa-apa. Tiffany tidak keberatan jika kau memakannya. Benar kan, Fany?” Tiffany hanya mengangguk. “Lagipula, aku sudah membawa bekal sendiri.”

Yoochun bisa melihat kekecewaan di wajah Tiffany. Ia sebenarnya merasa tidak enak saat mengambil kotak bekal dari tangan Tiffany. “Kalau begitu, terima kasih banyak!”

“Terima kasih kembali.” Balas Tiffany lirih. Suaranya bergetar. Apa ia akan menangis?

“Makanlah bersama kami di sini!” Aku mengajak Tiffany.

“Tidak usah. Aku sudah berjanji untuk makan bersama teman-temanku.” Tiffany kemudian berlari keluar dari kelasku. Aku melihatnya menangis.

Aku dan Yoochun hanya bengong melihat kepergian Tiffany. “Kau ini kenapa sih?” Yoochun memukul kepalaku.

“Ouch!” Kupegangi kepalaku yang baru saja dipukul Yoochun.

“Kau ini bodoh! Lihat! Dia jadi menangis kan. Aku tidak mengerti dengan pikiranmu. Bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk mencarikanmu pacar? Tetapi kau malah menyia-nyiakan kesempatanmu.” Yoochun memarahiku.

“Maaf, tapi aku sama sekali tidak tertarik kepadanya.” Kataku dengan nada bersalah.

Yoochun menghela nafas. “Kalau begitu, katakan kepadanya kalau kau tidak tertarik kepadanya! Jangan membiarkan ia terus berharap! Itu justru malah menyakitinya. Banyak laki-laki yang menyukainya, tetapi ia menolak mereka semua karena ia mengharapkanmu.”

Aku jadi semakin merasa bersalah. “Maaf.”

“Maaf saja tidak cukup. Kau sendiri yang harus menyelesaikannya secara baik-baik.” Yoochun terlihat kesal. “Ia datang mengadu kepadaku. Sebenarnya, ia juga merasa bahwa kau sama sekali tidak tertarik kepadanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa agar ia bisa menarik perhatianmu sedikit saja. Lalu aku memberinya saran agar ia membuatkan bekal untukmu karena kau lebih suka makan bekal di kelas daripada di kantin. Akan tetapi, kau malah menolak bekal buatannya dan membuatnya menangis.”

“Apa kau juga memberitahukan tempat tinggalku?” Aku teringat bahwa Tiffany pernah tiba-tiba datang ke rumahku.

“Tidak usah kuberitahu saja ia sudah tahu. Siapa yang tidak mengenali rumah besar keluarga Jung? Namun, aku lah yang menyarankannya untuk datang berkunjung ke rumahmu. Aku menyuruhnya agar mengatakan kepadamu bahwa ia hanya kebetulan lewat di depan rumahmu.” Ternyata memang benar Yoochun yang menyuruhnya.

“Pantas saja saat itu ia terlihat aneh. Ia mengatakan bahwa ia sedang lari pagi dan tidak sengaja melewati rumahku, tetapi ia sama sekali tidak memakai pakaian olah raga. Ia berpenampilan sangat rapi dan tidak tampak berkeringat.” Tiffany tampaknya tidak pandai membuat alasan.

“Hahahahahaha!” Yoochun tertawa keras. “Kenapa alasannya konyol sekali? Harusnya ia berkonsultasi terlebih dahulu kepadaku.” Ia pun kemudian berhenti tertawa. “Jadi, kau ingin pacar seperti apa? Katakan dengan spesifik kau menyukai gadis yang seperti apa agar lain kali aku lebih mudah mencarikan yang sesuai dengan seleramu.”

Yoochun benar-benar baik. Ia rela bersusah payah mecarikanku pacar. “Kau tidak usah repot-repot lagi mencarikanku pacar. Aku tidak memerlukannya lagi.”

Yoochun tampak syok. “Apa jangan-jangan kau sudah mendapatkannya? Kenapa kau tidak menceritakannya kepadaku? Bukankah sekarang kita adalah teman?” Ya, aku memang sudah mendapatkannya sendiri, tetapi maaf, Kawan! Aku tak bisa menceritakannya kepadamu. “Bekal yang kau bawa setiap hari pasti dibuatkan oleh pacarmu. Lihat saja kotaknya berwarna pink dan bergambar Hello Kitty. Jika pelayanmu yang membuatkan, laki-laki sepertimu pasti menolak kotak makan seperti itu. Kau tidak bisa menolaknya karena ia adalah pacarmu kan? Sebelumnya kau tidak pernah membawa bekal dan akhir-akhir ini kau terlihat berseri-seri, tidak sedingin dulu.”

“Eh? Kenapa kau berpikir seperti itu?” Gawat kalau sampai Yoochun mengetahuinya. “Dengan jadwalku yang sangat padat, aku sering lupa untuk makan. Jadi, aku meminta Lee Ahjumma untuk membuatkanku bekal.”

“Aku tidak percaya!” Yoochun mengernyitkan dahinya yang lebar. “Sebaiknya kau mengaku saja kepadaku!”

“Apa yang harus kuakui? Kau ini teman terdekatku. Jika ada yang harus kuakui, aku pasti akan memberitahumu.” Aku berusaha meyakinkan Yoochun.

“Baiklah kalau kau memang berkata seperti itu.” Sepertinya Yoochun masih menaruh curiga kepadaku. Aku harus lebih berhati-hati lain kali.

***

Sudah satu bulan sejak aku mengetahui bahwa aku mempunyai seorang paman, tetapi aku belum melakukan apa pun untuk mencarinya. Selama ini aku terlalu sibuk dengan persiapan ujian akhir sekolah, perusahaanku, dan juga kekasihku. Hanya dengan membayangkan wajah kekasihku, sudah bisa membuatku tersenyum lebar dan melupakan semua kelelahanku. Jaejoong, kau membuat duniaku menjadi berwarna-warni.

Aku tidak tahu dari mana aku harus memulai untuk mencari pamanku. Aku curiga bahwa pamanku dibawa kakekku ke Amerika dan mungkin ia masih tinggal menetap di sana. Ia tidak punya sanak saudara di Korea. Jadi, pastilah ia lebih memilih tinggal di Amerika daripada di Korea.

Rumah kakekku di Amerika tidak dijual dan masih diurus oleh pelayannya. Aku pun memutuskan untuk menelepon pelayan yang mengurus rumah kakekku. “Hallo, aku Jung Yunho, cucu dari Jung Ilwoo. Apakah ahjusshi yang selama ini mengurus rumah haraboji?”

“Oh, Tuan Muda Yunho. Apa kabar? Iya, benar bahwa saya yang mengurus rumah kakek Anda.” Kudengar suara seorang pria dewasa di sebrang sana.

“Aku baik-baik saja di sini. Aku menelepon karena ada yang inigin aku tanyakan. Apakah selama haraboji hidup di sana, ia tinggal dengan orang lain selain para pelayannya?” Tanyaku.

“Maaf Tuan Muda, saya adalah orang baru di sini. Saya menggantikan Tn. Hong dua tahun lalu untuk mengurus rumah ini.” Aku ingat Hong Ahjusshi adalah pelayan kepercayaan haraboji. Ia pasti mengetahui tentang pamanku.

“Lalu di mana Hong Ahjusshi sekarang?” Aku harus berbicara dengan Hong Ahjussi. “Apa ia pernah mengatakan sesuatu mengenai orang yang bernama Han Jaejoon?”

“Saya tidak tahu. Ia merekrut saya dua tahun lalu karena ia ingin pulang ke Korea.” Sepertinya pencarianku akan semakin sulit.

“Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas informasinya.” Kuakhiri pembicaraan kami. Aku benar-benar bingung. Ke mana aku harus mencarinya? Aku juga tidak tahu di mana Hong Ahjusshi tinggal. Kenapa aku tidak bertanya kepada pelayan baru tersebut? Mungkin saja ia tahu di mana Hong Ahjusshi tinggal.

Aku pun kembali menelepon pelayan yang mengurus rumah haraboji di Amerika. Namun, aku harus menerima kekecewaan karena pelayan tersebut tidak mengenal baik Hong Ahjusshi. Ia pertama kali bertemu dengan Hong Ahjusshi saat proses perekrutan. Setelah Hong Ahjusshi menyerahkan tanggung jawab pengurusan rumah tersebut, mereka tak pernah lagi berkomunikasi.

Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menyewa seorang detektif? Sepertinya sulit bagi seorang detektif handal pun untuk melacak keberadaan pamanku di Amerika dengan informasi yang sangat minim. Satu-satunya informasi yang aku ketahui hanyalah namanya, Han Jaejoon. Selain itu, aku tidak tahu.

Untuk melacak keberadaan pamanku memang sulit. Namun, sepertinya tidak akan terlalu sulit untuk menemukan Hong Ahjussi di Korea. Aku pun bertanya kepada para pelayan senior di rumahku, yaitu pasangan suami istri Lee. Mereka sudah bekerja kepada keluarga kami sebelum haraboji pindah ke Amerika. Namun, mereka sama sekali tidak mengenal Hong Ahjusshi. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk menyewa jasa detektif untuk mencari informasi mengenai semua pria usia lima puluh tahunan yang bermarga Hong. Jika aku melihat fotonya, aku pasti mengenalinya.

***

Selain menyewa detektif untuk mencari Hong Ahjusshi, aku pun ingin mencari informasi tentang pamanku dengan cara lain. Mungkin saja aku bisa mendapatkan sedikit informasi mengenai pamanku di kamar ibuku. Sebenarnya aku tidak yakin bahwa ibuku menyimpan informasi tentang adik tirinya, mengingat ibuku sangat membenci adik tirinya tersebut dan tak suka mengingat-ingat masa lalunya. Akan tetapi, tidak ada salahnya kan aku mencoba?

Aku membuka pintu kamar ibuku, tidak dikunci. Ternyata Yoona sedang membersihkan kamar ini. Ia adalah pelayan kepercayaan ibuku. Hanya kami berdua yang memegang kunci kamar ini. Selebihnya, tidak seorang pun kuizinkan masuk ke ruangan ini. Aku pun mengizinkan Yoona masuk karena kamar ini harus dibersihkan secara rutin.

“Eh, Tuan Muda kemari.” Yoona tampak terkejut melihatku masuk kamar ibuku. Tidak biasanya aku datang kemari.

“Kau lanjutkan saja pekerjaanmu! Aku hanya ingin melihat-lihat.” Aku berkeliling kamar ini. Sudah lama sekali aku tidak masuk kemari. Foto pernikahan kedua orang tuaku masih terpajang di kamar ini. Aku tak mengizinkan Yoona untuk memindahkan apa pun di kamar ini.

Aku keluar menuju balkon. Kupandangi tanah di bawahnya, tempat mayat ibuku tergeletak berlumuran darah. Aku tak ingin berlama-lama mengingat kejadian itu dan kuputuskan untuk kembali ke dalam. “Yoona, kau adalah pelayan kepercayaan ibuku, bukan? Ia pasti banyak bercerita kepadamu.”

Yoona masih sibuk melap meja rias milik ibuku. “Nyonya bercerita banyak hal kepadaku saat ia masih hidup.”

“Hal apa saja yang ia ceritakan kepadamu?” Aku mulai menginterogasinya.

“Macam-macam. Nyonya juga sering bercerita tentang Anda kepadaku. Tak jarang ia bercerita kepadaku saat ia punya masalah.” Jawabnya.

“Apakah ibuku bercerita sesuatu sebelum ia bunuh diri?” Tidak mustahil jika ibuku menceritakan informasi yang penting kepadanya.

Yoona berhenti melap meja rias, tangannya bergetar hebat. Ia berbalik ke arahku. Tersirat ketakutan di wajahnya. “Maafkan aku, Tuan Muda.” Ia menangis.

Aku kaget saat ia mulai menangis. Aku segera melangkah ke arahnya dan memeluknya. “Ada apa? Mengapa kau menangis?’ Aku yakin bahwa Yoona selama ini menyembunyikan rahasia besar mengenai ibuku. Aku mengusap punggungnya untuk menenangkannya. “Tenanglah! Ceritakan kepadaku apa yang membuatmu menangis!”

“Maafkan aku, Tuan Muda!” Air matanya jatuh semakin deras. “Sebenarnya nyonya tidak bunuh diri seperti yang semua orang kira.” Aku terkejut, benar-benar terkejut. Ada apa ini?

“Apa yang kau katakan itu benar? Kau jangan main-main!” Emosiku mulai naik.

Tubuh Yoona semakin bergetar ketakutan. “Itu benar, Tuan Muda. Maafkan aku!”

Aku mulai bisa mengendalikan emosiku. “Lalu apa yang terjadi? Ceritakanlah kepadaku!”

Yoona pun sudah terlihat lebih tenang dan bercerita kepadaku.

Flashback (Yoona pov):

“Yoona, tolong pijat kakiku! Kakiku sakit sekali!” Pukul 11 malam nyonya memanggilku ke kamarnya. Akhir-akhir ini ia sering mengeluh sakit, terutama setelah ia resmi bercerai dengan tuan.

Semua pelayan sudah tertidur. Aku pun seharusnya sudah tidur, tetapi karena akhir-akhir ini nyonya sering mengeluh sakit. Jadi, aku harus memundurkan waktu tidurku karena bisa saja secara tiba-tiba nyonya memerlukan bantuanku. Stres sepertinya membuat nyonya mudah terserang penyakit.

Aku pun memijat kaki nyonya sambil sesekali menguap karena mengantuk. Rasa lelahku ini belumlah seberapa dibandingkan dengan yang dirasakan oleh nyonya. Terdapat lingkaran hitam di sekitar matanya. Sepertinya beberapa malam ini beliau tidak tidur. Wajah cantiknya tidak terlihat lagi, hanya kelelahan, kesedihan, dan kemarahan yang terpancar dari wajahnya.

“Kepalaku sangat pusing. Ambilkan obat sakit kepala di dalam laci dan juga air putihnya!” Perintah nyonya kepadaku.

Aku pun berhenti memijat kakinya dan mengambil obat sakit kepala di dalam laci. “Ini obatnya, Nyonya.” Kulihat gelas milik nyonya di atas meja sudah kosong. Aku pun bergegas pergi ke dapur untuk mengambil air.

Saat aku hendak kembali ke kamar nyonya, aku mendengar bel rumah ini berbunyi. Siapa malam-malam begini yang datang? Dari suara belnya, orang tersebut menekan bel secara kasar. Apa itu adalah Tn. Jung? Aku pikir itu pasti adalah Tn. Jung. Memangnya siapa lagi? Tanpa berpikir panjang, aku membukakan pintu.

Aku sangat terkejut karena orang yang berdiri di depan pintu bukanlah Tn. Jung, melainkan seorang pria asing. Aku tidak tahu siapa dia.

“Aku ingin bertemu dengan Kim Taehee.” Pria tersebut tampak tak sabar ingin masuk ke dalam rumah.

“Maksud Anda Ny. Jung?” Tanyaku untuk memastikan.

“Dia bukan Ny. Jung lagi. Di mana dia?” Pria tersebut menerobos masuk dan aku tak dapat mencegahnya.

“Tuan, ini sudah larut malam. Nyonya sedang beristirahat. Sebaiknya Anda datang lagi kemari besok pagi.” Aku mengikuti di belakangnya.

Pria tersebut tampak mencari-cari kamar nyonya. “Di mana dia?”

“Yoona, kenapa kau lama sekali? Cepat! Aku sudah tidak tahan.” Nyonya berteriak dari dalam kamarnya.

Dari suara nyonya, pria tersebut dapat menemukan letak kamar nyonya. Ia pun bergegas menaiki tangga menuju lantai dua.

“Tuan, Anda mau kemana? Anda dilarang pergi kesana.” Pria tersebut sama sekali tidak menggubris laranganku.

Tanpa basa-basi, pria tersebut masuk ke dalam kamar nyonya dan aku mengikutinya.

“Kau!” Nyonya tampak terkejut melihat kehadiran pria tersebut di kamarnya. “Yoona, kenapa kau izinkan orang ini masuk?” Nyonya menatap tajam ke arahku.

“Maaf Nyonya, orang ini memaksa untuk masuk.” Aku menunduk, tidak berani menatap nyonya.

“Aku akan berurusan denganmu nanti. Sekarang tinggalkan kami berdua!” Perintah Nyonya kepadaku.

“Baik, Nyonya!” Aku membungkuk hormat dan keluar dari kamar nyonya. Aku sangat khawatir dengan nyonya. Tampaknya pria itu bukan orang yang baik. Aku khawatir ia akan berbuat jahat kepada nyonya. Jadi, aku pun memutuskan untuk menguping dari balik pintu dan membiarkan pintu terbuka sedikit agar aku bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam.

“Kau! Ada apa kau datang kemari?” Nyonya tampak marah kepada pria tersebut.

“Taehee, kau kini sudah terbebas darinya. Menikahlah denganku!” Pria tersebut tampak memohon. Menikah? Apakah selama ini nyonya berselingkuh?

“Apa?” Nyonya tampak semakin marah. “Dengar, Seunghun! Aku tidak pernah mencintaimu.”

“Tapi aku sudah rela melakukan segalanya untukmu, Taehee-ah. Setidaknya hargailah apa yang telah aku lakukan untukmu.” Pria yang bernama Seunghun tersebut berlutut. “Menikahlah denganku! Aku berjanji akan membahagiakanmu dan tak akan pernah meninggalkanmu seperti yang dilakukan oleh mantan suamimu.”

“Bukan ia yang meninggalkanku, tetapi aku yang menggugat cerai dan mengusirnya dari rumah ini.” Ternyata bukanlah Tn. Jung yang meninggalkan nyonya, melainkan nyonya sendirilah yang menuntut perceraian.

“Kau yang menginginkan perceraian. Itu artinya kau sudah tak mencintainya lagi, bukan? Jadi, apa lagi yang kau harapkan? Kau bisa belajar untuk bisa menerima dan mencintaiku.” Lagi-lagi pria itu memohon kepada nyonya.

“Aku tidak akan pernah mencintaimu!” Nyonya berteriak. “Memangnya siapa kau? Kau ini hanyalah mantan tukang kebun di rumahku. Kau tak layak bersanding denganku. Kau sama sekali tak bisa dibandingkan dengan Jihoon.”

Pria itu berdiri. Kata-kata nyonya sudah melukai perasaannya. “Aku memang mantan tukang kebun di rumahmu. Akan tetapi, lihatlah aku sekarang! Aku seorang pria mapan. Usaha tanaman hiasku sudah berkembang pesat. Aku sudah memiliki beberapa toko tanaman hias di Busan. Lagipula, kalau kau tidak menikah dengan pria itu, kau pasti hidup miskin sekarang. Ayahmu tidak meninggalkan harta sepeser pun untukmu.”

“Oleh karena itu, kukatakan bahwa kau tak bisa dibandingkan dengan Jihoon!” Nyonya berteriak semakin keras. “Kepalaku sedang pusing. Sebaiknya kau pergi sekarang juga dari rumahku!”

“Aku tidak akan pergi sebelum kau mau menerimaku.” Pria tersebut tetap bersikukuh. “Sekali saja pandanglah diriku! Aku selalu melakukan semua perintahmu selama ini.”

“Apa? Kau bahkan tidak bisa menyelesaikan apa yang kuperintahkan dengan benar. Andai saja kau berhasil menyingkirkannya, aku tidak perlu menuntut cerai suamiku.” Siapa yang ingin nyonya singkirkan? “Seorang Kim Jaejoong saja tak bisa kau singkirkan.” Kim Jaejoong? Jadi, nyonya ingin menyingkirkan Kim Jaejoong. “Aku tak menyangka ia lebih memilih anak itu daripada aku dan anaknya. Jika kau berhasil membunuh Kim Jaejoong, Jihoon akan kembali kepadaku.” Nyonya mulai terisak.

“Tidak!” Pria tersebut mendekati nyonya. “Aku tidak akan membiarkan kau kembali kepadanya.” Pria itu semakin mendekati nyonya dangan tatapannya yang penuh kemarahan. “Kau milikku!”

“Mau apa kau?” Nyonya sekarang sudah tersudut. Aku khawatir, tetapi aku tak berani melakukan apa pun.

“Aku menginginkanmu.” Pria tersebut semakin merapatkan tubuhnya dengan nyonya.

Nyonya mendorong pria tersebut sekuat tenaga dan ia berlari menuju balkon. “Jangan mendekat! Kalau kau mendekat aku akan melompat!”

Pria tersebut terus menyusul nyonya ke arah balkon. Ia sama sekali tidak menghiraukan ancaman nyonya.

Nyonya sudah tidak bisa melarikan diri lagi. Ia terjebak. “Pergi kau!”

Pria tersebut mencengkram nyonya dengan sangat kuat. Ia mencium nyonya dengan paksa.

“Lepaskan!” Nyonya berusaha melepaskan diri, tetapi dengan kondisinya yang lemah, ia tak bisa berbuat banyak. Pria itu semakin mendesaknya. “Aaaahhh!!!” Apa yang terjadi? Nyonya terjatuh dari balkon.

Kakiku melemas tiba-tiba. Apa yang baru saja kulihat? Aku tidak percaya bahwa nyonya terjatuh dari balkon. Aku mulai menangis. Aku takut. Ini sangat mengerikan.

Isakanku membuat pria tersebut menyadari keberadaanku. Dengan tergesa-gesa ia membuka pintu dan menemukanku sudah terduduk di lantai. “Kau!” Wajahnya pucat saat melihatku. Ia pun sepertinya sama-sama ketakutan sepertiku. “Kau melihat semuanya?”

Aku tidak menjawab. Aku terlalu takut untuk sekedar membuka suaraku atau menganggukkan kepalaku.

Pria tersebut menarikku berdiri. Ia mencengkeram kerah bajuku. “Dengarkan aku baik-baik! Kau tidak boleh mengatakannya kepada siapa pun!” Tatapan matanya mengintimidasiku. “Kalau kau mengatakannya kepada satu orang saja, akan kupastikan kau juga akan berakhir mengenaskan seperti majikanmu. Apa kau mengerti?”

Dengan cepat aku menganggukkan kepalaku. Pria itu sangat menakutkan.

Ia pun melepaskan cengkeramannya di bajuku. “Bagus. Sekarang kau lebih baik pergi tidur. Anggap saja ini hanya mimpi dan ingat bahwa kau tidak boleh mengatakannya kepada siapa pun.”

Setelah pria itu pergi, aku mengunci pintu rumah. Aku pun langsung berlari menuju ke kamarku. Kamar para pelayan berada di belakang, terpisah dari bagian utama rumah ini. Jadi, dapat kupastikan bahwa pelayan lain tidak ada yang mendengar teriakan nyonya dan pria itu.

Aku berusaha untuk memejamkan mataku, tetapi mata pria tersebut tak dapat aku lupakan. Aku sangat takut. Aku pun baru tertidur saat hampir pagi dan tidurku pun terganggu dengan kehebohan bahwa nyonya ditemukan di halaman belakang dengan keadaan sudah tidak bernyawa lagi.

Flashback (Yoona pov) end

“Maafkan aku!” Yoona terus menggumamkan kata maaf. “Seandainya saat itu aku punya keberanian untuk mencegahnya.”

“Sudahlah! Ini bukan salahmu.” Aku tidak ingin membuatnya semakin bersalah. Selama tiga tahun ini ia pasti merasa tidak tenang. “Jika kau berusaha menolong umma saat itu, mungkin kau juga akan celaka.”

“Maafkan aku! Setidaknya aku bisa mengatakan tentang kejadian tersebut kepada Anda, polisi, atau siapa pun, tetapi saat itu aku terlalu takut dengan ancamannya.” Aku kasihan kepadanya. Kejadian pada malam itu pasti terus menghantuinya.

“Sudahlah, tidak ada yang perlu di sesali. Sebaiknya kau istirahat dan tenangkan dirimu. Pelayan yang lain akan bertanya-tanya jika mereka melihatmu seperti ini.” Aku menyuruh Yoona untuk berhenti menangis dan pergi menuju kamarnya.

Jadi, umma tidak bunuh diri, melainkan dibunuh. Tidak, dari cerita Yoona sepertinya itu hanya kecelakaan. Pria tersebut sangat mencintai ibuku, tidak mungkin ia berniat membunuh wanita yang dicintainya. Ia bahkan rela menuruti perintah ibuku untuk membunuh Jaejoong, walaupun pada akhirnya ia gagal.

Aku tidak menyangka bahwa ibuku bisa setega itu menginginkan kematian Jaejoong. Rasa cemburu benar-benar menguasainya. Pantas saja Jaejoong sangat membencinya. Jika ada orang yang berbuat setega itu kepadaku, aku pun pasti akan membencinya.

Andaikan umma tahu bahwa appa hanya mengganggap Jaejoong sebagai adik. Satu hal yang tak kumengerti, mengapa appa bersikeras untuk memilih Jaejoong? Padahal appa bisa menjelasakan kepada umma bahwa ia tidak ada hubungan apa-apa dengan Jaejoong. Mungkin saja appa sudah menjelaskan kepada umma, tetapi umma tetap tidak percaya dan bermaksud membunuh Jaejoong. Oleh karena itu, appa memutuskan untuk melindungi Jaejoong dari niat jahat umma.

Pria itu, pria yang bernama Seunghun. Aku harus membuat perhitungan dengannya. Ia harus bertanggung jawab karena telah menyebabkan kematian umma. Ia adalah mantan tukang kebun di keluarga Kim. Ia pasti mengenal pamanku. Mungkin aku bisa mendapatkan informasi mengenai pamanku darinya.

Aku pun menelepon detektif yang kusewa untuk mencari tahu tentang Hong Ahjusshi. Sambil mencari informasi mengenai Hong Ahjusshi, aku menyuruhnya untuk mencari info mengenai pengusaha tanaman hias di Busan yang bernama Seunghun.

***

Selesai makan malam, aku dan Jaejoong berbaring di atas tempat tidurnya. Kami terbiasa mengobrol dan berpelukan sebelum tidur.

“Kau ini kenapa? Seharian kau tampak murung. Kau bahkan tidak menghabiskan makananmu. Apa masakanku tidak enak?” Jaejoong menampakkan wajah sedihnya.

“Bukan begitu, Sayang!” Aku membelai kepalanya dengan lembut. “Aku hanya sedang banyak pikiran.”

“Apa yang kau pikirkan?” Ia memainkan kancing piyamaku dengan jari-jarinya. “Apa kau ada masalah? Kau bisa cerita kepadaku. Mungkin aku bisa membantumu.” Ia mengecup bibirku.

“Aku hanya sedang gugup memikirkan ujian akhirku minggu depan.” Aku berbohong. Aku ini cukup pintar dan rajin belajar. Ujian akhir sekolah sama sekali tidak membuatku gentar.

“Apa kau gugup?” Ia bangkit dari posisinya dan berbaring di atas dadaku.

“Kau bisa dengar sendiri kan degup jantungku.” Kusentuh ujung hidung mancungnya dengan jariku. “Tentu saja aku gugup.”

“Baiklah. Aku akan membantumu untuk mengurangi rasa gugupmu.” Ia mengusap-usap dadaku dengan tangannya.

Aku mengernyitkan dahiku tak mengerti. “Caranya?”

“Apa kau mau melakukan ‘itu’?” Kini ia memainkan jarinya di dadaku.

“Melakukan apa?” Aku tak mengerti apa yang ia maksudkan.

“Aku tidak ingin kau terus murung seperti ini. Aku ingin menyenangkanmu, menghiburmu, dan membuatmu menjadi lebih bersemangat untuk menghadapi ujian akhirmu nanti.” Tangannya semakin intens meraba-raba tubuh bagian atasku.

“Aku tahu itu, tetapi apa yang akan kau lakukan untuk menghiburku?” Aku semakin gemas menunggu jawabannya.

Ia bangkit dari atas tubuhku. “Kau menyebalkan!” Ia melemparkan bantal ke arahku. “Masa begitu saja kau tidak mengerti?”

“Berhenti bermain-main denganku! Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu.” Aku mulai kesal.

“Itu~” Mataku terbelalak saat ia menelusupkan tangannya ke dalam celanaku dan meremas juniorku.

TBC

Not a Perfect Family (Chapter 5)

Title: Not a Perfect Family

Author: alienacass

Genre: Family, drama, humor

Pairing: Yunjae

Rating: NC-21

Length: 5/?

Disclaimer: TVXQ are not mine, but the story is mine.

Warning: Yaoi, mpreg

Characters: Kim Jaejoong (25), Jung Yunho (36), Yoochun (10), Junsu (8), dll

Summary:

Jung Yunho, duda beranak satu yang tampan dan kaya menikahi Kim Jaejoong yang juga merupakan single parent. Akankah mereka berhasil membangun keluarga yang sempurna?

Chapter 4

Chapter 5

Mendengar suara teriakan lumba-lumba, Yunho pun menghentikan aktivitasnya dan menatap wajah istrinya. “Biar aku yang menghadapi mereka. Kau tunggu saja di sini, Sayang! Aku akan segera kembali.” Ia pun langsung melesat ke kamar anak-anaknya.

Jaejoong terlalu terlena dengan sentuhan suaminya, sehingga ia belum mencerna apa yang terjadi. Ia hanya terbengong setelah ditinggalkan suaminya begitu saja dalam keadaan telanjang bulat, terbaring di atas tempat tidur. Ia baru mengerti setelah beberapa detik berlalu. Ia merasa kecewa tentu saja. Ia pun membungkus tubuh telanjangnya dengan selimut dan menunggu suaminya kembali.

***

“Kenapa kau berteriak?” Yoochun langsung membekap mulut Junsu dengan tangannya.

“Hmmmppp!” Junsu berusaha memberontak.

“Kalau appa mendengar, ia akan mengunci kita di kamar ini.” Yoochun mengingatkan Junsu.

Junsu berpikir sejenak. Benar juga yang dikatakan kakak tirinya. Karena ia merasa sesak, ia pun menggigit tangan Yoochun.

“Aaww!!” Yoochun langsung melepaskan bekapannya. “Kenapa kau menggigitku?”

“Aku tidak bisa bernafas.” Junsu menghirup udara sebanyak-banyaknya.

“Ada yang datang.” Yoochun mendengar langkah kaki yang semakin terdengar jelas.

“Apa?” Junsu masih berusaha menstabilkan nafasnya.

“Cepat naik ke atas tempat tidur dan berpura-pura tidur!” Perintah Yoochun kepada Junsu. Ia pun segera naik ke atas tempat tidurnya dan memejamkan matanya.

Karena panik, bukannya naik ke atas tempat tidurnya sendiri, Junsu malah naik ke atas tempat tidur Yoochun dan berbaring di sebelah saudara tirinya tersebut.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Yoochun berusaha mendorong Junsu menjauh dari tubuhnya.

“Bukankah kau menyuruhku untuk naik ke tempat tidur dan berpura-pura tidur?” Balas Junsu.

“Tapi bukan di sini. Ini tempat tidurku. Tempat tidurmu di sebelah sana.” Yoochun terus mendorong Junsu.

BRUK!!! Junsu pun terjatuh dari atas tempat tidur Yoochun. Untung saja pantatnya empuk, sehingga ia tidak terlalu kesakitan. Ia pun segera memejamkan matanya. Ia tak sempat lagi untuk naik ke atas tempat tidurnya sendiri.

***

Yunho membuka pintu kamar anaknya. Ia melihat Yoochun tertidur di atas tempat tidurnya. Selanjutnya, ia melirik ke arah tempat tidur Junsu. Betapa terkejutnya ia saat menemukan tempat tidur Junsu kosong. “Junsu hilang!!!” Ia berteriak panik berlari ke arah kamarnya untuk memberi tahu Jaejoong. “Jae, Junsu hilang!!!”

Jaejoong yang sedang berbaring di atas tempat tidur dengan posenya yang seksi dan menggoda seketika berubah panik. Ia segera bangkit dari atas tempat tidur dengan tubuh yang hanya terbungkus selimut. Dengan tergesa-gesa ia hendak keluar kamarnya. Akan tetapi, ia menginjak ujung selimut yang dikenakannya, sehingga ia pun terjatuh dan wajahnya membentur lantai.

“Jae!!!” Yunho membantu istrinya bangun dari lantai. “Apa kau tidak apa-apa?”

“Aku pusing.” Darah mengalir dari hidung Jaejoong. Sepertinya ia membentur lantai dengan sangat keras.

“Jae, kau berdarah.” Yunho langsung membopong istrinya dan membaringkannya di atas tempat tidur.

***

Ny. Jung yang mendengar teriakan Yunho langsung bergegas menuju kamar anaknya. Ia sangat terkejut melihat keadaan menantunya yang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan tubuh yang hanya terbungkus selimut dan wajah berdarah-darah. “Yunho! Aku tidak menyangka bahwa kau seorang yang sadis. Apa yang kau lakukan kepada istrimu?”

“Apa yang umma bicarakan?” Yunho tidak mengerti perkataan ibunya.

Ny. Jung tidak menghiraukan pertanyaan anaknya. Ia menghampiri menantunya. “Jae, apa kau baik-baik saja? Apa suamimu memaksamu untuk melayaninya?”

Yunho baru mengerti maksud perkataan ibunya. “Kenapa umma berpikir seperti itu? Aku tidak pernah bersikap kasar, apalagi saat bercinta. Membunuh seekor semut saja aku tak tega. Jaejoong terjatuh dan wajahnya membentur lantai.”

“Kenapa kau diam saja, Bodoh? Bukannya kau membersihkan darah di wajahnya.” Ny. Jung meraih lembaran tisu yang berada di meja samping tempat tidur dan membersihkan darah yang keluar dari hidung Jaejoong.

Yunho pun segera membantu ibunya untuk membersihkan darah di wajah Jaejoong.

“Ngomong-ngomong, kenapa kau berteriak malam-malam?” Tanya Ny. Jung kepada putranya.

“Aku baru ingat. Junsu hilang!” Yunho dan ibunya segera menuju ke kamar anak-anak, meninggalkan Jaejoong yang terbaring lemas.

***

Yunho membuka pintu kamar anak-anaknya, diikuti ibunya di belakangnya. Ia melihat ke arah tempat tidur Junsu dan ternyata sekarang Junsu terlihat tidur dengan nyenyak di atasnya. ‘Apa tadi aku salah lihat?’

“Mana? Jelas-jelas Junsu sedang tidur.” Kata Ny. Jung.

“Tadi tempat tidur itu kosong. Junsu tidak ada di atasnya.” Yunho berusaha menjelaskan kepada ibunya.

“Mungkin tadi ia sedang pergi ke kamar mandi.” Timpal Ny. Jung.

“Tapi tadi ia berteriak memanggil ibunya.” Kata Yunho lagi.

“Mungkin tadi ia takut ke kamar mandi sendirian, tapi ia sudah tak tahan, sehingga ia memberanikan diri pergi ke kamar mandi sendirian atau mungkin ia diantar Chunnie.” Ny. Jung mengemukakan hipotesisnya.

“Benar juga.” Yunho menggaruk kepalanya seperti orang bodoh.

“Ya sudah, umma akan kembali tidur. Kau perlakukan istrimu dengan baik ya!” Ny. Jung menepuk bahu putranya dan berlalu ke kamarnya.

***

Yunho pun kembali ke kamarnya dengan semangat. Ia mulai membayangkan apa yang akan ia perbuat terhadap Jaejoong. “Jae Sayang, aku kembali.”

“Yun, kepalaku sakit.” Ujar Jaejoong lemah. Sepertinya benturan tadi sangat keras.

Yunho segera mengecek kepala istrinya. “Apa kepalamu terluka?”

“Sepertinya tidak. Aku hanya merasa pusing saja. Sepertinya aku hanya perlu tidur saja. Besok pagi aku pasti sudah merasa lebih baik.” Jaejoong tidak mau suaminya khawatir.

“Baiklah kalau begitu.” Yunho tampak kecewa.

Jaejoong dapat merasakan kekecewaan dari nada bicara suaminya. “Maafkan aku.”

“Kenapa kau minta maaf?” Yunho merasa tidak enak karena membuat istrinya merasa bersalah.

“Malam ini aku tidak bisa melayanimu.” Jawab Jaejoong malu-malu. Wajahnya merona.

“Ya ampun, sempat-sempatnya kau memikirkan hal itu! Kau tidak usah terlalu mengkhawatirkanku. Sebaiknya pikirkan kondisimu terlebih dahulu. Kesehatanmu jauh lebih penting. Kau pikir aku tega memaksamu dalam keadaan seperti ini?” Yunho menceramahi istrinya.

Jaejoong tersenyum lembut. “Terima kasih atas perhatianmu.”

“Ah, tidak apa-apa. Memang sudah seharusnya.” Yunho tiba-tiba menjadi salah tingkah. Sudah dua kali malam ini Jaejoong memujinya. “Sudahlah, sebaiknya kau tidur!”

Jaejoong tersenyum dan kemudian memejamkan matanya. “Selamat tidur!”

Setelah Jaejoong tertidur, Yunho beranjak dari kamarnya menuju ruang kerjanya. Ia melakukan kebiasaannya setiap malam, yaitu bekerja. Ia baru pergi tidur setelah dini hari.

***

Ny. Jung tidak membiarkan Jaejoong untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga pada pagi hari. Ia masih mengkhawatirkan keadaan menantunya tersebut. Jadi, ia lah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga pada pagi hari. Ia bahkan tidak mengizinkan Jaejoong untuk memasuki dapur sama sekali. Ia benar-benar mertua yang sangat perhatian.

“Tahu tidak kenapa kemarin umma pulang terlambat?” Tanya Ny. Jung saat mereka sekeluarga sedang sarapan bersama.

“Mana kutahu?” Jawab Yunho cuek.

“Kemarin umma berusaha matian-matian membujuk teman umma yang suaminya punya agen perjalanan. Akhirnya, usaha keras umma berhasil. Ia memberikan paket bulan madu untukmu dan Jaejoong ke Italia selama seminggu dengan gratis. Semua biaya perjalanan dan akomodasi sudah ditanggung.” Kata Ny. Jung riang.

Yunho langsung menghentikan kegiatan makannya. “Umma pikir aku tak sanggup membayar?”

“Bukankah sebelumnya kau menolak untuk pergi berbulan madu karena menurutmu itu hanya menghambur-hamburkan uang?” Balas Ny. Jung. “Oleh karena itu, umma berusaha keras untuk memdapatkan paket bulan madu gratis untuk kalian.”

“Apa umma  tidak punya harga diri sampai memohon gratisan seperti itu? Apa kata orang nanti?” Yunho tidak setuju dengan perbuatan ibunya.

Ny. Jung merasa tersinggung dengan perkataan Yunho. “Kau ini benar-benar tidak bisa menghargai usaha keras umma. Umma hanya ingin membahagiakanmu.”

“Seharusnya umma berkonsultasi dahulu denganku. Aku tak mungkin meninggalkan pekerjaanku untuk pergi berbulan madu. Seminggu adalah waktu yang lama. Aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku selama itu.” Yunho berusaha memberikan pengertian kepada ibunya.

“Kau hanya memikirkan pekerjaanmu. Apa kau tidak memikirkan istrimu? Jaejoong juga pasti ingin pergi berbulan madu.” Kata Ny. Jung.

“Aku tidak apa-apa, Umma.” Jaejoong berusaha menenangkan ibu mertuanya. “Yunho benar. Pekerjaannya akan terbengkalai jika ia pergi.”

“Kau selalu saja membela suamimu.” Ny. Jung menatap Jaejoong. “Beruntung sekali si bodoh ini mendapatkan istri sebaik dirimu. Ya sudah, kalau kalian tidak mau pergi. Tidak mungkin umma mengembalikan paket perjalanan ke Italia ini. Umma sudah susah payah mendapatkannya. Jadi, tidak boleh disia-siakan. Kalau begitu biar umma dan anak-anak saja yang pergi. Kalian berbulan madu saja di rumah. Lagipula, Chunnie sedang diskors. Ia tak perlu pergi ke sekolah. Sekalian saja Jun-chan juga tidak usah masuk sekolah.”

“Eh, tunggu dulu!” Yunho protes. “Kenapa umma memutuskan secara sepihak seperti itu? Aku adalah kepala keluarga di sini. Jadi, anak-anak adalah tanggung jawabku. Chunnie memang tidak apa-apa, tapi Jun-chan harus masuk sekolah.”

Umma tidak peduli lagi dengan laranganmu. Kau selalu saja membuat umma kesal. Kalau perlu umma akan menulis surat izin kepada kepala sekolah untuk mengizinkan Jun-chan tidak ke sekolah selama seminggu.” Tantang Ny. Jung.

“Tidak bisa seperti itu!” Yunho tidak mau kalah. “Pendidikan sangat penting. Jun-chan akan ketinggalan pelajaran di sekolah.”

“Nanti umma akan carikan guru les privat untuknya agar ia tidak ketinggalan pelajaran di sekolah. Jun-chan takut tidur sendirian. Kalau ia ditinggal bersama kalian, aku yakin kau tidak akan bisa berduaan di malam hari dengan Jaejoong.” Kata Ny. Jung.

Yunho terdiam memikirkan perkataan ibunya. Ia membayangkan dirinya harus tidur bertiga dengan Junsu di kamarnya dengan Junsu berada di antara dirinya dengan Jaejoong. Anak itu tidak akan mengizinkan dirinya mendekati sang ibu. “Baiklah, terserah umma saja.”

***

Pada hari Minggu Ny. Jung beserta kedua cucunya akan pergi ke Italia. Yunho dan Jaejoong mengantarkan mereka ke bandara.

Umma, aku tidak mau pergi.” Junsu memeluk Jaejoong dengan erat.

“Jangan seperti itu! Kau pasti akan senang berada di sana. Di sana Jun-chan tidak sendirian, ada halmoni dan Chunnie Hyung.” Jaejoong membujuk Junsu.

“Aku pasti merindukan umma. Aku takut terjadi sesuatu kepada umma.” Kata Junsu.

“Jangan khawatir, kan ada appa. Appa pasti akan melindungi umma.” Yunho berusaha meyakinkan Junsu.

“Justru karena umma bersamamu, Ahjusshi jelek!” Junsu menatap tajam ke arah Yunho. “Aku khawatir kau akan berbuat yang tidak-tidak kepada umma-ku saat aku tidak ada.”

Yunho terkejut mendengar perkataan Junsu. Anak itu tahu saja kalau ia akan berbuat nakal kepada Jaejoong.

“Jun-chan tidak boleh berkata seperti itu kepada appa.” Jaejoong menasihati Junsu. “Appa pasti akan menjaga umma.”

“Sepertinya pesawat kita akan segara berangkat. Kita harus bergegas.” Ny. Jung menarik Junsu sampai pelukan Junsu kepada Jaejoong terlepas. Ia harus menghentikan drama yang sedang terjadi.

Umma!” Junsu berteriak. Ia meronta-ronta dari gendongan Ny. Jung.

“Selamat tinggal! Selamat bersenang-senang!” Yunho dan Jaejoong melambaikan tangan mereka ke arah Ny. Jung, Yoochun, dan Junsu.

***

Setelah menyaksikan pesawat yang ditumpangi ketiga anggota keluarga lepas landas, Yunho mengajak istrinya pulang. “Ayo Jae, kita pulang!” Ia memeluk pinggang istrinya.

“Hiks…” Jaejoong terisak. Ini pertama kalinya ia berpisah dengan Junsu. “Ini pertama kalinya aku berpisah sangat jauh dengan Junsu dalam waktu yang sangat lama.”

“Tenang saja. Umma pasti menjaga anak-anak dengan baik. Lagipula, Italia adalah negara sepak bola. Bukankah Junsu menyukai sepak bola. Ia pasti senang bisa bertemu dengan pemain idolanya.” Hibur Yunho. “Italia itu sangat dekat. Lihat saja peta dunia! Jarak Korea dengan Italia hanya beberapa sentimeter.”

***

Saat ini Yunho sedang mengendarai mobilnya dalam perjalanan pulang dan Jaejoong berada di sampingnya. Ini pertama kalinya mereka berduaan. Mereka berdua terlihat begitu canggung. Tidak ada yang berani bersuara.

“Sunyi sekali ya.” Yunho berusaha memecah kesunyian. “Kita dengarkan radio saja ya.” Ia pun menyalakan radio di mobilnya.

So hot… so cool… so sweet… making love…” Begitulah lagu yang terdengar di radio.

Seketika saja kedua orang di dalam mobil tersebut merasa kepanasan, padahal AC mobil dinyalakan sepenuhnya. Dengan segera Yunho mematikan radionya. “Lagunya tidak enak.”

Jaejoong hanya menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap ke arah suaminya. Ia malu.

Yunho berpikir keras. Kira-kira apa yang harus ia lakukan dengan Jaejoong? Mereka hanya berdua saja di rumah. “Jae, kita kan hanya berdua saja di rumah dan ini hari Minggu. Kau ingin melakukan apa?”

“Mungkin aku akan membereskan rumah, lalu pergi berbelanja bahan makanan.” Jawab Jaejoong.

“Hanya itu saja?” Tanya Yunho.

“Sepertinya itu saja.” Jawab Jaejoong lagi.

“Apa kau tidak ingin pergi bersenang-senang?” Tanya Yunho lagi. “Misalnya jalan-jalan di mall.”

Jaejoong menggeleng. “Aku tidak terbiasa pergi jalan-jalan ke mall.”

Yunho merasa heran dengan istrinya. “Lalu biasanya kau pergi jalan-jalan ke mana?”

“Kalau aku ada waktu luang biasanya aku menemani Jun-chan ke taman hiburan atau menyaksikannya bermain sepak bola.” Kata Jaejoong.

Yunho semakin bingung sekarang. Ia sudah terlalu tua untuk pergi ke taman hiburan. Apa ia harus bermain sepak bola? “Jae, apakah ada tempat yang ingin kau kunjungi?”

“Tidak ada. Aku mau pulang saja.” Jawab Jaejoong.

Yunho menggerutu dalam hati. ‘Tak tahukah kau, Jae? Aku berniat mengajakmu kencan. Tapi ya sudahlah. Sebaiknya kita bersenang-senang saja di rumah.’

***

Yunho menepikan mobilnya di sebuah komplek pertokoan, tepat di depan supermarket. “Jae, bukankah kau ingin membeli bahan makanan?”

“Baiklah. Aku akan berbelanja terlebih dahulu. Apakah kau mau ikut?” Ajak Jaejoong.

“Aku menunggu di mobil saja.” Jawab Yunho.

“Baiklah kalau begitu. Aku juga tidak akan belanja terlalu banyak karena kita hanya berdua di rumah.” Jaejoong pun masuk ke supermarket tersebut.

***

Setelah memastikan Jaejoong masuk ke dalam supermarket, Yunho diam-diam keluar dari mobil. Ia memasuki toko ‘khusus dewasa’ yang berada di komplek pertokoan tersebut, tak jauh dari supermarket tempat Jaejoong belanja. Ia bermaksud membeli sesuatu yang kira-kira akan diperlukannya saat bermain-main dengan Jaejoong.

Setelah berkeliling melihat-lihat isi toko tersebut, Yunho tidak mengerti dengan barang-barang yang dipajang di sana. Jika ia ingin bercinta dengan istrinya, ya ia lakukan saja. Ia tidak pernah memakai alat-alat yang aneh-aneh seperti itu. Akhirnya, dari toko tersebut ia hanya membeli beberapa botol pelumas dengan berbagai rasa. Istrinya yang sekarang adalah seorang pria. Ia tak ingin Jaejoong tersiksa saat mereka bercinta. Setelah selesai ia langsung kembali ke mobilnya.

***

Jaejoong tampak sedang memilih-milih bahan makanan. Ia mengambil pisang, sosis, terong, wortel, dan mentimun. Ia tampak terkejut saat melihat barang belanjaannya di dalam troli. Kenapa ia jadi berpikiran jorok? Orang pasti akan berpikiran macam-macam jika melihat bentuk dari barang belanjaannya. Ia pun menyimpan bahan-bahan tersebut ke tempat asalnya dan memilih bahan makanan lain.

***

Yunho sekarang tampak sibuk memindah-mindah saluran televisi, sementara Jaejoong sedang memasak di dapur. Sebenarnya ia sedang berpikir bagaimana caranya ia mengajak Jaejoong untuk bercinta. Tidak mungkin kan ia langsung menyerang Jaejoong atau berkata ‘Jae, ayo kita bercinta!’ Sungguh tidak romantis. Namun, setelah dipikir-pikir, selama ini ia memang tidak pernah bersikap romantis. Ia sangat jarang mengajak Soojin pergi berduaan ke suatu tempat dan menghabiskan waktu berdua saja. Ia bahkan tidak pernah mengatakan kata-kata romantis. Ia sendiri juga merasa heran kenapa ia ingin bersikap romantis terhadap Jaejoong.

“Yun, kau melamun ya?” Jaejoong menepuk bahu Yunho.

Otomatis Yunho pun terkejut. Ia hampir saja terguling dari atas sofa. “Eh? Tidak.”

“Lalu kenapa kau tidak menyahut sejak tadi kupanggil?” Balas Jaejoong.

Yunho benar-benar tidak bisa menjawab. “Ada perlu apa?”

“Makanan sudah siap. Ayo kita makan!” Ajak Jaejoong.

***

Suasana sangat hening saat pasangan suami istri tersebut makan. Keduanya sibuk dengan dunianya masing-masing. Yunho sesekali melirik ke arah istrinya. Ia sampai tak sadar kalau ia telah mengambil cabe dengan sumpitnya dan memasukkan cabe tersebut ke dalam mulutnya. “Aaaaaarrghhh!!!” Ia langsung meneguk air di dalam gelas di hadapannya.

Jaejoong tidak melihat saat Yunho memakan cabe tersebut. “Ada apa denganmu?”

“Tidak apa-apa.” Yunho berusaha terlihat tenang di hadapan Jaejoong.

“Kau berkeringat.” Komentar Jaejoong.

“Ya, cuaca siang ini sangat panas.” Yunho mengipasi tubuhnya dengan tangannya. “Aku jadi ingin berenang.”

***

Karena terlanjur mengatakan kepada Jaejoong bahwa ia ingin berenang, Yunho mau tak mau harus berenang. Ia tak ingin Jaejoong menilai dirinya sebagai orang yang plin-plan, padahal ia sama sekali sedang tak ingin berenang. “Jae, apa kau mau berenang juga?”

Jaejoong, yang berada di pinggir kolam renang, menggelengkan kepalanya. “Aku tak bisa berenang.”

“Kemari, biar kuajari!” Ajak Yunho.

Jaejoong tetap menggeleng. “Aku tidak berbakat dalam olahraga.”

“Ayolah! Rasanya tidak asyik berenang sendirian.” Yunho membujuk Jaejoong. Ia keluar dari kolam renang dan menarik Jaejoong.

“Yun, jangan! Nanti bajuku basah.” Jaejoong meronta.

“Kalau begitu buka saja bajumu.” Yunho masuk kembali ke dalam kolam dan menarik Jaejoong bersamanya. Byur!!!

“Ya! Bajuku jadi basah.” Jaejoong cemberut.

“Kau ini cerewet sekali. Buka saja bajumu.” Yunho melepaskan pakaian Jaejoong satu-persatu hingga tersisa celana dalam. Ia pun menyadari posisi mereka sekarang, berada di dalam air, berhadap-hadapan dengan jarak yang sangat dekat dan hanya mengenakan celana renang atau celana dalam. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong. Diciumnya bibir istrinya. Sepertinya ini momen yang tepat.

Jaejoong mulai membalas ciuman tersebut saat Yunho sudah mulai menghisap-hisap bibirnya. Ia pun memejamkan matanya untuk menikmati ciuman tersebut.

Perlahan tangan Yunho melingkar di pinggang Jaejoong dan Jaejoong pun meingkarkan tangannya di leher suaminya. Mereka saling mendekap satu sama lain saat ciuman mereka berubah menjadi ciuman yang panas. Lidah saling beradu dan air liur saling bertukar.

Tubuh Yunho menjadi memanas karena ciuman tersebut, nafsunya meningkat. Tangannya mulai turun ke arah pantat istrinya. Ia pun meremas kencang pantat Jaejoong.

Jaejoong terhenyak saat Yunho meremas pantatnya. Ia spontan mendorong tubuh Yunho menjauh. Ia mengusap air liur yang meleleh di bibr dan dagunya dengan punggung tangannya. “Bukankah kau akan mengajariku berenang?”

Seketika Yunho merasa kecewa karena ternyata Jaejoong secara tidak langsung menolaknya. Moodnya tiba-tiba hancur dan ia menjadi tidak bersemangat. “Baiklah. Berpeganganlah pada besi yang menempel di dinding kolam!”

Jaejoong berjalan ke pinggir kolam dan berpegangan pada besi yang menempel di sana. “Seperti ini?”

“Sekarang lemaskan badanmu dan biarkan tubuhmu mengapung!” Instruksi Yunho datar.

Jaejoong mengikuti instruksi Yunho. Tubuhnya mulai terapung. Punggungnya menghadap ke atas.

“Sekarang gerakkan kakimu ke atas dan ke bawah secara bergantian!” Yunho memegangi kaki Jaejoong dan menggerakannya untuk memberinya contoh. Ia melepaskan kaki Jaejoong saat Jaejoong sudah bisa melakukannya sendiri.

Jaejoong senang saat ia sudah bisa menggerakkan kakinya sendiri. Ia gerakan kakinya dengan cepat, sehingga air menyiprat kemana-mana. “Hehehe… Aku bisa.”

“Jangan senang dulu! Tanganmu masih berpegangan pada besi.” Yunho masih saja cemberut.

Jaejoong terlalu bersemangat mengayun-ayunkan kakinya. Ia tak sadar saat boxernya yang sedikit longgar tiba-tiba terlepas dan mengapung di atas air.

Yunho membelalakkan matanya saat pantat putih mulus Jaejoong tersaji di depan matanya. Dengan susah payah ia menelan ludahnya. Ia benar-benar tak tahan ingin meremas benda tersebut.

Jaejoong terus menggerakkan kakinya sambil menghadap dinding kolam. Ia membelakangi Yunho. Ia menghentikan gerakan kakinya saat ia merasakan Yunho memegangi kakinya. Ia berpikir bahwa Yunho bermaksud mengajarinya gerakan kaki baru. Kakinya melebar karena dorongan tangan Yunho. Namun, ia sontak terkejut saat sesuatu menerobos lubang anusnya.

“Jae, maafkan aku! Aku sudah tak tahan.” Yunho mendorong juniornya masuk ke lubang anus Jaejoong. Karena benar-benar sudah tak tahan, ia langsung menggerakkan pinggulnya dengan cepat. “Maaf, Jae!”

Jaejoong tidak bereaksi apa-apa. Ia masih dalam keadaan terkejut atas serangan Yunho yang mendadak. Di luar dugaannya, lubangnya tidak terasa sakit saat Yunho menggenjotnya di dalam air.

“Maafkan aku, Jae!” Yunho terus menggumamkan kata maaf saat ia menggenjot dengan keras. Ia merasa sangat bersalah kepada Jaejoong karena ia melakukannya tanpa seizin Jaejoong. Akan tetapi, di lain pihak ia sudah sangat tidak tahan untuk menyetubuhi istrinya tersebut.

“Aaahh~” Jaejoong mulai menikmati permainan Yunho. Tangannya menggenggam besi pegangan semakin erat.

Rasa bersalah Yunho menjadi berkurang saat ia melihat istrinya tersebut mulai menikmati aktivitas mereka. “Maafkan aku, Jae!” Ia mengecup bahu kanan Jaejoong.

Jaejoong menolehkan wajahnya ke arah Yunho. Ia melihat ekspresi Yunho yang terlihat merasa bersalah. Ia tersenyum lemah dan mencium bibir suaminya. Ia tak ingin Yunho terus merasa bersalah. Ia berinisiatif memimpin ciuman mereka.

Hati Yunho merasa hangat saat mengetahui bahwa istrinya tersebut tidak marah. Ia menjadi semakin bersemangat menggerakkan pinggulnya. Ia kemudian membalikkan tubuh Jaejoong menghadapnya. Dilingkarkannya kedua kaki Jaejoong di pinggangnya. Didorongnya tubuh istrinya tersebut hingga menyentuh dinding kolam.

Tubuh Jaejoong kini terperangkap di antara dinding kolam renang dan tubuh suaminya. Ia berpegangan pada bahu suaminya. “Yunho… Aaahh…”

“Sayang, maafkan aku!” Yunho berbisik di telinga Jaejoong.

Jaejoong tersenyum. Suaminya itu sangat lucu sekali, terus-menerus meminta maaf saat mereka bercinta. “Kalau kau ingin kumaafkan, maka puaskanlah aku!”

Yunho menyeringai nakal. Ia menggempur lubang Jaejoong habis-habisan sambil tangannya mengocok-ngocok junior Jaejoong.

Jaejoong tak ingin suaminya bekerja keras sendirian. Ia menciumi wajah suaminya dan tangannya menggerayangi tubuh bagian atas suaminya.

“Aaahh… Jae…” Yunho mendesah nikmat. Ia terus menggoyangkan tubuh bagian bawah mereka sampai mereka mencapai klimaks. “Jae!!!”

“Yun!!!” Jaejoong membalas sahutan suaminya saat mereka berdua mencapai klimaks. Mereka berdua terengah-engah selepas orgasme.

Yunho menaikkan tubuh Jaejoong ke pinggir kolam. Kemudian ia pun naik menyusul istrinya. Mereka berbaring berdampingan di pinggir kolam renang dengan tubuh yang polos, masih mengatur nafas mereka. “Jae, maafkan aku karena aku tiba-tiba menyerangmu tanpa izin! Yunho menghadap Jaejoong dan memeluk pinggang Jaejoong.

Jaejoong tersenyum. “Kenapa kau minta maaf? Kau berhak melakukannya.”

“Tapi seharusnya aku meminta izinmu terlebih dahulu.” Balas Yunho.

“Justru aku yang harus minta maaf karena aku tidak peka. Seharusnya aku mengerti saat kau mulai bertingkah aneh. Aku bahkan sempat menolakmu tadi.” Ujar Jaejoong.

Yunho tertawa kecil. “Kita berdua sudah menyadari kesalahan kita masing-masing. Jadi, alangkah baiknya kita saling memaafkan.”

Jaejoong mengangguk dengan imutnya. Tiba-tiba saja seekor burung terbang melintas di atas mereka. “Yun, burung itu melihat kita. Aku malu.” Jaejoong langsung menyembunyikan wajahnya di dada Yunho.

“Hahaha…” Yunho menertawakan tingkah lucu istrinya. Ia memeluk istrinya semakin erat.

Jaejoong merasakan nafas Yunho berhembus di telinganya. Sepertinya suaminya itu hendak membisikkan sesuatu. ‘Pasti ia akan mengajakku untuk melanjutkannya di kamar.’

“Jae…” Bisik Yunho.

“Hmmm…” Balas Jaejoong dengan menggumam.

“Sepertinya kita harus menguras kolam renang.” Tampak dengan sangat jelas cairan kental berwarna putih mengapung di kolam renang.

TBC

Because of You (Chapter 5)

Title: Because of You

Genre: Drama,  romance

Pairing: Yunjae

Author: alienacass

Rating: PG-15

Length: 5/9 atau 10

Disclaimer: Yunjae are not mine, but the story is mine.

Warning: Yaoi

Characters: Jung Yunho (18), Kim Jaejoong (23), dll.

Summary:

Orang tua Yunho bercerai saat ia berusia 15 tahun. Ayahnya ternyata seorang gay dan memutuskan tinggal bersama kekasihnya yang bernama Kim Jaejoong, seorang model terkenal.

Ibu Yunho bunuh diri setelah diceraikan oleh ayahnya, sehingga sejak saat itu ia hidup sendiri. Meskipun demikian, biaya hidupnya masih ditanggung oleh ayahnya.

Tiga tahun kemudian, ayah Yunho meninggal dunia. Di dalam surat wasiatnya, ayah Yunho memintanya untuk menjaga kekasihnya, yaitu Kim Jaejoong. Bagaimana ia akan menghadapi Kim Jaejoong yang merupakan penyebab kehancuran keluarganya?

Chapter 4

Chapter 5

Selama beberapa detik Jaejoong dan Tiffany memandangku dengan penuh tanda tanya. Mereka seakan-akan meminta penjelasan dari apa yang baru saja kukatakan.

“Mengapa kalian berdua menatapku seperti itu?” Aku berpura-pura tidak mengerti.

“Yunho-sshi, kau baru saja mengatakan bahwa Jaejoong-sshi adalah pacarmu.” Tiffany membuka suara.

“Benarkah?” Tanyaku dengan wajah polos. “Kau mungkin salah dengar. Mana mungkin aku berpacaran dengannya. Aku ini normal.” Normal? Ya, aku normal! Aku menyukai perem…puan. Benarkah?

“Dia tidak salah dengar, karena aku juga mendengarnya.” Sialan! Jaejoong membuatku bertambah malu saja. Bisakah dia diam saja? Ah, sepertinya dia senang mempermalukanku.

“Ya, mungkin kalian tidak salah dengar, tetapi aku yang salah bicara.” Aku membela diriku. Dapat kulihat Jaejoong menatap curiga ke arahku.

“Ya, sepertinya kau memang salah bicara.” Tiffany mengiyakan pernyataanku, tetapi dari ekspresinya, dia tampak tak sepenuhnya percaya.

“Oh ya, Jaejoong, kau mandilah dan ganti pakaianmu dahulu! Apakah kau tidak merasa malu berpenampilan seperti ini di depan penggemarmu?” Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“Terima kasih sudah mengingatkanku, Tuan Muda Jung!” Jaejoong menatapku sinis. Kemudian pandangannya beralih kepada Tiffanny. Ia tersenyum kepada gadis itu dan kembali ke kamarnya. Bisa-bisanya ia tersenyum manis kepada gadis itu, tetapi sinis kepadaku.

“Uhm, Yunho-sshi, sebenarnya apa hubunganmu dengan Jaejoong-sshi? Mengapa ia ada di rumahmu?” Sepertinya Tiffany berpikiran yang tidak-tidak tentang hubunganku dengan Jaejoong.

“Fany, ini sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan. Sudah kukatakan bahwa aku tidak berpacaran dengannya.” Aku mencoba mengklarifikasi.

“Bukan begitu maksudku. Maksudku, apakah Jaejoong-sshi itu keluargamu? Aku pikir dia adalah keluarga dari ibumu, mengingat marganya sama dengan ibumu.” Aku baru menyadari bahwa marga mereka memang sama. Aku jadi berpikiran bahwa umma dan Jaejoong memiliki hubungan kekerabatan. Ah, tidak mungkin mereka adalah kerabat. Kerabat tidak mungkin menyakiti kerabat lainnya. Sangat wajar mereka memiliki marga yang sama, mengingat marga Kim adalah marga terbanyak di Korea. Lagipula, ibuku tidak memiliki kerabat lain selain adik tirinya yang entah berada di mana dan pamanku tersebut bermarga Han, bukan Kim.

“Dia hanya menumpang di rumahku. Apartemennya terlalu jauh dari tempatnya bekerja. Jadi, dia menyewa salah satu kamar di rumahku. Lagipula, rumah ini terlalu besar untukku sendiri dan para pelayanku. Jadi, tidak ada salahnya aku menyewakan kamar kepadanya.” Bohongku. Aku tak mungkin mengatakan bahwa Jaejoong adalah selingkuhan ayahku dan ayahkulah yang menginginkannya untuk tinggal di sini.

“Oh~” Tiffany menganggukkan kepalanya. “Tetapi mengapa harus di rumahmu? Bukankah ia bisa menyewa apartemen lain? Dan sepertinya hubungan kalian sangat akrab, tidak seperti penyewa dan yang menyewakan.” Mengapa gadis ini bisa berpikiran jauh seperti itu? Apakah kami memang terlalu akrab atau gadis ini memang pintar?

“Karena ia tinggal di rumahku, aku menganggapnya sebagai keluargaku, supaya ia merasa nyaman tinggal di rumahku dan tidak merasa canggung.” Jawabku spontan.

Tiffany tersenyum kepadaku. “Ternyata kau orang yang sangat ramah, tidak seperti yang orang-orang pikirkan. Kau terlihat sangat dingin di sekolah. Aku sampai takut walaupun hanya sekedar menyapamu.” Benarkah aku sedingin itu? “Kalau bukan karema Yoochun, kita tidak akan bisa mengobrol seperti ini.”

Tiffany adalah gadis yang pintar, kritis, dan memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Aku sampai kerepotan dibuatnya. Dia terus menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang aku tak bisa menjawabnya. Dengan sangat terpaksa aku berbohong kepadanya. Jika ujian akhir nanti seperti ini, aku tidak yakin bahwa aku akan sanggup melewatinya.

***

Aku merasa sangat lega saat Tiffany berpamitan pulang. Berakhir sudah penderitaanku. Aku pun hendak kembali ke kamarku. Namun, Jaejoong menggangguku dengan bersandar pada tangga.

“Minggir kau! Aku ingin ke kamarku!” Hardikku.

“Pacarmu cantik juga.” Rupanya ia ingin menggodaku. “Aku tidak menyangka bahwa Tuan Muda Jung kita ini bisa juga mendapatkan seorang gadis.”

Aku menatap tak suka ke arahnya. “Dia bukan pacarku.”

“Aha! Sudah kuduga. Itu memang tidak mungkin.” Dia benar-benar ingin membuatku kesal.

“Kau tampak senang sekali mengetahui bahwa dia bukan pacarku. Kau cemburu jika dia benar-benar pacarku?” Balasku.

Wajahnya memerah. Ia tampak salah tingkah. Aha! Kena kau! “Cemburu? Untuk apa aku cemburu? Memangnya aku menyukaimu?”

“Kau ini memang benar-benar gay ya. Maksudku kau cemburu karena penggemarmu berpacaran denganku.” Eh? Apa tadi yang dia katakan? “Atau… kau memang menyukaiku, benarkah?”

“Apa? Mana mungkin aku menyukai orang menyebalkan sepertimu.” Dia semakin salah tingkah.

Kulangkahkan kakiku mendekatinya. Dia terlihat sangat panik. Kemudian aku berbisik di telinganya. “Kalau kau tidak menyukaiku, mengapa kau melakukan ‘itu’ kepadaku?”

“Melakukan ‘itu’? Melakukan apa maksudmu?” Ia mendorong tubuhku menjauh darinya.

“Kau jangan berpura-pura tidak mengerti. Kau sangat menyukai penisku kan? Ukurannya jauh lebih besar daripada punyamu!” Kataku dengan bangga.

Dia memijat keningnya. “Bisa kau pelankan suaramu? Atau kau memang sengaja agar semua pelayanmu mendengarnya?”

BRUK!!! Kudengar sesuatu terjatuh di lantai.

“Maaf jika saya mengganggu. Saya hendak menyapu di sekitar tangga. Saya akan menyapu tempat lain terlebih dahulu saja.” Aku dan Jaejoong menatap kaget ke arah Yoona yang sedang memungut sapu yang terjatuh di lantai. Sudah dua kali wanita itu memergokiku sedang bersama dengan Jaejoong. Ia pun membungkuk ke arah kami dan beranjak pergi dengan sapu di tangannya.

Aku hendak mengejar Yoona, tetapi Jaejoong menahan tanganku. “Sudah, biarkan dia menyapu dengan tenang!”

“Tapi…” Aku sangat panik.

“Aku yakin dia tidak akan mengatakannya kepada siapa pun.” Jaejoong mencoba untuk menenangkanku. “Kau ini ceroboh sekali.”

Kupandangi tangannya yang masih memegangi pergelangan tanganku. “Aku tak akan mengejarnya, jadi lepaskan tanganmu!”

Tampaknya dia tak sadar masih memegang tanganku. Ia tampak kaget dan langsung melepas pegangannya.

“Aku lelah berdebat denganmu. Aku ingin beristirahat. Jangan ganggu aku!” Aku menaiki tangga.

“Tunggu! Ada yang ingin aku tanyakan.” Aku pun menghentikan langkahku dan berbalik ke arahnya. “Apa yang terjadi tadi malam? Aku tidak mengingatnya sama sekali.”

Aku terkejut dengan pernyataannya. Akan tetapi, aku juga merasa lega. Lebih baik dia tidak mengingat kejadian tadi malam. Jika ia ingat, hubungan kami akan sangat memanas. “Polisi menemukanmu tergeletak di pinggir jalan dalam keadaan mabuk.”

Dia mengernyitkan dahinya, tak percaya dengan apa yang kukatakan. “Benarkah? Lalu di mana mobilku?”

“Polisi menyita mobilmu, tetapi aku sudah menebusnya dan meminta sopir untuk mengambilnya. Mungkin sebentar lagi akan tiba.” Untung saja aku sudah menyuruh sopir untuk mengambil mobilnya di komplek pemakaman. “Sudah ya, aku ingin beristirahat.” Segera aku menuju kamarku. Aku tak ingin ia bertanya lebih jauh. Akan sangat memalukan jika ia mengetahui bahwa aku lah yang mengganti pakaiannya.

***

Tiffany dan Jaejoong benar-benar membuatku kerepotan. Ah~ Kubaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku tidak mengantuk dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku sedang tidak ingin belajar dan bosan bermain game.

Sesuatu yang berwarna sangat mencolok mencuri perhatianku yang sedang bosan ini, buku merah di atas meja belajarku. Kuraih buku tersebut. Apakah aku siap untuk membacanya sekarang? Cepat atau lambat Jaejoong akan menyadari buku hariannya hilang. Jadi, aku harus membacanya sesegera mungkin, lalu mengembalikannya ke tempat semula.

Kubuka halaman pertama, tertulis namanya dengan tinta yang sudah agak memudar. Sepertinya usia buku ini sudah tua. ‘KIM JAEJOON’ Huruf terakhirnya saja sudah terhapus.

Buku ini terlalu tebal. Aku malas jika aku harus membacanya dari awal. Aku pilih saja secara acak.

23 November 2005

Dear diary,

Hari ini aku harus pulang larut malam lagi. Beberapa hari lagi klub seni kami akan mengadakan pameran, sehingga kami harus lembur untuk mempersiapkannya.

Jalanan sudah tampak sepi di sekitar asrama tempatku tinggal. Pohon-pohon besar di jalanan menuju asrama membuat suasana semakin mencekam. Bukannya aku ini seorang penakut, tetapi sudah beberapa hari ini aku merasa diikuti. Perasaanku sangat tidak tenang. Teman-temanku berkata bahwa mungkin itu hanya perasaanku saja dan mudah-mudahan mereka memang benar. Aku tidak ingin hal buruk terjadi.

Aku pulang sendirian ke asrama karena teman-temanku di klub seni tidak ada yang tinggal di asrama. Mereka tinggal bersama kedua orang tua mereka. Siswa yang tinggal di asrama hanyalah siswa yang berasal dari ke luar kota atau siswa yang ingin belajar hidup mandiri terpisah dari keluarga.

Aku yang seorang yatim piatu ini memilih tinggal di asrama atas kemauanku sendiri. Aku tidak ingin menyusahkan ahjusshi yang sudah berbaik hati untuk merawatku. Jadi, kuputuskan untuk tinggal di asrama sejak lima tahun yang lalu, saat aku berusia 10 tahun.

Ahjusshi adalah orang yang sangat baik. Ia selalu berpesan kepadaku agar aku tidak sungkan-sungkan untuk memberitahunya jika aku mempunyai masalah. Bagaimana pun juga ia adalah wali yang bertanggung jawab atas diriku. Namun, tidak mungkin kan aku melapor kepadanya bahwa aku diikuti? Lagipula, belum tentu benar bahwa aku diikuti.

Setelah sekitar 15 menit berjalan menyusuri jalan gelap tersebut, sampailah aku di gedung asramaku. Setidaknya aku merasa lebih aman setelah memasuki gedung asrama. Penguntit tidak akan bisa masuk asrama ini, kecuali penguntit tersebut tinggal di asrama ini juga. Aku merasa tidak punya musuh di sini. Jadi, itu tidak mungkin terjadi. Aku selalu mengingat pesan ahjusshi bahwa aku harus berbuat baik kepada siapa pun.

Kuambil kunci kamarku dari dalam saku celanaku. Memasuki kamarku, kunyalakan sakelar lampu. Aneh, beberapa barangku berpindah tempat. Aku mempunyai kebiasaan untuk menyimpan beberapa barang di tempat tertentu. Aku yakin seseorang telah masuk ke kamarku sebelumnya.

Kuperiksa barang-barang berhargaku, tidak ada yang dicuri. Aku melanjutkan memeriksa barang-barangku yang lain, semuanya masih berada di kamarku, kecuali akta kelahiranku. Untuk apa orang itu mengambil akta kelahiranku? Apakah ini perbuatan noona? Apakah ia sudah mengetahui keberadaanku?

Konyol sekali. Untuk apa orang mencuri akta kelahiran? Siapa yang ia sebut dengan ‘noona’? Mengapa ia sembunyi dari orang tersebut? Tidak penting. Lebih baik aku baca yang lain saja.

10 April 2006

Aku terbaring di kasur rumah sakit sekarang. Aku ditabrak sebuah mobil hitam tadi pagi saat aku hendak berangkat sekolah. Tidak ada saksi mata saat itu karena aku berangkat terlalu pagi hari ini. Hari ini jadwal piketku di kelas.

Semenjak hilangnya akta kelahiranku, musibah datang bertubi-tubi. Bulan lalu, saat aku pergi berkemah bersama guru dan teman-teman sekolahku, aku terjatuh ke sungai saat sedang mengambil air. Aku tidak bisa berenang dan hampir hanyut terbawa arus. Aku merasa ada seseorang yang mendorongku, tetapi teman-temanku mengatakan bahwa mereka tidak melihat seorang pun di dekatku saat itu.

Paranoid. Itu salahnya sendiri karena tidak berhati-hati. Benar-benar ceroboh. Setelah itu ia malah menyalahkan orang lain.

2 Agustus 2006

Dear diary,

Aku sangat bingung sekarang. Aku sangat takut. Aku baru saja menyadari bahwa ternyata aku abnormal. Aku adalah penyuka sesama jenis. Selama ini aku tak pernah tertarik kepada seorang gadis. Kupikir itu karena belum saatnya aku jatuh cinta dan aku belum menemukan gadis yang tepat.

Aku menyadarinya saat tadi siang teman-temanku mengajakku menonton film porno. Pemeran wanitanya sama sekali tidak membuatku terangsang, tetapi aku langsung terangsang saat melihat pemeran prianya? Bagaimana ini? Aku takut sekali.

Ternyata memang benar bahwa dia itu homoseksual. Dari penampilannya yang feminin saja langsung ketahuan bahwa dia adalah gay.

10 November 2006

Untung saja aku tinggal di Amerika. Negara ini adalah negara bebas. Aku tidak takut dikucilkan hanya karena aku adalah seorang homoseksual. Aku punya pacar sekarang, namanya Micky. Kami baru saja resmi jadi sepasang kekasih tadi siang. Hehehe… Dia laki-laki yang sangat baik dan perhatian.

Ahjusshi juga tidak keberatan dengan orientasi seksualku. Asalkan aku bahagia dan tidak merugikan orang lain, bagi ahjusshi tidak masalah.

Eww~ Menjijikan. Pria yang bernama Micky itu punya selera yang sangat rendah. Menurutku dia itu laki-laki brengsek. Sepertinya dia hanya ingin mempermainkan Jaejoong saja.

2 Desember 2006

Kukira Max benar-benar mencintaiku, tidak seperti Micky yang berpacaran denganku hanya karena ingin berhubungan sex denganku saja. Ternyata dia pun sama, bahkan lebih parah. Baru seminggu menjadi kekasihku saja ia sudah mengajakku melakukan itu.

Aku ini butuh cinta, bukan sex. Aku mau berpacaran dengan mereka karena kupikir mereka benar-benar mencintaiku. Max berkata bahwa dalam hubungan sesama laki-laki, sex adalah yang paling utama, tetapi tidak bagiku. Yang kubutuhkan adalah cinta. Huhuhuhu…

Ternyata memang benar dugaanku. Laki-laki bernama Micky ini memang brengsek. Jaejoong juga benar-benar ‘bitch’. Belum sebulan saja dia sudah berpacaran dengan dua orang pria. Sudah berapa pria yang ia kencani sampai sekarang? Sudah berapa kali ia melakukan hubungan sex dengan para kekasihnya? Apakah ia melakukannya juga dengan ayahku? Apakah ia juga melakukannya dengan orang lain saat berstatus sebagai kekasih ayahku? Membayangkannya saja sudah membuatku sangat emosi. Ingin rasanya aku melempar barang-barang yang ada di sekitarku.

13 Desember 2006

Ahjussi mengatakan kepadaku bahwa selama ini orang suruhan noona lah pelakunya. Sebenarnya ahjusshi sudah mengetahuinya sejak beberapa bulan yang lalu, tetapi ia ragu untuk memberitahukannya kepadaku. Ia tak mau aku membenci noonaku.

Aku tidak menyangka bahwa noona akan tega berbuat sejahat itu kepadaku. Selama ini aku tidak pernah membencinya, walaupun ia sangat membenciku. Aku memaklumi alasan ia membenciku. Aku pun tidak pernah berharap bahwa ia akan menerimaku suatu hari nanti. Akan tetapi, ia sudah sangat keterlaluan. Ia berusaha untuk membunuhku.

Noona, maafkan aku. Maafkan aku karena sekarang aku mulai membencimu.

Aku syok membaca bagian ini. Ternyata ada orang yang menginginkan kematiannya. Sedalam apa pun kebencianku terhadapnya, aku tidak mungkin berniat untuk menghilangkan nyawa orang lain.

Ternyata ia juga yatim piatu sama sepertiku. Namun, nasibku jauh lebih beruntung. Sepertinya ia sudah menjadi yatim piatu sejak kecil. Aku jadi merasa iba kepadanya. Mungkin ia hidup seperti ini karena ia kesepian dan kurang kasih sayang, tetapi caranya untuk mendapatkan kasih sayang itu salah. Ia salah karena berusaha mendapatkan kasih sayang dari suami orang lain.

Aku jadi berpikir mungkin ini semua tak sepenuhnya salahnya. Ia hanya berusaha mendapatkan cinta, tetapi mengapa harus ayahku? Aku tahu bahwa cinta itu buta. Cinta tidak mengenal jenis kelamin. Ia mencintai sesama laki-laki. Cinta juga tidak mengenal usia. Ia mencintai ayahku yang berusia 20 tahun lebih tua darinya, bahkan kakekku yang jauh lebih tua.

Apa ia benar-benar mencintai ayahku? Aku kembali teringat ekspresinya saat menangisi kematian ayahku. Ia benar-benar terlihat sedih dan kehilangan. Ia tidak terlihat berpura-pura. Ck… Ia itu seorang model. Ia harus menampilkan berbagai ekspresi dalam pekerjaannya. Aku hampir saja tertipu.

Cinta? Apakah itu cinta?

Ahjusshi dan Jihoonie sangat menyayangiku. Mereka rela berpisah dengan keluarga mereka hanya demi diriku.

Walaupun aku sudah berpacaran dengan beberapa orang pria sebelumnya, tetapi aku tidak yakin apakah aku pernah mencintai mereka atau tidak. Dengan kekasih-kekasihku sebelumnya aku merasa nyaman. Namun, hubungan kami tidak pernah berjalan lama. Sedikit saja ada masalah di antara kami, kami langsung memutuskan untuk berpisah. Jika kami memang benar-benar saling mencintai, kami akan berusaha untuk mempertahankan cinta kami, walaupun halangan dan rintangan mengahadang. Sepertinya aku memang tidak pernah benar-benar jatuh cinta kepada mereka.

Hatiku tidak pernah merasa berdetak dengan kencang saat aku bersama dengan mereka. Segala perlakuan manis mereka tidak pernah sedikit pun membuatku merona dan salah tingkah. Rasanya biasa saja. Hanya satu orang yang sanggup membuatku seperti itu. Hanya dia yang sanggup membuatku terbang melayang. Jantungku serasa akan lepas hanya karena dia memandangku dengan matanya yang tajam. Aku selalu bersikap tenang saat berhadapan dengan orang lain, termasuk noona yang sangat kubenci. Namun, dengannya aku tak bisa berpikir jernih, aku tak bisa mengendalikan diriku.

Apakah pria itu ayahku? Tidak benar bahwa hanya satu orang yang dapat mebuatnya salah tingkah. Dia salah tingkah di depanku di bawah tangga tadi. Eh? Tidak mungkin kan kalau yang dimaksudnya adalah aku?

Tidak, orang itu bukanlah Jihoonie. Hubunganku dengannya tidaklah seperti yang orang lain pikirkan. Aku sudah menganggapnya seperti hyungku sendiri. Jihoonie benar-benar seperti seorang kakak yang melindungiku, melindungiku dari kakakku sendiri yang justru menginginkan kematianku.

Mengapa aku memanggilnya Jihoonie, bukan Hyung? Itu karena aku kalah taruhan dengannya. Saat itu aku bertaruh bahwa putranya tidak akan bisa meraih juara kelas. Ternyata perkiraanku salah, bocah manja itu bisa juga jadi juara kelas. Karena aku kalah, aku harus memanggilnya Jihoonie.

Bocah? Seenaknya saja dia menyebutku bocah. Dia benar-benar meremahkanku. Walaupun aku ini hanyalah seorang bocah di hadapannya, kenyataanya aku lebih tinggi dan lebih tampan darinya. Juniorku saja lebih besar dari miliknya.

Jadi, selama ini ayahku tidak berselingkuh? Lalu mengapa ayahku rela meninggalkan kami hanya untuk melindunginya? Apakah orang asing seperti Kim Jaejoong lebih berharga dibandingkan istri dan anaknya? Aku benar-benar tidak mengerti.

Bocah itu, putra dari Jihoonie. Dia lah yang telah mencuri hatiku.

Mataku terbelalak. Putra dari Jung Jihoon itu hanya aku kan?

Awalnya aku tidak percaya bahwa aku menyukainya. Dia itu hanya seorang bocah. Lagipula dia itu sangat menyebalkan. Namun, hanya dia lah yang bisa membuat jantungku berdetak dengan kencang. Pipiku terasa panas saat ia memandangku dan aku tak sanggup mengendalikan diriku saat berhadapan dengannya.

Saat pertama kali melihatnya secara langsung tiga tahun lalu, aku sudah merasakan getaran tersebut. Demi apa, dia hanyalah bocah berusia lima belas tahun.

Takdir membuat kami tinggal bersama di dalam satu atap. Bukan, tepatnya Jihoonie lah yang menyebabkan kami tinggal bersama. Ia tahu bahwa aku menyukai putranya. Ia bahkan mengatakan bahwa ia merestuiku sebagai menantunya. Kupikir ia hanya main-main saja saat mengatakannya.

Yang benar saja. Appa menginginkan aku menikah dengannya? Mengapa appa bisa berpikir seperti itu?

Awalnya aku menolak untuk tinggal dengannya. Aku tidak akan sanggup menerima perlakuannya. Aku tak sanggup untuk dibenci oleh orang yang kucintai.

Kupikir sikap kasarnya bisa membuat cintaku kepadanya pudar. Akan tetapi, justru aku semakin mencintainya. Aku tidak tahu bahwa aku adalah seorang masochist. Hehehe…

Saat berhadapan dengannya aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku. Beberapa kali aku melakukan hal-hal memalukan. Aku berani menciumnya, bahkan aku mengoralnya. Setelah kejadian itu, aku benar-benar merasa malu untuk bertemu dengannya. Jadi, aku memilih untuk menghindarinya.

Aku sangat terkejut dan tidak menyangka bahwa Kim Jaejoong mencintaiku. Walaupun aku sudah bersikap kejam kepadanya, dia tetap mencintaiku.

Jantungku berdegup dengan kencang saat berhadapan dengannya, bahkan dengan hanya memikirkannya saja detak jantungku menjadi tidak normal. Selama aku terbangun, aku selalu memikirkannya. Hanya dia yang berkeliaran di kepalaku. Aku tak suka saat membayangkan dirinya dengan orang lain dan juga dipeluk oleh Tiffany. Apakah aku juga jatuh cinta kepadanya?

Dengan sendirinya, tubuhku bangkit dari tempat tidurku. Aku keluar dari kamarku dan langsung melesat ke kamarnya. Entah apa yang mengendalikanku. Aku tak bisa menghentikan kakiku.

Kubuka pintu kamarnya. Ia yang masih kurang sehat sedang berbaring di tempat tidurnya. Ia terhenyak saat aku masuk ke kamarnya tiba-tiba. Kupeluk dia dia atas tempat tidur. Posisiku kini menindih tubuh mungilnya. Tanpa keraguan sedikit pun kulumat bibirnya. Bibirnya terasa sangat memabukkan. Terus kuhisap bibir ceri tersebut. Awalnya ia tampak terkejut dan hanya bisa memandangiku tak percaya. Namun, ia kemudian membalas ciumanku. Ia memejamkan matanya dan mengalungkan lengannya di leherku untuk memperdalam ciuman kami.

Ia mulai menyusupkan lidahnya ke sela-sela bibirku. Lidahnya mengeksplor seluruh permukaan di dalam mulutku. Ia seolah-olah mengajariku, menuntunku. Aku sudah mengerti sekarang. Aku pun tak ingin ia yang memegang kendali. Sekarang adalah giliranku. Kudorong lidahku masuk ke dalam rongga mulutnya dan melakukan hal yang sama dengan dirinya sebelumnya.

Setelah beberapa menit berciuman. Aku mulai kehabisan nafas. Kulepas ciuman kami dan berbisik di telinganya. “Aku mencintaimu.”

TBC

Not a Perfect Family (Chapter 4)

Title: Not a Perfect Family

Author: alienacass

Genre: Family, drama, humor

Pairing: Yunjae

Rating: PG-15

Length: 4/?

Disclaimer: TVXQ are not mine, but the story is mine.

Warning: Yaoi, mpreg

Characters: Kim Jaejoong (25), Jung Yunho (36), Yoochun (10), Junsu (8), dll

Summary:

Jung Yunho, duda beranak satu yang tampan dan kaya menikahi Kim Jaejoong yang juga merupakan single parent. Akankah mereka berhasil membangun keluarga yang sempurna?

Chapter 3

Chapter 4

Jaejoong mendapatkan telepon dari kepala sekolah bahwa Yoochun telah memukul Eunhyuk, teman Junsu. Ia pun datang ke sekolah untuk memenuhi panggilan kepala sekolah. Ny. Lee, ibu Eunhyuk juga datang ke sekolah.

Kepala sekolah menjelaskan kepada Jaejoong dan Ny. Lee bahwa Yoochun memukul Eunhyuk yang menyebabkan Eunhyuk jatuh pingsan. Para saksi mata di lapangan mengatakan bahwa Junsu dengan sengaja menendang bola ke arah Yoochun yang sedang makan di bangku yang berada di pinggir lapangan. Yoochun pun marah dan berniat memukul Junsu. Namun, Junsu mengelak dan pukulan Yoochun mengenai Eunhyuk yang saat itu sedang berdiri di belakang Junsu.

Jaejoong meminta maaf kepada kepala sekolah dan terutama kepada Eunhyuk dan Ny. Lee. Untung saja Jaejoong dan Ny. Lee sudah lama saling mengenal karena anak mereka berteman dekat, sehingga masalah dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Akibat kejadian ini, Yoochun diskors selama seminggu, karena ia sudah terlalu sering berkelahi di sekolah dan Junsu hanya mendapatkan peringatan.

***

“Maafkan aku, Umma.” Junsu terus meminta maaf sepanjang perjalanan pulang, sedangkan Yoochun hanya diam saja. Ia sangat kesal kepada adik tirinya tersebut.

Jaejoong tidak menjawab. Pikirannya sangat kalut  saat ini. Ia tidak pernah menghadapi masalah seperti ini sebelumnya. Selama ini Junsu adalah anak yang baik dan tidak pernah membuat masalah di sekolah. Ia merasa gagal sebagai orang tua dari kedua anaknya sekarang. Apa yang harus ia katakan kepada suaminya? Sebagai seorang ibu, ialah yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Padahal ia baru tiga hari menjadi seorang istri dari Jung Yunho, ia sudah merasa gagal.

***

Sesampainya di rumah, Jaejoong langsung menyuruh anak-anaknya pergi ke kamar mereka masing-masing. Ia perlu berpikir mengenai apa yang harus ia lakukan selanjutnya kepada kedua anaknya. Saat ini ibu mertuanya sedang pergi arisan. Ia tidak tahu harus berkonsultasi kepada siapa mengenai masalahnya tersebut.

Tanpa Jaejoong suruh pun Yoochun sudah melesat menuju kamarnya. Ia membanting pintu kamarnya dengan keras, sehingga membuat Jaejoong dan Junsu terkejut.

“Umma, kumohon jangan hukum aku!” Junsu terus memohon sambil menangis.

“Jung Junsu, apa kau tidak dengar perintah umma? Cepat masuk ke kamarmu dan renungkan kesalahanmu!.” Ucap Jaejoong dingin. “Umma benar-benar kecewa kepadamu.”

Junsu bisa merasakan bahwa ibunya sedang benar-benar marah. Ibunya selalu memanggilnya dengan panggilannya kesayangannya, tetapi tidak untuk saat ini. Itu artinya sang ibu benar-benar marah. “Kumohon Umma~ Jangan marah seperti ini kepadaku! Umma membuatku takut.”

“Selama ini kau selalu menjadi anak yang baik dan selalu menjadi kebanggaan umma, tetapi kenapa kau berubah menjadi nakal seperti ini? Tidak bisakah kau akur dengan kakak tirimu?” Jaejoong tak bisa terus-menerus marah kepada anaknya.

“Aku tak suka dengannya.” Junsu berterus terang. “Ia menyebalkan.”

“Ia sangat kesepian setelah ditinggal oleh ibunya. Seharusnya kau bisa menjadi teman yang baik untuknya agar ia tidak kesepian lagi. Apa kau tidak senang sekarang mempunyai seorang kakak?” Jaejoong mencoba memberi pengertian kepada Junsu.

“Aku tidak suka punya kakak seperti dia. Aku juga tidak suka umma menikah dengan ahjusshi berwajah kecil itu.” Junsu mengaku.

“Apa?” Jaejoong terkejut dengan pengakuan anaknya tersebut. Ia tahu bahwa Junsu memang pernah tidak menyetujui saat ia memutuskan untuk menikah dengan Yunho. Namun, ia tidak menyangka bahwa putranya tersebut masih tidak menyetujuinya sampai sekarang. “Tapi mengapa?”

“Aku tidak suka orang lain masuk ke dalam kehidupan kita.” Junsu meninggikan nada bicaranya. “Selama ini aku sudah merasa bahagia hidup berdua saja dengan umma.”

“Jun-chanku sayang.” Jaejoong memeluk Junsu. “Umma menikah untuk kebahagiaanmu juga, untuk kita berdua. Umma ingin kau bisa merasakan sebuah keluarga yang utuh. Umma ingin kau bisa merasakan kasih sayang seorang ayah.”

“Aku tidak butuh seorang ayah!” Junsu melepaskan pelukan Jaejoong di tubuhnya. “Kasih sayang umma kepadaku sudah cukup. Justru dengan pernikahan umma, umma bukanlah milikku sendiri lagi.” Ia kembali terisak.

Jaejoong tidak bisa menahan air matanya. Ternyata putranya tersebut sangat menyayanginya seperti itu. “Tapi kasih sayang seorang ibu tidaklah cukup bagi seorang anak. Seorang anak juga membutuhkan kasih sayang seorang ayah dan umma merasa sangat bersalah kepadamu karena selama delapan tahun ini kau tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.”

“Umma jangan merasa bersalah kepadaku! Itu bukan salah umma, tetapi pria brengsek itu yang telah menelantarkan umma. Justru umma adalah segalanya bagiku. Terima kasih karena umma telah mengandung, melahirkan, dan membesarkanku.” Junsu memeluk ibunya. “Pasti umma merasa kerepotan selama ini.”

Jaejoong membalas pelukan Junsu. “Umma sangat menyayangimu dan umma ingin yang terbaik untukmu. Oleh karena itu, umma memutuskan untuk menikahi Yunho Appa. Umma yakin ia bisa jadi appa yang baik untukmu.”

“Tidak.” Junsu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mau.”

“Mengapa?” Jaejoong kembali bertanya sambil menatap anaknya. “Tidakkah kau senang karena sekarang kita bisa tinggal di rumah sebesar ini? Umma juga tidak perlu bekerja lagi dan bisa lebih memerhatikanmu.”

“Aku tidak perlu tinggal d rumah yang besar. Aku juga bisa membantu umma bekerja. Aku janji bahwa aku tidak akan pernah mengeluh.” Junsu tetap bersikeras.

“Jadi apa maumu? Apa kau mau umma bercerai dengan Yunho Appa?” Jaejoong meminta jawaban.

Junsu tidak menjawab. Ia tidak tega untuk menjawabnya. Ia takut Jaejoong akan bersedih.

“Umma juga ingin dicintai dan dilindungi. Umma juga ingin merasakan hidup berrumah tangga.” Jaejoong mengungkapkan keinginannya kepada anaknya.

“Aku akan mencintai umma melebihi apapun.” Balas Junsu.

“Dengar, Jun-chan! Cinta seorang anak kepada orang tua berbeda dengan cinta suami kepada istri.” Jaejoong menjelaskan.

“Apa bedanya? Aku bahkan bisa mencintai umma melebihi ahjusshi itu.” Junsu protes.

“Kalau kau sudah besar kau akan mengerti.” Jawab Jaejoong. “Kalau kau nanti sudah besar dan jatuh cinta kepada seseorang, bagaimana dengan umma? Umma akan kesepian.”

“Aku berjanji aku tidak akan meninggalkan umma sendiri.” Junsu berusaha meyakinkan Jaejoong.

“Saat itu pasti akan tiba. Kau akan pergi bersama orang yang kau cintai.” Balas Jaejoong.

“Apa umma mencintainya?” Junsu takut Jaejoong lebih mencintai Yunho daripada dirinya.

“Umma adalah istrinya sekarang. Itu artinya umma harus berbakti kepadanya.” Jaejoong sendiri tidak tahu apakah ia dan Yunho saling mencintai.

“Bagaimana kalau aku meminta umma untuk bercerai?” Junsu memandang Jaejoong dengan perasaan takut.

“Kau tidak boleh egois, Sayang! Kau harus memikirkan perasaan umma, Yunho Appa, dan juga halmoni. Apa yang orang akan pikirkan jika kami bercerai saat baru tiga hari menikah? Orang akan mengira Yunho Appa bukan suami yang baik dan para mitra bisnisnya mulai kehilangan kepercayaan kepadanya.” Jaejoong menjelaskan. “Bagaimana kalau ternyata umma hamil dari hasil pernikahan kami yang baru berusia tiga hari tersebut? Itu artinya umma akan membesarkan anak sendirian lagi. Apa kau mau adikmu juga tidak merasakan kasih sayang ayahnya?”

Junsu terdiam. Ia memikirkan kata-kata Jaejoong. Ia ingin ibunya bercerai, tetapi sepertinya sang ibu tidak mau.

“Sudahlah! Sekarang sebaiknya kau istirahat di kamarmu. Ini masih siang. Kau tidak takut tidur sendirian kan?” Jaejoong menyuruh Junsu untuk ke kamarnya dan Junsu pun berjalan dengan lemas menuju kamarnya.

***

Masalah dengan Junsu tampak sudah selesai. Sekarang Jaejoong harus menghadapi anaknya tirinya. Perannya sebagai ibu bagi Yoochun sedang diuji. “Chunnie, apa kau tidak sedang tidur?” Jaejoong mengetuk pintu kamar Yoochun.

Yoochun yang sedang berbaring di tempat tidurnya sambil menatap langit-langit merasa terganggu. “Mau apa kau kemari?”

“Umma ingin berbicara denganmu.” Jawab Jaejoong dari luar kamar.

“Apa kau ingin memarahiku? Sudahlah, pergi sana! Aku sudah bosan dimarahi.” Ujar Yoochun ketus.

“Umma tidak akan memarahimu. Umma hanya ingin bicara.” Kata Jaejoong lagi.

“Apa yang ingin kau bicarakan? Jangan campuri urusanku!” Yoochun masih tidak ingin mempersilakan Jaejoong memasuki kamarnya. “Dan berhentilah menyebut dirimu sebagai ibuku. Kau bukan ibuku dan tidak akan pernah menjadi ibuku.”

Perkataan Yoochun menusuk hati Jaejoong. Sejak awal Jaejoong tahu bahwa tidak akan mudah untuk menjalin hubungan baik dengan anak tirinya. Namun, ia tidak boleh menyerah. Ia harus terus berusaha untuk mendapatkan hati Yoochun. “Baiklah, tidak apa-apa jika kau tidak mau menerimaku sebagai ibumu. Aku tak akan memaksa. Akan tetapi, tidak bisakah kita berteman? Setidaknya biarkan aku bicara denganmu kali ini saja.”

Yoochun malas berdebat dengan Jaejoong. Ia pun membukakan pintu kamarnya untuk Jaejoong. Ia berharap setelah selesai berbicara, Jaejoong akan segera pergi. “Masuklah!”

Jaejoong pun masuk. “Terima kasih.” Ia kemudian duduk di kursi yang ada di kamar Yoochun.

Yoochun duduk di tepi tempat tidurnya, menghadap Jaejoong. “Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Itu… mengenai kejadian di sekolah.” Jaejoong tidak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan dengan Yoochun.

“Kalau kau ingin melaporkanku kepada appa, silahkan saja! Aku tidak peduli.” Yoochun memotong perkataan Jaejoong.

“Bukan begitu. Maksudku… Ya memang aku pasti memberitahukan appamu mengenai hal ini. Sebagai kepala keluarga tentu saja ia harus mengetahui semua yang terjadi kepada seluruh anggota keluarganya. Namun, tujuanku berbicara denganmu adalah…” Jaejoong berhenti sejenak. “Aku ingin meminta maaf kepadamu atas nama Junsu.”

Yoochun sedikit terhenyak. Ia tidak mengira bahwa Jaejoong ingin meminta maaf atas nama Junsu.

“Ia memang salah dan kesalahannya telah menyebabkanmu diskors selama seminggu. Akan tetapi, kumohon maafkanlah dia! Ia lebih muda darimu dan aku yakin ia tidak berniat untuk membuatmu diskors.” Jaejoong berusaha meyakinkan Yoochun untuk memaafkan Junsu. “Ini juga salahku karena tidak bisa mendidiknya dengan baik. Aku berjanji akan mendidiknya lebih baik lagi, sehingga hal seperti ini tak akan terulang kembali. Maukah kau memaafkan Junsu?”

Yoochun tiba-tiba teringat akan ibunya. Jika ibunya masih hidup, ibunya pasti melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Jaejoong. Ia tiba-tiba merasa iri kepada Junsu yang masih mempunyai ibu yang sangat menyayanginya. Walaupun Junsu tidak punya ayah, ia tampak tidak pernah kekurangan kasih sayang. Tidak seperti dirinya yang masih punya ayah, tetapi sepertinya ayahnya tersebut sama sekali tidak peduli kepadanya. “Baiklah, untuk kali ini aku maafkan. Akan tetapi, lain kali aku tidak janji aku bisa memaafkannya.”

Jaejoong tersenyum mendengar pernyataan Yoochun. “Terima kasih banyak! Kau memang anak yang baik dan pemaaf. Aku berjanji hal ini tidak akan terulang lagi.”

“Kalau begitu, urusanmu denganku sudah selesai kan? Kau bisa meninggalkanku sendiri. Aku ingin tidur. Aku harus menyiapkan diriku untuk dimarahi appa.” Yoochun ‘mengusir’ Jaejoong dari kamarnya.

“Baiklah, aku akan pergi. Selamat beristirahat! Kau pasti sangat lelah.” Jaejoong berjalan menuju pintu kamar Yoochun, tetapi ia kemudian berbalik. “Mengenai ayahmu, aku akan berusaha untuk berbicara kepadanya agar ia tidak marah kepadamu atau setidaknya ia tidak menambah hukumanmu. Hukuman yang kau terima dari sekolah sudah cukup berat. Semoga saja aku bisa sedikit melunakkan hatinya.”

Sepeninggal Jaejoong, Yoochun mengambil foto ibunya yang dipajang di atas meja belajarnya. Ia memeluk foto tersebut dengan erat. “Umma, aku merindukanmu.” Ia menangis tanpa suara, seperti biasanya, sampai akhirnya ia tertidur.

***

Setelah dari kamar Yoochun, Jaejoong bermaksud memeriksa keadaan Junsu di kamarnya. Ia membuka sedikit pintu kamar Junsu. Bocah tersebut sedang tertidur lelap di atas tempat tidurnya. Jaejoong pun masuk dan menyelimuti tubuh anaknya dan kemudian mencium kening Junsu. “Umma sangat menyayangimu, Nak.”

***

“Aku pulang!” Tak seperti biasanya, Yunho pulang sebelum makan malam tiba.

Jaejoong yang sedang memasak segera mematikan kompor untuk menyambut kedatangan suaminya. “Selamat datang!” Ia segera membawakan tas kerja suaminya.

“Sepi sekali. Kemana umma dan anak-anak?” Yunho merasakan ada kejanggalan di rumahnya.

“Anak-anak sedang berada di kamar mereka masing-masing. Aku akan memanggil mereka jika makan malam sudah siap.” Jaejoong mengikuti Yunho menuju kamar mereka. “Sedangkan umma sejak tadi siang pergi arisan.”

“Pergi arisan?” Yunho mengernyitkan dahinya. “Sudah jam berapa ini? Mengapa umma belum pulang juga? Keterlaluan! Ia menyuruhku pulang cepat, tetapi ia sendiri belum pulang. Kalau tahu ia tidak ada di rumah, aku tidak perlu buru-buru pulang.”

Jaejoong hanya bisa tersenyum menanggapi ocehan suaminya. Suaminya ini benar-benar workaholic. “Apa kau ingin mandi? Biar aku siapkan air hangat untukmu.”

“Tidak usah. Aku bisa sendiri. Sebaiknya kau siapkan saja makan malam.” Yunho melangkah menuju kamar mandi.

“Yun, ada yang ingin aku bicarakan.” Jaejoong menggigit bibir bagian bawahnya karena gugup. Ia takut Yunho akan marah.

Yunho berbalik menatap istrinya. “Ada apa?” Ia merasakan sepertinya ada yang tidak beres. “Apa ada masalah?”

“Berjanjilah kau akan tetap tenang dan tidak marah!” Kata Jaejoong sebelum mulai bercerita kepada Yunho.

“Apa anak-anak bertengkar lagi?” Yunho menebak-nebak. Ia melihat ketakutan terpancar di wajah istrinya. “Baiklah, aku berjanji aku akan tenang sampai kau selesai bercerita.”

Jaejoong merasa sedikit lega karena Yunho berjanji tidak akan emosi. Ia pun menceritakan kejadian tadi siang di sekolah.

“Apa?” Yunho terkejut mendengar kabar bahwa Yoochun diskors karena memukul teman Junsu.

“Kumohon kau jangan memarahi Yoochun! Ia sudah mendapatkan hukuman dari sekolah.” Jaejoong mencoba menenangkan suaminya.

“Aish! Anak itu selalu saja membuat masalah.” Yunho memijat keningnya.

“Itu bukan sepenuhnya salah Yoochun.” Jaejoong memelas. “Ini juga salahku. Maafkan aku yang tidak bisa melaksanakan tugasku sebagai ibu mereka dengan baik.” Ia menundukkan wajahnya, tak berani menatap suaminya.

“Sudahlah! Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri! Aku pun juga salah. Selama ini aku kurang memerhatikannya. Mungkin ia menjadi nakal karena ingin menarik perhatianku.” Yunho melangkah ke kamar mandi dan mengisi bak mandi dengan air hangat. “Aku pusing. Aku ingin berendam untuk menenangkan diri.” Jika ia bisa memilih, ia lebih memilih menghadapi masalah pekerjaannya.

“Apa kau ingin aku memijat pundakmu? Sepertinya kau merasa terbebani.” Jaejoong ingin memastikan emosi suaminya mereda agar Yunho tidak memarahi Yoochun habis-habisan.

“Tidak usah repot-repot. Sebaiknya kau siapkan makan malam saja.” Ujar Yunho yang sekarang sudah berendam di dalam bak mandi dan menyandarkan punggungnya ke dinding.

“Tidak apa-apa. Makanannya sudah matang, hanya tinggal menatanya saja di meja makan.” Dengan inisiatifnya Jaejoong mulai memijat pundak suaminya.

“Baiklah, kalau kau tidak merasa repot.” Yunho memejamkan matanya dan menikmati pijatan istrinya di bahunya. “Pijatanmu enak juga.”

“Hehehe…” Jaejoong merasa senang karena mendapatkan pujian dari suaminya. “Ingat ya, Yun! Saat makan nanti, jangan membahas hal ini dengan anak-anak. Biarkan mereka menikmati makan malamnya dengan tenang! Kau baru boleh membicarakan hal ini setelah mereka selesai makan malam.”

“Baiklah, terserah apa katamu saja. Aku tak akan mengungkit masalah ini saat kita sedang makan.” Yunho benar-benar terbuai dengan pijatan istrinya.

***

Keempat anggota keluarga Jung sudah berkumpul di meja makan. Mereka sedang menunggu anggota keluarga mereka yang tertua. Tidak ada satu pun di antara mereka yang bersuara, terutama Yoochun dan Junsu yang sedang cemas karena takut dimarahi oleh sang kepala keluarga.

“Kemana saja nenek tua itu? Masa pergi arisan sampai selarut ini?” Yunho sudah mulai tidak sabar menunggu. Ia kemudian memandang kedua anaknya dan kedua anak tersebut langsung menundukkan kepala mereka. “Kalian pasti sudah lapar. Kita makan duluan saja. Ayo kita makan!”

“Lalu bagaimana dengan umma?” Jaejoong bertanya kepada suaminya.

“Biarkan saja! Kita habiskan saja makanannya. Salahnya sendiri karena pulang terlambat. Paling si nenek sihir itu sudah makan dengan teman-temannya.” Jawab Yunho.

Atas perintah Yunho, Jaejoong pun akhirnya mulai mengisi piring anggota keluarganya.

Yoochun dan Junsu tampak tidak berselera makan. Mereka sedang menunggu waktu untuk dimarahi oleh Yunho.

“Kenapa kalian berdua hanya mengaduk-ngaduk makanannya saja? Apa makanannya tidak enak?” Tanya Yunho. Sebenarnya ia tahu bahwa kedua anak tersebut sedang ketakutan. “Ayo makan yang banyak! Kalian harus menghargai umma kalian yang sudah bersusah payah memasak untuk kita.” Ia menambahkan sayuran ke dalam piring Yoochun dan ayam ke piring Junsu. “Kau harus makan sayuran lebih banyak dan si pantat bebek sepertinya perlu lebih banyak makan daging. Ayo habiskan! Aku akan marah dan menghukum kalian jika makanan di piring kalian ada yang tersisa.”

Yoochun dan Junsu benar-benar semakin ketakutan mendengar ancaman Yunho. Mereka pun dengan cepat melahap makanan di piring mereka.

“Jangan terlalu cepat, nanti tersedak!” Yunho diam-diam tersenyum melihat tingkah anak mereka.

***

Saat acara makan malam sudah selesai, Yunho mengumpulkan istri dan anak-anaknya di ruang keluarga. “Appa ingin bicara dengan kalian berdua.”

Yoochun dan Junsu sudah bersiap-siap untuk dimarahi. Mereka berdua duduk di depan Yunho sambil tertunduk.

“Umma sudah menceritakannya kepada appa.” Yunho membuka pembicaraan. “Jidat lebar, kalau kau berkelahi terus mau jadi apa nanti?”

Yoochun memperkirakan bahwa ayahnya akan marah sambil berteriak-teriak. Namun, ternyata Yunho masih bisa berbicara dengan tenang. Ia pun dengan ragu-ragu menatap wajah ayahnya. Ayahnya memang memasang wajah serius, tetapi tidak ada sama sekali kemarahan di sana.

“Kau diskors selama seminggu tidak boleh ke sekolah. Itu artinya kau ketinggalan pelajaran di sekolah selama seminggu. Kalau lain kali kau diskors lagi, lebih baik kau mengikuti program home schooling saja.” Lanjut Yunho.

“Aku lebih baik ikut home schooling saja, tidak usah pergi ke sekolah.” Balas Yoochun. “Bukankah itu lebih baik? Aku tidak akan berkelahi lagi di sekolah karena aku tidak pergi ke sekolah.”

Yunho menunjuk dahi Yoochun dengan telunjuknya. “Sekolah itu bukan hanya tempat untuk menuntut ilmu, tetapi di sana kau bisa bersosialisasi dengan orang lain. Appa tidak ingin kau jadi anak pintar tetapi tak bisa bergaul.”

“Untuk apa aku ke sekolah? Toh aku tak punya teman di sekolah.” Kata Yoochun.

“Itu karena kau tidak mau bergaul. Kalau kau mau, kau bisa berteman dengan siapa saja. Bersikap baiklah kepada orang lain, maka orang lain pun akan senang bergaul denganmu.” Yunho menasihati anaknya. “Kau kan satu sekolah dengan Junsu, mulailah berteman dengannya! Kalau kau tidak akur dengan saudaramu, bagaimana kau akan akur dengan orang lain?”

“Dia membenciku.” Jawab Yoochun lirih.

“Dia membencimu karena sikapmu menyebalkan. Kalau kau tidak menyebalkan, dia tak akan benci kepadamu.” Balas Yunho. “Baiklah, appa ingin kalian berbaikan dan saling mengenal lebih dekat. Mulai malam ini pantat bebek tidur di kamarmu. Lagipula ia takut tidur sendirian.”

“Tidak mau.” Junsu merengek. “Aku ingin tidur dengan umma.”

“Tidak bisa! Ummamu tidur denganku.” Tegas Yunho kepada Junsu.

“Aku pulang!” Tiba-tiba saja Ny. Jung pulang. Ia tiba-tiba saja membeku melihat anaknya sudah ada di rumah. “Eh, tumben sekali kau sudah pulang.”

“Umma dari mana saja jam segini baru pulang?” Yunho menatap ibunya tajam.

“Umma pergi arisan dengan teman-teman umma. Kami sudah lama tidak bertemu dan keasyikan mengobrol sampai lupa waktu.” Ny. Jung tersenyum gugup.

“Apa umma tahu sekarang jam berapa?” Yunho semakin mengintimidasi ibunya.

“Ya, umma tahu. Umma memakai jam tangan.” Ny, Jung menunjukkan jam tangannya. “Jangan khawatir, umma pergi diantar sopir.”

“Siapa yang mengkhawatirkan umma? Umma menyuruhku pulang cepat, tetapi umma sendiri pulang selarut ini.” Yunho menyindir ibunya. “Apa umma tahu kalau cucu kesayangan umma berkelahi lagi dan ia diskors selama satu minggu?”

“Apa?” Ny. Jung menatap cucu kesayangannya. Ia langsung memeluk cucunya tersebut. “Apa appamu memarahimu, Sayang?”

“Aku tidak memarahinya.” Yunho tidak terima ibunya berprasangka buruk kepadanya.

“Sudah, jangan bertengkar!” Jaejoong mencoba menengahi suami dan ibu mertuanya. “Apa umma sudah makan? Kalau belum, sebaiknya umma makan dulu. Umma pasti lapar.”

***

Yunho memindahkan tempat tidur Junsu dan beberapa barang lainnya ke kamar Yoochun. “Sekarang kalian tidurlah! Jangan bertengkar terus! Kalau sampai appa mendengar kalian ribut-ribut, appa akan mengunci kalian berdua dan tidak akan membukanya sampai kalian berbaikan. Mengerti?”

Yoochun dan Junsu yang ketakutan dengan ancaman Yunho hanya mengangguk. Sudah untung mereka tidak dimarahi karena kejadian di sekolah.

“Bagus.” Setelah memastikan kedua anaknya berbaring di tempat tidurnya masing-masing, Yunho pun mematikan lampu kamar tersebut. “Selamat tidur, anak-anak!” Ia pun menutup pintu kamar anaknya.

***

Jaejoong sudah berbaring di atas tempat tidur saat Yunho masuk ke kamar mereka. “Kau keren sekali malam ini.” Ia mengacungkan kedua jempolnya. “Kupikir kau akan memarahi mereka.”

“Hohoho… Tentu saja. Aku memang keren.” Yunho mulai narsis. “Terima kasih, Jae! Kalau tidak ada kau, mungkin aku sudah memarahi mereka habis-habisan.”

“Kita adalah orang tua mereka. Kita harus bekerja sama untuk mendidik anak-anak kita.” Kata Jaejoong.

“Benar juga. Mendidik anak bukan hanya kewajiban seorang ibu, tetapi juga kewajiban seorang ayah.” Yunho berbaring di samping istrinya. “Selama ini aku sudah melalaikan kewajibanku. Kupikir kewajiban seorang kepala keluarga hanyalah menafkahi keluarganya. Aku terlalu sibuk bekerja, sehingga mengabaikan keluargaku.”

“Kita bisa memperbaikinya bersama-sama.” Jaejoong menyemangati suaminya.

“Sebelum semuanya terlambat, aku ingin memperbaikinya. Hubunganku dengan Yoochun benar-benar kacau. Aku benar-benar menyesal dan merasa bersalah kepada Soojin.” Yunho mengingat-ingat kesalahannya di masa lalu. “Aku benar-benar bersalah kepadanya. Kini ia sudah pergi, aku tak bisa menebus kesalahanku.”

Entah mengapa perasaan Jaejoong terasa sedikit sakit saat Yunho menyebut mendiang istrinya. “Untuk menebus kesalahanmu kepadanya, kau harus menjadi ayah yang baik bagi putra kalian.”

Tiba-tiba Yunho terisak. Ia tak bisa menahan luapan beban yang selama ini mengganjal di hatinya.

“Eh, kenapa kau menangis? Apakah ada perkataanku yang menyinggung perasaanmu?” Jaejoong terkejut melihat suami yang selama ini ia pikir seorang yang berkepribadian kuat ternyata bisa menangis juga.

“Tidak. Aku hanya teringat kesalahan-kesalahanku di masa lalu. Bukan hanya kepada Soojin aku bersalah, tetapi juga kepada ayahku.” Yunho mencoba untuk membuka diri kepada istri barunya.

“Ayahmu?” Selama ini Jaejoong tidak pernah mendengar cerita mengenai ayah Yunho.

“Kau tahu mengapa aku menjadi orang yang gila kerja?” Yunho bertanya kepada Jaejoong.

Jaejoong hanya menggeleng. “Tidak.”

“Aku ingin menunjukkan kepada ayahku bahwa aku bisa menjadi orang yang sukses.” Yunho bercerita. “Dulu aku dan orang tuaku tinggal di kampung halaman kami di Gwangju. Ayahku mempunyai sebuah toko di samping rumah kami. Namun, di daerah tempat tinggal kami terjadi kebakaran besar dan toko ayahku terbakar habis. Beruntung, keluarga kami hanya kehilangan toko. Rumah kami tidak terbakar habis, tidak seperti Soojin yang selain kehilangan tempat tinggalnya, ia juga kehilangan seluruh anggota keluarganya.”

“Oh.” Sekarang Jaejoong tahu bahwa Yunho dan Soojin sudah saling mengenal sejak dulu.

“Orang tuaku membawa Soojin tinggal bersama kami dan orang tuaku berusaha untuk membangun kembali usaha kami. Akan tetapi, karena kami sudah banyak kehilangan harta benda akibat peristiwa kebakaran tersebut, usaha kami sulit untuk berkembang.” Yunho melanjutkan ceritanya. ”Aku pun yang saat itu baru saja lulus SMA memutuskan untuk mengadu nasib ke Seoul. Namun, appa melarangku. Ia tidak yakin dengan kemampuanku yang baru saja lulus SMA. Ia mengatakan bahwa aku tidak akan sanggup bertahan di kota besar seperti Seoul tanpa seorang pun yang kukenal.”

Jaejoong mendengarkan Yunho dengan seksama. “Lalu kau bersikeras untuk pergi, walaupun appamu melarangmu?”

“Ya. Saat itu aku adalah seorang pemuda dengan semangat yang sangat tinggi dan tanpa perhitungan apa pun. Appa sangat marah dan mengatakan bahwa jika aku tetap pergi, ia tak akan mengakuiku lagi sebagai anaknya.” Yunho kembali bercerita. “Aku pun pergi dan bertekad bahwa aku hanya akan kembali ke kampung halamanku jika aku sudah berhasil.”

“LIhatlah dirimu sekarang! Appamu pasti sangat bangga kepadamu.” Kata Jaejoong.

“Appa tidak sempat menyaksikan kesuksesanku. Ia meninggal dunia sebelum aku membuktikan kepadanya bahwa aku mampu.” Balas Yunho.

“Maaf, aku turut berduka cita.” Jaejoong turut bersedih.

“Appa tidak pernah mau berbicara denganku saat aku menelepon. Aku hanya berbicara dengan umma dan ia tidak mengizinkan umma untuk memberitahuku saat ia sedang sakit parah.” Yunho kembali terisak.

Jaejoong memeluk Yunho untuk menenangkannya. “Aku yakin appamu melihatmu dari atas sana. Ia pasti sangat bangga karena kau bisa membuktikan ucapanmu.”

“Aku bekerja sangat keras untuk memenuhi janjiku. Yang ada dalam pikiranku hanyalah bekerja dan bekerja. Kebiasaan tersebut masih terbawa sampai sekarang.” Yunho memeluk Jaejoong erat. “Namun, semua itu sia-sia, karena appa tidak pernah menyaksikannya. Saat ia dalam keadaan sekarat pun, ia masih saja melarang umma untuk memberitahuku. Umma baru memberitahuku saat appa sudah meninggal dunia.”

Jaejoong jadi teringat akan keluarganya. Ia dan Yunho sama-sama pernah diusir dari rumah. Namun, alasan ia diusir tidak seperti Yunho yang ingin membuktikan kemampuannya kepada ayahnya. Ia diusir karena telah mencemarkan nama baik keluarga. Entah bagaimana keadaan keluarganya sekarang, ia tidak tahu. Ia ikut menangis bersama Yunho.

Yunho melepaskan pelukannya dan kemudian menatap istrinya. “Jae, terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku.” Ia mengusap air matanya. “Kau sampai ikut menangis karenaku.” Ia tidak tahu bahwa Jaejoong menangis karena hal lain.

“Aku adalah istrimu sekarang. Kau bisa berbagi semua kesedihanmu denganku.” Jaejoong tersenyum untuk menghibur suaminya.

Yunho terkekeh. “Benar juga.“ Ia menertawakan dirinya sendiri. “Jae~”

“Ya?” Sahut Jaejoong.

“Apa kau tidak takut aku akan memperlakukan dirimu sama seperti aku memperlakukan Soojin? Aku memperlakukannya dengan sangat buruk. Aku bukan suami yang baik.” Tanya Yunho.

“Yang lalu biarlah berlalu. Kita bisa mulai dari awal, bersama anak-anak kita.” Jawab Jaejoong.

Yunho tersenyum mendengar jawaban Jaejoong. “Terima kasih, Jae! Tetaplah di sisiku dan bantu aku untuk memperbaiki sikapku! Aku membutuhkanmu.” Ia menatap Jaejoong dalam dan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Ia menempelkan bibirnya di bibir Jaejoong. Ia menciumnya dengan sangat lembut. Ia mulai menghisap bibir istrinya pelan.

Jaejoong membalas ciuman Yunho dan mengalungkan lengannya di leher suaminya untuk memperdalam ciuman mereka. Semakin lama ciuman mereka semakin intens dan bernafsu.

***

Junsu yang tidak biasa tidur tanpa dipeluk oleh ibunya tidak bisa memejamkan matanya. Ia terus gelisah dan berguling-guling di atas tempat tidur, kemudian ia menyalakan lampu kamar. Mungkin saja ia akan bisa terlelap jika lampunya dinyalakan.

Yoochun yang tidak terbiasa tidur dengan lampu menyala merasa terganggu. Ia pun terbangun. “Kenapa kau menyalakan lampunya?”

“Aku tidak bisa tidur.” Jawab Junsu.

“Kalau lampunya dinyalakan, aku pun jadi tak bisa tidur.” Yoochun protes.

“Lalu aku harus bagaimana? Aku tak bisa tidur tanpa umma.” Tanya Junsu.

“Itu urusanmu. Dasar anak manja!” Ejek Yoochun.

“Apa kau mau memelukku sampai aku tertidur?” Tanya Junsu.

“Tidak mau!” Tolak Yoochun. “Ini kamarku. Jadi, kau harus mengikuti semua aturan yang berlaku di kamarku. Lampu harus dimatikan saat aku tidur.”

Junsu merasa kesal. Ia pun melempar bantal ke arah Yoochun dan bantal tersebut sukses mendarat tepat di dahi Yoochun yang lebar.

“Kurang ajar kau!” Yoochun bangkit dari tempat tidurnya dan memukuli Junsu dengan bantal.

Junsu pun tidak mau kalah. Ia juga membalas Yoochun dengan memukul Yoochun dengan bantal. Terjadilah perang bantal di antara kedua kakak beradik itu.

***

“Eung…” Jaejoong mendesah di sela-sela ciumannya dengan Yunho saat Yunho menelusupkan tangannya ke bawah kausnya dan meraba-raba dadanya yang montok. Tampaknya suaminya tersebut sangat menyukai dadanya yang montok.

“Sayang, aku suka dadamu.” Yunho mulai memainkan putting Jaejoong.

Jaejoong hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan Yunho kepadanya.

“Jae, aku menginginkanmu.” Bisik Yunho di telinga Jaejoong.

Jaejoong hanya bisa mengganggukkan kepalanya. Sentuhan Yunho di dadanya benar-benar membuatnya melayang.

Merasa mendapatkan persetujuan dari istrinya, Yunho mulai melucuti pakaian Jaejoong.

“Umma!!!” Terdengar teriakan Junsu.

TBC

Because of You (Chapter 4)

Title: Because of You

Genre: Drama,  romance

Pairing: Yunjae

Author: alienacass

Rating: NC-17

Length: 3/9 atau 10

Disclaimer: Yunjae are not mine, but the story is mine.

Warning: Yaoi

Characters: Jung Yunho (18), Kim Jaejoong (23), dll.

Summary:

Orang tua Yunho bercerai saat ia berusia 15 tahun. Ayahnya ternyata seorang gay dan memutuskan tinggal bersama kekasihnya yang bernama Kim Jaejoong, seorang model terkenal.

Ibu Yunho bunuh diri setelah diceraikan oleh ayahnya, sehingga sejak saat itu ia hidup sendiri. Meskipun demikian, biaya hidupnya masih ditanggung oleh ayahnya.

Tiga tahun kemudian, ayah Yunho meninggal dunia. Di dalam surat wasiatnya, ayah Yunho memintanya untuk menjaga kekasihnya, yaitu Kim Jaejoong. Bagaimana ia akan menghadapi Kim Jaejoong yang merupakan penyebab kehancuran keluarganya?

 

Chapter 3

 

Chapter 4

“Han Jaejoon.” Sepanjang perjalanan kembali pulang, nama itu lah yang terngiang di kepalaku. Seperti apakah pamanku tersebut? Saat orang tuaku menikah, usianya masih tiga tahun, sedangkan aku lahir dua tahun setelah itu. Itu artinya, ia hanya lima tahun lebih tua dariku. Hihihihi… Kami akan terlihat seperti kakak adik dibandingkan paman dan keponakan.

Apa pamanku sudah berkeluarga? Bisa saja, tetapi bisa juga tidak. Mungkin saja ia juga sudah punya anak. Itu artinya aku punya sepupu. Hehehehe…

Senang rasanya membayangkan diriku tinggal bersama paman dan keluarganya. Aku rindu akan kehangatan sebuah keluarga. Di mana pamanku sekarang? Apakah ia menetap di Amerika? Kemungkinan besar haraboji membawa pamanku bersamanya ke Amerika. Cukup beralasan jika memang benar bahwa haraboji membawa paman ke Amerika. Ia ingin menjauhkan pamanku dari ibuku. Akan tetapi, beberapa kali aku dan orang tuaku mengunjunginya di Amerika, aku tak pernah bertemu seseorang bernama Han Jaejoon. Seingatku, haraboji hanya tinggal dengan beberapa pelayannya saja. Apa mungkin haraboji meninggalkannya di panti asuhan? Ah, tidak mungkin. Segera kutepis pikiran tersebut. Haraboji adalah orang yang sangat baik. Ia tak mungkin melakukan hal tersebut. Lagipula, ia juga sudah berjanji kepada sahabatnya untuk menjaga umma dan pamanku. Mungkin saja haraboji sengaja untuk menyembunyikannya dari ibuku. Ya, sepertinya begitu.

***

Akhirnya, sampai juga aku di rumah besarku. Aku sangat lelah karena terlalu banyak berpikir. Aku ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiranku. Sepertinya berendam air hangat dapat membuatku lebih rileks. Segera aku menuju kamarku. Namun, saat kakiku akan menaiki tangga, pintu kamar di sebelah tangga terbuka dan menampakkan sosok Kim Jaejoong. Ia sepertinya hendak pergi ke luar. “Mau ke mana kau sore-sore begini? Ini sudah hampir malam. Ah, kau pasti akan pergi berpesta dengan teman-temanmu sesama gay, kan?”

Dia menatap tajam ke arahku. “Bukan urusanmu.” Ia pun langsung meninggalkanku tanpa basa-basi lagi. Dasar tidak sopan! Sudah menumpang, ia juga tidak sopan kepada tuan rumah.

Aku jadi berpikir, apa benar dia akan pergi berpesta dengan teman-temannya? Rasa penasaranku terlalu besar. Aku tahu bahwa ini bukan urusanku dan aku pun tak berhak ikut campur urusannya. Hey, dia kan tinggal di rumahku. Aku berhak tahu orang macam apa yang tinggal di rumahku, walaupun aku tahu pasti dia bukan orang baik-baik.

***

Aku pun memutuskan untuk mengikutinya dengan mobilku. Sengaja aku tidak memakai mobil yang biasa kupakai. Aku tak mau jika dia tahu bahwa aku mengikutinya.

Jalanan sangat ramai. Tentu saja, malam ini adalah Sabtu malam. Orang-orang keluar untuk mencari hiburan. Ia pasti tidak akan menyangka bahwa satu di antara sekian banyak mobil di jalan ini adalah mobilku. Hehehehe…

Aku terus mengikutinya. Semakin lama, kendaraan di sekitar kami semakin berkurang. Mengapa ia malah menjauhi pusat kota? Bukankah ia akan pergi berpesta? Jangan-jangan ia mengadakan pesta di apartemennya. Bagus lah, aku bisa tahu apartemennya di mana.

Jalan yang kami lalui semakin sepi. Aku harus lebih berhati-hati membuntutinya. Jangan sampai ia menyadari bahwa ia diikuti. Aneh sekali, mengapa ia dan appa memilih tinggal di tempat sepi yang jauh dari keramaian? Aku menghela nafas. Tentu saja untuk menghindari gosip yang tidak sedap. Ia adalah seorang selebriti. Apa yang akan terjadi dengan karirnya jika perselingkuhannya dengan ayahku diketahui publik? Pandai sekali selama ini mereka menyembunyikannya.

Tunggu! Ini kan jalan yang tadi aku lalui, jalan menuju komplek pemakaman ibuku. Untuk apa ia datang ke sini?

Hujan mulai turun saat kami mulai mendekati komplek pemakaman dan semakin lama semakin deras. Aku harus lebih berhati-hati dalam mengemudi karena jalanan menjadi licin, ditambah lagi dengan kurangnya lampu yang menerangi ruas jalan.

Mobilnya berhenti di tempat parkir yang berada tepat di depan komplek pemakaman. Ia pun keluar dari mobilnya dengan menenteng beberapa botol minuman keras. Apa yang akan dia lakukan? Pesta minuman keras di kuburan? Ia tidak memedulikan derasnya air hujan yang mengguyur tubuhnya.

Aku memarkirkan mobilku agak jauh dari mobilnya dan tempat tersebut sedikit tersembunyi karena berada dekat dengan sebuah pohon besar. Aku pun tak membawa payung di dalam mobilku, sehingga aku harus membuka jaketku dan menggunakannya untuk melindungi kepalaku dari derasnya air hujan. Aku mengikutinya masuk ke komplek pemakaman.

Aku tidak melihat seorang pun di komplek pemakaman tersebut. Yang kulihat hanyalah seorang Kim Jaejoong, gundukan-gundukan tanah, dan batu nisan. Apa ia hendak mengunjungi makam seseorang? Mataku terbelalak saat ia berhenti di depan sebuah makam, yaitu makam ibuku. Apa yang ia lakukan di makam ibuku? Apakah ia merasa bersalah kepada ibuku?

Ia mengeluarkan setangkai bunga dari balik jaketnya dan meletakkannya dia atas makam ibuku. Terus kuamati dia dari balik pohon yang berada agak jauh dengan tempat ia berdiri. Ia berjongkok di depan makam ibuku selama beberapa saat. Sepertinya ia sedang berdoa, mendoakan ibuku. Setelah itu ia bangkit berdiri. Kupikir ia akan pergi, ternyata ia malah membuka botol minuman yang ia bawa dan meminum cairan di dalamnya. Setelah ia minum beberapa teguk, aku kembali dikejutkan dengan yang ia lakukan. Ia menumpahkan cairan yang tersisa dari botol ke atas makam ibuku dan kemudian membanting botol tersebut ke tanah. Prang!!! Botol tersebut menghantam batu dan pecah berkeping-keping. Apa-apaan ini? Apa ia sudah gila?

“Kim Taehee! Aku membencimu!!!” Ia berteriak. Suaranya menggaung di sekitar komplek pemakaman ini, berbaur dengan suara derasnya hujan. “Setelah mati pun kau tetap membuatku menderita!”

Emosiku mulai naik. Bisa-bisanya ia menyalahkan ibuku yang sudah meninggal. Justru ia lah yang patut dipersalahkan atas kematian ibuku.

“Kau tahu? Kau adalah orang terkejam dan mempunyai hati paling keras yang pernah kutemui. Kukira setelah kau mati, kau akan membiarkanku hidup dengan tenang. Namun, dengan kematianmu, tak hanya aku yang kau sakiti, tetapi juga suami dan anakmu sendiri!” Ia mulai terisak. “Kekerasan hatimu telah menurun kepada anakmu. Kau tahu? Karenamu, ia tak hanya membenciku, tetapi ia pun membenci ayahnya sendiri. Apa kau kini sudah puas, Kim Taehee? Anakmu kini hidup dalam kebencian!” Ia sekarang menendang-nendang tanah makam ibuku.

Cukup! Ini sudah keterlaluan. Aku tak tahan lagi. Aku pun keluar dari tempat persembunyianku di balik pohon dan berjalan ke arahnya. Kuraih pundaknya untuk membalikkan tubuhnya dan kupukul ia tepat di wajah cantiknya.

Buk!!!

Darah mengalr deras dari hidungnya, menyatu dengan air hujan yang jatuh di wajahnya. Ia menyeringai kepadaku dan sesaat kemudian tubuhnya oleng dan pingsan di pelukanku.

Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Dengan spontan kubopong tubuhnya keluar dari komplek pemakaman. Kubaringkan ia di jok belakang mobilku. Tubuhnya basah kuyup dan menggigil kedinginan.

***

Saat mengemudi, mataku sesekali menatap ke arahnya melalui cermin. Aku sangat khawatir. Apa yang terjadi dengannya?

Sesampainya di rumah, aku segera membawanya ke kamarnya. Para pelayan di rumahku terlihat khawatir melihat keadaan kami yang basah kuyup dan Jaejoong yang pingsan.

“Tuan Muda, apa yang terjadi dengan kalian? Kenapa Jaejoong-sshi pingsan?” Lee Ahjusshi memberondongiku dengan pertanyaan.

“Lee Ahjumma, tolong siapkan air hangat untuk melap tubuh Jaejoong!” Aku memberi perintah kepada Lee Ahjumma. “Juga tolong bawakan handuk kering!”

Kubaringkan tubuh Jaejoong di tempat tidurnya. Dengan spontan tanganku bergerak ke arah kancing kemejanya, hendak membuka pakaiannya. Tunggu! Tiba-tiba tanganku gemetar. Aku tidak sanggup melakukannya.

Lee Ahjumma datang membawa sebaskom air hangat beserta sebuah handuk kecil dan handuk besar kering. “Ini, Tuan Muda.” Ia meletakkan baskom berisi air hangat di meja samping tempat tidur.

“Ahjumma, bisa tolong kau lap tubuhnya dan mengganti pakaiannya?” Pintaku.

“Maaf Tuan Muda, saya ini adalah seorang wanita. Rasanya saya tidak enak untuk melakukannya. Jaejoong-sshi berbeda dengan Anda. Saya sudah mengenal Anda sejak kecil dan Anda sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri.” Lee Ahjumma menolak permintaanku dengan halus. “Mungkin Anda bisa meminta bantuan pelayan pria.”

Pelayan pria? Mengapa rasanya aku tidak rela salah satu pelayan pria di rumahku menyentuhnya? Ah, itu pasti karena aku tidak ingin salah satu pelayan di rumahku terjerat oleh pesonanya. “Baiklah kalau begitu, biar aku saja yang melakukannya.” Aku tersenyum kepada Lee Ahjumma. Aku tidak ingin membuat Lee Ahjumma merasa tidak enak karena telah menolak permintaanku.

“Anda yakin akan melakukannya sendiri? Anda sendiri saja basah kuyup seperti itu. Sebaiknya Anda urus diri Anda sendiri terlebih dahulu. Saya takut Anda akan jatuh sakit.” Lee Ahjumma tampak mengkhawatirkanku.

Aku baru sadar bahwa aku sendiri juga basah kuyup. Aku kembali tersenyum kepada Lee Ahjumma. Kali ini karena aku tidak ingin membuatnya khawatir. “Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Setelah ini aku akan segera beristirahat.”

“Baiklah kalau begitu. Saya akan menyiapkan bubur untuk kalian berdua.” Lee Ahjumma meninggalkanku berdua dengan Jaejoong.

Sekali lagi, kutatap dalam wajahnya. Ada sedikit perasaan iba terhadap dirinya. Walaupun ia sudah sangat jahat kepada keluargaku, aku tidak bisa terus-terusan membencinya seperti itu. Mungkin memang benar bahwa ia merasa tersiksa dengan rasa benciku kepadanya. Apakah harus kuakhiri semua ini? Menghapus semua dendamku kepadanya dan memaafkan semua perbuatannya? Aaahhh!!! Aku tidak tahu.

Kutarik nafasku dalam-dalam sebelum membuka kancing kemejanya satu-persatu. Dada putih nan mulus mulai terpampang di hadapanku. Susah payah aku menelan ludahku. Dia memang sungguh mempesona.

Kuusapkan handuk yang sudah kubilas dengan air hangat itu ke tubuh bagian atasnya. Dada, leher, perut, punggung, tak ada satu pun bagian yang terlewatkan oleh sapuan tanganku, maksudku handuk di tanganku.

Kuambil satu stel piyama Hamtaro kesayangannya dari dalam lemarinya. Sedikit sulit untuk menariknya keluar, karena piyama tersebut berada di bawah tumpukan pakaiannya yang lain. Kutarik paksa piyama tersebut. Pluk! Sesuatu terjatuh saat piyama tersebut berhasil kutarik keluar.

Apa ini? Kupandangi sebuah buku bersampul merah yang tergeletak di lantai. Ini seperti sebuah buku harian. Omo! Ini pasti buku hariannya. Rasa penasaran kembali menguasai diriku. Aku ingin tahu apa saja yang ia tulis. Apakah ia menulis saat-saat ia bersama ayahku?

Kupungut buku harian tersebut dan kuletakkan di atas meja. Aku pun kembali pada kegiatanku yang sempat tertunda, yaitu mengganti pakaian Jaejoong. Kupakaikan piyama Hamtaro itu pada tubuh bagian atasnya yang polos. Perlukah aku mengganti celananya juga? Sebenarnya aku tidak mau mengganti celananya juga, tetapi celananya juga basah kuyup. Mau tak mau aku pun harus menggantinya.

Aku telah berhasil menanggalkan celana panjangnya. Aku benar-benar ingin tertawa saat melihat celana dalamnya. Ia mengenakan boxer berwarna merah muda. Seleranya seperti anak perempuan saja. Aku kembali harus menghela nafas. Ternyata celana dalamnya pun basah kuyup. Apa aku harus melepaskannya juga?

Aku menimbang-nimbang selama beberapa saat. Ia saja sudah pernah melihat milikku, kenapa aku harus malu untuk melihat miliknya? Tanpa ragu-ragu lagi, kutarik celana dalamnya. Dibandingkan dengan milikku, miliknya terlihat kecil. Kupandangi miliknya selama beberapa detik. Eh? Apa yang aku lakukan? Kenapa aku malah memandanginya? Benda tersebut sama sekali tidak menarik dibandingkan dengan punyaku.

Saat aku mencoba memakaikan celana dalamnya, tak sengaja tanganku meremas pantatnya. Hehehe… Sungguh lembut, walaupun rata. Kulanjutkan memakaikannya celana panjang Hamtaronya.

Selesai! Benar-benar perjuangan berat bagiku. Sebelum melangkahkan kakiku ke luar kamarnya, kutatap sekali lagi buku harian merah yang berada di atas meja. Apa aku perlu mengambilnya? Jika aku mengambilnya, itu namanya mencuri. Akan tetapi, aku sangat ingin tahu isinya. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak akan mencurinya, tetapi meminjamnya. Aku akan mengembalikannya nanti.

Keluar dari kamar Jaejoong, aku melihat Lee Ahjumma sedang menyiapkan bubur di meja makan. “Ahjumma, bisa bawakan buburnya ke kamarku? Aku akan memakannya setelah selesai mandi.”

“Baik Tuan Muda. Bagaimana keadaan Jaejoong-sshi?” Tanya Lee Ahjumma.

“Dia sedang tertidur pulas. Biarkan dia istirahat.” Jawabku.

“Apa perlu kita panggilkan dokter?” Lee Ahjumma tampak khawatir.

Kulirik jam dinding yang ada di ruangan ini. “Sudah malam. Sepertinya dia tidak sakit parah. Mungkin besok juga sudah baikan.” Aku melangkahkan kakiku menaiki tangga. Namun, aku kembali berbalik. “Ahjumma, bisakah aku minta tolong lagi?”

“Apa itu, Tuan Muda? Katakan saja!” Balas Lee Ahjumma.

“Tolong rawat Jaejoong malam ini! Dia kehujanan dan mungkin saja ia akan terkena demam. Jika ia bangun, suruh ia makan buburnya. Ia pasti belum makan malam.” Lanjutku.

“Jangan khawatir, Tuan Muda.” Lee Ahjumma tersenyum untuk meyakinkanku. “Saya akan merawat Jaejoong-sshi dengan baik malam ini.”

“Terima kasih, Ahjumma! Maafkan aku selalu merepotkanmu.” Aku merasa tidak enak karena membuat Lee Ahjumma kehilangan waktu istirahatnya malam ini.

“Tidak apa-apa, Tuan Muda. Saya sama sekali tidak merasa direpotkan.” Jawab Lee Ahjumma.

***

Setelah kuletakkan buku harian Jaejoong di atas meja belajarku, aku bergegas menuju kamar mandi. Aku benar-benar ingin berendam air hangat. Tubuhku sangat lelah dan kepalaku sedikit pusing karena air hujan. Kutenggelamkan tubuh telanjangku ke dalam bak mandi berisi air hangat. Aku membutuh ketenangan.

Sambil berendam air hangat, pikiranku menerawang pada kejadian di makam ibuku tadi. Sebenarnya, apa yang terjadi antara umma dan Jaejoong sebelum umma bunuh diri? Mengapa Jaejoong berkata bahwa umma kejam kepadanya? Mengapa masalah ini tampak rumit di kepalaku? Aku mulai ingin tahu lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa ibuku memutuskan untuk bunuh diri? Mengapa Jaejoong sangat membenci umma? Sepertinya ada hal lain yang tidak aku ketahui. Tampak terlalu konyol jika ibuku memutuskan untuk bunuh diri hanya karena tidak bisa menerima perceraiannya dengan ayahku dan sangat aneh bahwa Jaejoong masih sangat membenci ibuku sampai saat ini. Bukankah ia sudah menang dan ibuku sudah kalah? Semua ini terlalu janggal bagiku.

***

Selesai mandi dan berganti pakaian, kutatap buku merah itu. Mungkin semua jawabannya ada di sini. Tanganku bergetar saat memegang buku tersebut. Ingin sekali aku mengungkap semuanya, tetapi entah mengapa hatiku terasa begitu berat. Aku belum siap untuk mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Aku takut jika ternyata kebenaran tersebut tidak seperti yang aku harapkan. Aku takut, takut sekali.

Tak terasa air mata menetes di pipiku. Aku teringat akan kedua orang tuaku. Dahulu kami sangat bahagia. Aku tak pernah merasakan kekurangan kasih sayang, sampai pada akhirnya appa meninggalkan aku dan umma.

Setelah perceraian kedua orang tuaku, umma lebih banyak mengurung dirinya di kamar. Aku tak tahu apa yang dilakukannya di dalam kamar, menangis mungkin. Ia bahkan sama sekali tidak mengacuhkanku, anaknya. Saat itu lah aku mulai kesepian. Tak ada lagi kasih sayang dari kedua orang tuaku. Puncak kesedihanku terjadi pada saat aku menemukan jasad umma yang berlumuran darah di halaman belakang, tepat di bawah balkon kamarnya.

***

“Hoaaamm!!!” Aku terbangun. Kutatap jam weker di samping tempat tidurku, masih pukul tujuh pagi. Tubuhku sangat letih setelah kehujanan semalam. Ini hari Minggu. Aku ingin bersantai-santai seharian saja di rumah.

Tok tok tok. Terdengar bunyi ketukan pintu.

“Siapa?” Tanyaku. Tidak biasanya aku dibangunkan di Minggu pagi begini. Omo! Apa hal buruk terjadi dengan Jaejoong?

“Tuan Muda, ini Yoona.” Ternyata itu Yoona, salah satu pelayanku. “Maaf mengganggu Anda pagi-pagi begini.”

“Ada apa? Apa sesuatu terjadi dengan Jaejoong?” Tanyaku dari dalam kamar.

“Eh? Jaejoong-sshi masih tidur.” Jadi bukan tentang Jaejoong ya. Omo! Pasti ia memikirkan hal yang bukan-bukan tentang aku dengan Jaejoong.

“Lalu kenapa kau membangunkanku?” Aku sedikit kesal karena aku masih ingin bermalas-malasan di tempat tidur.

“Ada teman Anda datang kemari.” Temanku? Siapa? Yoochun? “Ia sedang menunggu Anda di ruang tamu.”

“Katakan kepada playboy berjidat lebar itu, aku akan segera turun!” Perintahku.

“Playboy? Maaf Tuan Muda, teman Anda yang datang tersebut adalah perempuan.” Perempuan? Aku tidak merasa punya teman perempuan.

“Siapa namanya? Aku merasa tidak punya teman perempuan.” Aku memaksakan tubuhku untuk bangkit dari tempat tidur.

“Kalau tidak salah namanya Tiffany. Ya benar, namanya Tiffany.” Tiffany? Siapa itu?

“Baiklah. Katakan kepadanya aku akan segera turun.” Aku pun bergegas melangkahkan kakiku ke kamar mandi.

***

Aku tidak tahu siapa itu Tiffany. Ia mengaku bahwa ia adalah temanku. Namun, bagaimana pun ia adalah tamu. Sebagai tuan rumah yang baik, aku harus menemuinya.

“Selamat pagi, Yunho-sshi.” Seorang gadis seusiaku yang berada di ruang tamuku memberi salam kepadaku. Oh, jadi ini yang bernama Tiffany. Mengapa ia mengaku sebagai temanku? Aku bahkan tidak pernah melihatnya.

“Selamat pagi, Tiffany-sshi. Maaf sudah membuatmu menunggu.” Akan tidak sopan jika aku langsung bertanya siapa dia sebenarnya. “Ada perlu apa datang kemari?”

“Hmm, panggil aku Fany saja. Tiffany-sshi terdengar terlalu aneh dan kaku.” Apa? Sok akrab sekali gadis di hadapanku ini.

“Baiklah, Fany. Jadi, ada perlu apa datang kemari sepagi ini?” Tanyaku lagi.

“Maafkan jika aku mengganggumu pagi-pagi begini.” Memang. “Aku hanya kebetulan sedang berlari pagi di sekitar sini dan melewati rumahmu. Kupikir tidak ada salahnya jika aku menyapamu. Kita tidak pernah bertemu lagi setelah terakhir kali Yoochun memperkenalkan kita.” Benar sekali! Akhirnya aku ingat siapa gadis ini. Dia adalah gadis yang Yoochun kenalkan kepadaku untuk jadi pacarku.

“Ya. Kau benar juga. Kita tidak pernah bertemu lagi setelah itu. Ternyata sudah lama ya.” Aku tersenyum kikuk.

“Kudengar kau tinggal sendirian di rumah ini. Kau pasti sangat kesepian.” Katanya.

“Aku tinggal bersama dengan para pelayanku.” Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku juga tinggal dengan Jaejoong.

“Maksudku, keluargamu.” Katanya lagi.

“Mereka semua sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri. Mereka lah yang selalu ada di sisiku saat aku membutuhkan kehadiran seseorang. Saat aku senang, sedih, mereka selalu menemaniku.” Aku menjelaskan panjang lebar.

“Oh, begitu ya.” Tiffany tampak tertunduk malu. “Omo! Bukankah itu Kim Jaejoong? Model terkenal itu.”

Aku menoleh ke belakang dan tampaklah Jaejoong yang masih mengenakan piyama Hamtaro dan plaster penurun demam di keningnya. Ia menghentikan langkahnya saat Tiffany meneriakkan namanya. Sungguh keadaan yang mengenaskan bagi seorang model saat dipergoki penggemarnya tengah berpenampilan seperti itu. Mati kau, Kim Jaejoong!

“Siapa kau?” Jaejoong menatap ke arah Tiffany dan kemudian ke arahku.

“Aku Tiffany, penggemarmu!” Tiffany tampak sangat antusias bertemu dengan idolanya. Sialan! Kini gadis ini melupakanku dan lebih tertarik dengan Jaejoong, padahal dia terihat sangat mengenaskan saat ini. Apa bagusnya sih pria berwajah wanita itu? Tiffany mulai memeluk-meluk Jaejoong. Apa-apaan mereka ini? Berpelukan di depanku. Mereka tidak menghormatiku sebagai tuan rumah. Dengan tidak sopannya Tiffany memeluk-meluk Jaejoong, sedangkan Jaejoong diam saja tak melakukan apa pun. Aish!

“Yah, kenapa kau memeluknya!” Aku menarik Tiffany menjauh dari Jaejoong.

“Maafkan aku.” Tiffany menunduk. Sepertinya dia malu. “Seharusnya aku tidak melakukannya, apalagi di depanmu.”

“Kau ini kenapa sih? Dia itu penggemarku. Jadi, wajar kan jika ia ingin memelukku.” Jaejoong protes.

“Jadi kau membiarkan semua penggemarmu jika mereka ingin memelukmu?” Sindirku.

“Tentu saja. Memang kenapa?” Dia tidak mau kalah.

“Aish! Kau ini murahan sekali. Kau bahkan membiarkan orang asing yang tak kau kenal memelukmu.” Oops! Tak seharusnya aku merendahkannya di depan penggemarnya.

“Apa urusanmu? Memangnya siapa kau?” Berani sekali dia melawanku.

“Tentu saja ini urusanku. Karena… karena…” Karena dia menumpang di rumahku kan?

“Karena apa?” Dia semakin menantang.

“Karena kau itu pacarku!” Ya Tuhan! Jung Yunho, apa yang baru saja kau katakan?

TBC

Not a Perfect Family (Chapter 3)

Title: Not a Perfect Family

Author: alienacass

Genre: Family, drama, humor

Pairing: Yunjae

Rating: NC-21

Length: 3/?

Disclaimer: TVXQ are not mine, but the story is mine.

Warning: Yaoi, mpreg

Characters: Kim Jaejoong (25), Jung Yunho (36), Yoochun (10), Junsu (8), dll

Summary:

Jung Yunho, duda beranak satu yang tampan dan kaya menikahi Kim Jaejoong yang juga merupakan single parent. Akankah mereka berhasil membangun keluarga yang sempurna?

Chapter 2

Chapter 3

Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Tibalah Yunho di rumahnya. ‘Aduh, aku terlalu asyik bekerja tadi, sampai aku lupa waktu. Umma pasti berceramah panjang lebar lagi. Mudah-mudahan umma sudah tidur.’ Ia pun membuka pintu rumahnya dengan hati-hati dan tidak menimbulkan suara. Ia melangkah memasuki ruang tamu rumahnya. ‘Sepi sekali. Itu artinya umma sudah tidur.’

Yunho merasa sedikit lega karena ia tidak perlu diceramahi ibunya malam ini, paling besok pagi. Namun, ia merasa bahwa ia tidak sendirian di ruang tamu. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Apakah arwah Soojin datang untuk membalas dendam kepadanya?

Keringat mulai bercucuran di dahi Yunho. Ia pun berdoa di dalam hati. Kemudian ia melihat ke arah sofa. Ia melihat sebuah sosok sedang meringkuk di sana. “Ha…hantu!!!” Ia berteriak dan hendak berlari ke arah kamarnya, tetapi di depannya sudah ada sosok yang menghadangnya. Sosok seorang wanita berpakaian putih dengan wajahnya yang juga berwarna putih. “Aaaaaaaaaaaarrrgghhhh!!!”

PLAK!!! Ny. Jung memukul kepala putranya. “Kenapa kau berteriak, Bodoh?” Ternyata sosok wanita yang dilihat Yunho adalah ibunya sendiri yang memakai daster berwarna putih dan menggunakan masker di wajahnya.

“U…umma?” Yunho merasa lega sekarang. Walaupun ibunya sangat mengerikan, tetapi tidak lebih mengerikan daripada hantu. Ia memeluk ibunya dengan erat. “Syukurlah ini adalah umma.”

“Tentu saja ini umma, memangnya kau pikir siapa? Hantu Soojin?” Balas Ny. Jung.

“Hehehehe…” Yunho tersenyum kaku.

“Ternyata kau masih bisa merasa bersalah juga ya.” Ny. Jung menyindir putranya. “Dari mana saja kau? Jam segini baru pulang?”

“Eung…” Jaejoong terbangun dari tidurnya karena mendengar keributan yang dibuat ibu dan anak tersebut. “Kau sudah pulang, Yun?”

Yunho melirik ke arah Jaejoong. “Ternyata tadi kau yang tidur di sofa.”

“Jaejoong menunggumu pulang sampai tertidur di sofa.” Ny. Jung memberitahu Yunho.

Yunho pun merasa bersalah. “Kenapa tidak umma suruh tidur di kamar saja?”

“Umma sudah menyuruhnya tidur di kamar karena tidak ada gunanya menunggumu pulang. Akan tetapi, ia bersikeras untuk menunggumu.” Ny. Jung sengaja menceritakannya agar Yunho merasa lebih bersalah. “Kau harus lebih memerhatikannya!”

“Sudahlah, jangan bertengkar!” Jaejoong melerai suami dan ibu mertuanya. “Umma tidak salah. Aku menunggumu atas keinginanku sendiri.”

Yunho menatap wajah istrinya. Ia merasa sangat bersalah. “Aku minta maaf.”

Jaejoong tersenyum ke arah suaminya. Ia senang karena Yunho sudah pulang. “Tidak apa-apa.”

“Sudahlah, kalian berdua segeralah beristirahat! Umma juga ingin melanjutkan tidur umma yang terganggu karena anak bodoh ini berteriak.” Ny. Jung meninggalkan pasangan Yunjae menuju kamarnya.

“Ayo, Jae! Sebaiknya kau beristirahat. Kau pasti sangat lelah karena sudah menungguku.” Yunho menuntun istrinya ke kamar mereka.

“Kau pasti lelah bekerja sampai malam. Apa kau mau mandi dulu?” Tanya Jaejoong setelah mereka memasuki kamar mereka.

“Benar juga. Aku ingin berendam air hangat untuk meregangkan otot-ototku.” Yunho membuka pakaian bagian atasnya dan melemparkannya ke keranjang cucian di samping pintu kamar mandi.

Jaejoong segera menundukkan kepalanya. Ia malu untuk menatap suaminya yang kini sudah bertelanjang dada. “Baiklah, kalau begitu aku akan siapkan airnya.” Ia segera menuju ke kamar mandi untuk mengisi air panas ke dalam bak mandi untuk Yunho.

Yunho masuk ke kamar mandi, menyusul Jaejoong. “Terima kasih. Kau baik sekali. Aku jadi tidak enak karena selalu merepotkanmu.”

“Ini memang sudah kewajibanku sebagai istrimu. Aku senang jika aku bisa melayanimu dengan baik.” Jaejoong berbalik. Betapa terkejutnya ia karena ia melihat Yunho melucuti celananya sendiri. Ia segera kembali menunduk. “Sepertinya airnya sudah siap.” Ia pun bergegas untuk keluar kamar mandi.

“Jae!” Panggil Yunho.

Jaejoong menghentikan langkahnya, tetapi ia masih tidak berani berbalik untuk menghadap suaminya. “Ya?”

“Kau mau ikut berendam bersamaku?” Tanya Yunho yang sekarang sudah mencelupkan tubuhnya ke dalam bak mandi.

Jantung Jaejoong rasanya ingin lepas mendengar ajakan Yunho. Ia bingung harus menjawab apa. Tak seharusnya ia menolak ajakan suaminya, tetapi ia sangat malu. “Aku sudah mandi tadi.” Jaejoong merutuki kebodohannya sendiri karena menjawab seperti itu. Ia berharap Yunho tidak akan marah.

“Oh~ Kalau begitu kau tidurlah!” Yunho menyuruh Jaejoong.

Jaejoong pun berbaring di atas tempat tidur. Jantungnya masih berdetak dengan sangat kencang. Sepertinya malam ini ia tak akan bisa tidur.

Dalam waktu kurang dari 30 menit Yunho sudah selesai berendam dan membersihkan tubuhnya. Ia pun keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Ia melirik ke arah tempat tidur. Ia melihat Jaejoong masih terbangun. “Kau belum tidur?”

“A…aku menunggumu.” Jawab Jaejoong gugup.

“Kau tidak usah menungguku. Masih banyak yang harus aku kerjakan. Kau tidurlah duluan!” Yunho memakai kaus dan celana pendek. “Aku akan ada di ruangan sebelah.”

“Eh?” Jaejoong bangkit dari tempat tidur. “Kau masih akan bekerja? Apa perlu aku buatkan sesuatu?”

“Kau tidak perlu repot-repot. Secangkir kopi saja sudah cukup.” Yunho pun menuju ke ruang kerjanya yang berada tepat di sebelah kamarnya.

Dengan penuh semangat Jaejoong berlari menuju dapur untuk membuatkan kopi untuk suaminya. Rasa kantuk dan lelah hilang begitu saja. Ia merasa senang karena ia bisa melaksanakan tugasnya untuk melayani segala kebutuhan suaminya. Ia berpikir bahwa Yunho pasti jauh lebih lelah daripada dirinya.

Beberapa menit kemudian Jaejoong membawa nampan yang di atasnya terdapat sebuah teko kecil berisi kopi dan cangkir. Ia meletakan nampan tersebut di sebuah meja kecil di samping meja kerja Yunho dan menuangkan kopi ke dalam cangkir. “Silahkan! Kuharap kau akan suka kopi buatanku.”

Yunho menyeruput kopi buatan Jaejoong. “Hmm, rasanya enak dan berbeda. Apa yang kau tambahkan ke dalamnya?”

“Aku pikir kau pasti sangat lelah dan kehilangan banyak energi. Jadi, aku menambahkan ginseng agar staminamu tetap terjaga.” Jawab Jaejoong. “Apa kau tidak suka?”

“Tentu saja aku suka, rasanya enak.” Yunho menyeruput kopinya lagi.

Jaejoong tidak ingin mengganggu Yunho. Ia pun meninggalkan meja kerja Yunho dan duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.

“Kenapa kau tidak kembali tidur?” Tanya Yunho.

“Aku sudah tidak mengantuk. Aku akan menemanimu di sini. Aku janji tidak akan berisik dan mengganggumu.” Jawab Jaejoong.

Yunho merasa heran dengan istri barunya tersebut. ‘Apa ia tidak merasa lelah? Siang hari ia memasak dan mengantarkan makanan ke kantorku. Ia menungguku pulang dan sekarang menemaniku bekerja. Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Ia membuatkan kopi ginseng untukku. Ginseng? Ia mengatakan bahwa ia ingin staminaku tetap terjaga. Apa jangan-jangan ia ingin melakukan ‘itu’ ya? Kalau dipikir-pikir sepertinya memang benar ia menginginkan ‘itu’. Kami ini kan masih pengantin baru. Bagaimana ini? Aku masih ada pekerjaan.’ Ia kemudian melirik ke arah Jaejoong yang sedang berbaring di atas sofa. “Jae, Sayang~”

Jaejoong terlonjak kaget. “Apa kau memanggilku?” Ia merasa Yunho memanggilnya ‘Sayang’. Ia pasti salah dengar.

“Ke sini, Sayang!” Perintah Yunho.

Jaejoong pun mendekat ke arah Yunho. Ternyata ia tidak salah dengar. Yunho benar-benar memanggilnya ‘Sayang’. “Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?”

“Jae Sayang, maafkan aku. Aku masih ada pekerjaan malam ini. Jadi, kita lakukan sambil aku bekerja saja ya.”  Kata Yunho kepada istrinya.

“Huh?” Jaejoong tidak mengerti apa yang Yunho katakan.

Tanpa basa-basi lagi, Yunho langsung menarik Jaejoong ke atas pangkuannya dan melucuti celana pendek yang dikenakan istrinya. Ia pun menurunkan celana pendeknya hingga terjatuh sampai mata kaki.

Jaejoong membelalakkan matanya. Ia sangat terkejut. Ia mengerti apa yang akan Yunho lakukan kepada dirinya. Ia tahu bahwa salah satu tugasnya sebagai istri adalah memenuhi kebutuhan seksual suaminya, tetapi rasanya ia belum siap untuk malam ini.

“Jae, karena aku harus bekerja, kau saja yang bergerak.” Yunho memberitahu istrinya.

Jaejoong mengerti apa yang diinginkan Yunho. Ia menganggukkan kepalanya, walaupun sebenarnya ia sangat tidak siap malam ini. Perlahan ia meraih junior suaminya yang tak bisa dikatakan kecil. Ia kocok beberapa kali sampai benda tersebut menegang sempurna. Setelah itu, ia menaikkan pantatnya sedikit dan mengarahkan benda keras tersebut ke arah lubang pantatnya, tanpa persiapan sama sekali. Ia tahu bahwa rasanya pasti sangat menyakitkan. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Ia tidak ingin mengecewakan suaminya. “Eung…” Ia mendorong pantatnya ke bawah agar junior suaminya bisa masuk. Ia merasa lubangnya panas dan sakit.

“Aaaahh~” Yunho mengerang. “Sempit sekali.” Yunho tidak pernah melakukan anal sex selama ini. Jadi, ia tidak tahu bahwa lubang anus akan sesempit ini.

Jaejoong terus mendorong. Ia mencengkeram bahu Yunho sebagai tumpuan. Rasa sakit benar-benar tak terelakkan lagi. “Haaa~” Akhirnya, benda tersebut tertancap sempurna di dalam lubangnya. Baru tahap memasukkan saja ia sudah merasa kelelahan. Keringat sudah bercucuran dengan deras.

“Bergeraklah, Jae!” Yunho memberi instruksi kepada istrinya.

Sebagai istri yang penurut, Jaejoong mengikuti instruksi yang diberikan oleh suaminya. Ia mengangkat pantatnya dan kemudian menurunkannya lagi, sehingga junior Yunho keluar masuk lubangnya.

“Bagus, Jae! Ayo terus!” Yunho menyemangati istrinya sambil mengetik di laptopnya. “Lubangmu sangat sempit. Aku suka.”

“Aaahh~” Jaejoong terus bergerak naik turun. Tenaganya benar-benar terkuras, ditambah rasa sakit di bagian bawah tubuhnya. Ia sudah tidak bisa berpikir apa-apa dan terus bergerak.

“Lebih cepat, Jae!” Yunho masih bisa bekerja dalam keadaan seperti itu. “Nikmat sekali, Sayang!”

Jaejoong mempercepat gerakannya. Ia sudah tidak memedulikan rasa sakitnya. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana ia akan memuaskan suaminya. Dengan usaha kerasnya, ia pun mendapatkan kenikmatannya. Ia berhasil menemukan titik kenikmatannya sendiri. Ia pun terus menjaga gerakannya agar titik tersebut terkena tusukan junior suaminya. “Aaahh haaaaa…”

Yunho kemudian menyadari bahwa sejauh ini junior Jaejoong terabaikan. Ia menghentikan tangan kirinya untuk mengetik, sehingga ia hanya menggunakan tangan kanan untuk mengetik. Ia menggunakan tangan kirinya untuk mengocok junior Jaejoong. “Maaf Sayang, dari tadi punyamu terbengkalai.”

Jaejoong tersenyum lemah kepada suaminya. Ia senang karena Yunho memedulikannya. Ia pun semakin semangat untuk bergerak naik turun.

***

Junsu tiba-tiba terbangun karena haus. Ia melirik ke sebelahnya dan tidak menemukan ibunya di sisinya. Selama ini ia selalu tidur dengan Jaejoong. Sampai sekarang ia masih takut untuk tidur sendirian. Apalagi kamarnya yang sekarang jauh lebih luas daripada kamarnya yang dulu. “Umma!” Ia menangis ketakutan. Dengan spontan ia pun berlari keluar kamar untuk mencari kamar ibunya. Ia kemudian melewati sebuah ruangan dan mendengar suara ibunya. Ia pun masuk ke ruangan tersebut. “Umma?”

Yunjae yang sedang asyik dengan kegiatan mereka pun terkejut dan langsung memandang ke arah Junsu yang sedang berdiri di ambang pintu. Untung saja Junsu tidak bisa melihat bagian bawah tubuh mereka karena terhalang oleh meja kerja Yunho.

“Apa yang sedang umma lakukan dengan ahjusshi jelek itu? Kenapa umma duduk di pangkuannya?” Junsu tampak tidak senang melihat ibunya sedang bersama dengan ayah tirinya tersebut.

“Jun-chan kenapa tidak tidur?” Jaejoong panik.

“Aku takut tidur sendirian.” Junsu hendak berlari ke arah ibunya.

“Berhenti di situ! Jangan mendekat!” Yunho berteriak.

Seketika Junsu menghentikan langkahnya. “Ahjusshi jelek, apa yang kau lakukan kepada umma?”

“Jun-chan tunggu di kamar ya! Umma akan segera menyusul.” Jaejoong berusaha membujuk Junsu. Ia tidak bisa bergerak dari pangkuan Yunho.

“Kenapa kita tidak pergi bersama-sama saja?” Tanya Junsu. “Apa ahjussi berwajah kecil ini melarang umma?”

“Umma harus berpamitan dulu kepada appa, karena sekarang umma adalah istrinya appa.” Jaejoong mencoba memberi pengertian kepada putranya tersebut. “Dan jangan panggil appamu seperti itu. Itu tidak sopan.”

“Aku tidak mau kembali ke kamar sendiri. Aku takut!” Junsu merengek.

“Baiklah kalau begitu, tunggu umma di luar ya! Umma tidak akan lama.” Jaejoong mencoba menenangkan Junsu. “Jun-chan kan anak pintar.”

Junsu pun akhirnya mengangguk. Ia menuruti perkataan ibunya untuk menunggu di luar.

Setelah Junsu ke luar ruangan, Jaejoong segera turun dari pangkuan Yunho. Ia langsung memakai celananya kembali. “Maafkan aku! Aku akan kembali setelah Jun-chan tertidur.”

***

“Umma, kenapa jalan umma pincang?” Junsu melihat keanehan dari cara berjalan ibunya. “Apa ahjusshi wajah kecil menyakiti umma?”

“Eh?” Jaejoong terkejut. Apakah ia berjalan sepincang itu? “Umma tidak apa-apa. Jangan khawatir! Kaki umma hanya pegal.”

“Benarkah ia tidak menyakiti umma?” Junsu tidak yakin dengan jawaban Jaejoong.

“Jangan khawatir! Appa tidak mungkin menyakiti umma. Mana ada suami menyakiti istrinya?” Jaejoong meyakinkan anaknya.

“Tapi bagaimana dengan ibunya si jidat lebar? Ahjussi wajah kecil itu tidak memerhatikan istrinya, padahal istrinya tersebut sedang sakit. Aku takut ia melakukan hal yang sama kepada umma.” Junsu mengungkapkan kekhawatirannya.

***

Yunho benar-benar kecewa karena Jaejoong meninggalkannya dalam keadaan masih tegang. Kegiatan mereka belum selesai. Ia sangat frustrasi sekarang. Persetan dengan pekerjaannya! Ia sudah tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Yang ia inginkan hanyalah menyelesaikan aktivitasnya dengan Jaejoong. “Aaaarghh!!!” Ia pun memutuskan untuk menunggu Jaejoong di kamar saja.

Sesampainya di kamar, Yunho melucuti semua pakaiannya, tanpa tersisa apa pun. Ia kemudian berbaring di atas tempat tidur dan menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Ia ingin agar saat Jaejoong datang mereka bisa langsung melanjutkan aktivitas mereka.

***

Yunho menunggu istrinya dengan sabar. Tidak terasa sudah satu jam ia menunggu. Juniornya sudah sangat sakit ingin segera dipijat oleh sempitnya dinding lubang Jaejoong. Ia kini dapat merasakan bagaimana bosannya Jaejoong saat menunggu dirinya. “Aaaargghhh!! Ke mana dia?” Ia sudah tak tahan lagi. Ia pun bangkit dari tempat tidur untuk menyusul Jaejoong ke kamar Junsu. Ia hanya melilitkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.

“Jae~” Yunho mengetuk kamar Junsu. “Apa Jun-chan sudah tidur?” Tidak terdengar jawaban dari dalam. Ia pun membuka pintu kamar Junsu pelan-pelan dan menemukan Jaejoong tertidur pulas di samping Junsu. “Pantas saja ia tak kunjung datang.” Ia pun menepuk-nepuk pipi Jaejoong untuk membangunkannya. “Jae, bangun. Ayo pindah ke kamar kita!”

“Eung…” Jaejoong mengumpulkan kesadarannya.

“Jun-chan sudah tidur. Ayo pindah ke kamar kita!” Ajak Yunho.

“Bagaimana jika ia terbangun lagi dan aku tak ada di sisinya?” Jaejoong mengkhawatirkan Junsu.

“Tapi aku membutuhkanmu.” Yunho memelas. “Kalau begitu kita lakukan di sini saja.” Yunho naik ke atas tempat tidur Junsu dan menindih Jaejoong.

“Suara kita akan membangunkannya. Lagipula tempat tidurnya sempit.” Kata Jaejoong.

“Ya sudah, kita lakukan di lantai saja. Sebisa mungkin kita jangan bersuara.” Usul Yunho.

“Tapi…” Jaejoong baru saja akan protes, tetapi Yunho terlanjur menariknya ke bawah.

Yunho pun menutupi tubuh mereka dengan selimut yang dipakainya. Ia melucuti pakaian Jaejoong di bawah selimut dan Jaejoong pun tak bisa menolak lagi. Sepertinya suaminya ini sedang horny.

“Aaahh~ Yun…” Terdengar Jaejoong mendesah di bawah selimut.

“Ssssttt… Jangan keras-keras, Sayang!” Yunho mengingatkan bahwa Junsu berada di dalam ruangan yang sama dengan mereka.

“Tapi… ahhh~” Jaejoong tak tahan untuk tak mendesah saat Yunho menggerayangi seluruh tubuhnya.

“Sepertinya aku harus menyumpal mulutmu.” Yunho mencium Jaejoong agar istrinya tersebut tidak banyak bersuara.

Teriakan Jaejoong tertahan saat Yunho mulai melakukan penetrasi. “Hmmmpphh…”

Junsu merasa mendengar suara-suara aneh dalam tidurnya. Ia merasa ketakutan. “Umma~” Ia menoleh ke sampingnya dan ia tidak menemukan Jaejoong di sana. “Umma!” Ia mulai menangis karena ketakutan.

Jaejoong segera memunculkan kepalanya dari balik selimut. “Umma di sini, Sayang. Jangan menangis!”

Junsu menoleh ke lantai. Ia menemukan ibunya berbaring di lantai. “Kenapa umma tidur di lantai?”

“Tempat tidurmu terlalu sempit, Sayang.” Jaejoong mengemukakan alasannya.

“Apa umma tidak kedinginan tidur di lantai seperti itu?” Junsu mengkhawatirkan ibunya.

“Umma kan pakai selimut. Lagipula lantainya dilapisi karpet.” Jaejoong berusaha keras untuk menahan desahannya, karena Yunho sedang beraksi di bawah selimut.

“Umma~” Panggil Junsu lagi.

“Ya Sayang, ada apa?” Keringat mulai bercucuran di wajah Jaejoong.

“Kenapa kaki umma bergerak-gerak seperti itu?” Junsu memperhatikan gundukan di bawah selimut yang bergerak-gerak.

“Oh~ Umma sudah bilang kan kalau kaki umma pegal.” Jaejoong tidak kehabisan akal untuk menjawab. “Oleh karena itu, umma pindah dari tempat tidur ke bawah. Umma tidak mau gerakan kaki umma mengganggu tidurmu.”

“Kalau begitu aku akan memijat kaki umma.” Kata Junsu.

“Eh, jangan!” Jaejoong panik saat Junsu akan beranjak dari tempat tidur.

“Kenapa?” Junsu merasa heran. Biasanya Jaejoong sangat senang dipijat olehnya saat pulang bekerja.

“Umma ingin kau tidur. Besok kan harus masuk sekolah.” Kata Jaejoong.

“Baiklah kalau begitu. Selamat tidur, Umma!” Junsu pun kembali tidur.

***

Kelima anggota keluarga Jung sekarang sedang menikmati sarapan bersama. Tampak Jaejoong yang sangat lemas dan sesekali menguap. Ia hanya tidur satu jam.

“Jae, kau terlihat sangat kelelahan. Sudah umma katakan bahwa kau tidak perlu menunggu Yunho semalam.” Ny. Jung mendelik ke arah putranya.

“Tidak apa-apa, Umma. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah aku bisa tidur siang.” Balas Jaejoong.

“Lihat akibat perbuatanmu, Bodoh! Kasihan kan istrimu harus menunggumu semalaman.” Ny. Jung mulai memarahi Yunho. “Mulai hari ini kau harus sudah sampai di rumah sebelum makan malam.”

“Baik, Umma.” Yunho malas meladeni ibunya. “Dasar nenek sihir!” Ia menggumam pelan.

“Apa kau bilang?” Ny. Jung merasa Yunho mengatakan sesuatu.

“Aku tidak mengatakan apa-apa.” Yunho berbohong.

“Si wajah kecil ini berbohong, Halmoni. Ia mengataimu nenek sihir.” Yoochun mengadu.

“Eh, diam kau jidat lebar! Sebaiknya kau habiskan saja makananmu dan tak usah ikut campur!” Yunho berkata kepada Yoochun.

“Hahahaha…” Junsu menertawai tingkah laku anak dan ayah tersebut.

“Apa yang kau tertawakan, pantat bebek?” Yoochun benar-benar tidak suka jika Junsu menertawainya.

“Sudah! Berhenti bertengkar! Ada apa dengan keluarga ini? Saling memanggil dengan panggilan yang buruk. Nenek sihir lah, wajah kecil lah, jidat lebar, pantat bebek.” Ny. Jung pusing dengan Yunho dan Yoosu yang saling mengejek.

“Kalau begitu hanya Jaejoong saja yang tidak punya ejekan.” Kata Yunho.

“Benar juga.” Bukannya marah, Ny. Jung malah membenarkan kata-kata anaknya. “Kalau begitu kita panggil dia apa?” Ia memandangi Jaejoong, mencoba mencari sesuatu di tubuh Jaejoong untuk memberinya ejekan. Namun, sepertinya ia tak menemukan ejekan untuk Jaejoong.

“Dada montok!” Celetuk Yunho. Sontak saja yang lainnya memandang ke arahnya dan kemudian ke arah dada Jaejoong.

Merasa dadanya dipandangi, Jaejoong langsung menutupi dadanya dengan kedua tangannya. “Kenapa kalian menatap dadaku seperti itu?”

“Kami hanya ingin memastikan.” Jawab Ny. Jung.

“Sudah-sudah! Jangan dipandangi terus. Kalian membuatnya malu. Lihat, wajahnya memerah!” Yunho menyuruh ibu dan anak-anaknya berhenti memandangi dada istrinya.

***

Sebelum anak-anaknya berangkat sekolah. Jaejoong menyerahkan kotak bekal untuk mereka berdua. Selama ini ia selalu membuatkan bekal untuk Junsu agar Junsu tidak perlu membeli makan siang dan lebih hemat. Namun, berbeda dengan Yoochun, ia tidak pernah membawa bekal ke sekolah sebelumnya. “Kemarin umma membeli kotak bekal baru untuk kalian. Untuk Chunnie yang bergambar Mickey Mouse dan untuk Jun-chan yang bergambar Donald Duck.”

“Hahahahhaahha!!! Donald Duck cocok denganmu, pantat bebek!” Yoochun mulai mengolok-olok Junsu.

“Umma, kenapa untukku yang bergambar Donad Duck?” Junsu merengek. “Aku ingin tukar.”

“Tidak mau! Donald Duck sudah cocok untukmu.” Yoochun segera memasukkan kotak makannya ke dalam tas, takut Junsu akan merebutnya.

“Sudahlah, itu kan hanya gambar. Lagipula Donald Duck itu lucu.” Hibur Jaejoong.

“Tapi dia mengolok-olokku karena itu.” Junsu mengadu.

“Kau saja sering menyebut Chunnie Hyung dengan panggilan jidat lebar. Lalu kenapa kau marah saat ia menyebutmu pantat bebek? Kalau kau tidak ingin diejek, kau tidak boleh mengejek orang lain.” Jaejoong menasihati Junsu.

“Tapi kan memang benar jidatnya lebar.” Kata Junsu. “Umma juga tidak boleh marah kalau disebut dada montok.”

“Eh?” Kata-kata Junsu benar-benar membuat Jaejoong malu. Bisa-bisanya Yunho mengatainya si dada montok di hadapan seluruh anggota keluarganya.

“Kenapa kalian lama sekali?” Yunho yang sedari tadi menunggu di dalam mobil menyusul anak-anaknya yang tidak muncul juga.

“Maaf, aku harus memberikan bekal mereka.” Jaejoong merasa tidak enak kepada Yunho yang sudah menunggu lama.

“Kau ini tidak adil ya. Mereka dibuatkan bekal, sedangkan aku tidak.” Protes Yunho. Ia iri kepada kedua anaknya yang dibuatkan bekal oleh Jaejoong.

“Untukmu akan kuantarkan pada saat jam makan siang nanti.” Kata Jaejoong.

“Tidak mau! Aku ingin yang sama seperti mereka.” Jika Yunho membawa bekal dari rumah, Jaejoong tidak perlu datang untuk mengantarkan makan siang.

Tiba-tiba Ny. Jung muncul menyodorkan kotak bekal bergambar beruang. “Kau ingin bekal yang sama dengan mereka kan?”

Yunho memandang horror ke arah kotak bekal bergambar beruang yang dibawa ibunya. Itu adalah kotak bekalnya saat masih sekolah dasar. “Tidak mau! Memangnya aku anak kecil harus menggunakan kotak makan seperti itu?”

“Kau sendiri yang mengatakan bahwa kau ingin bekal yang sama dengan anak-anak.” Balas Ny. Jung santai.

“Tapi kan tidak harus menggunakan kotak bekal untuk anak kecil. Kalau begitu aku lebih memilih Jaejoong untuk mengantarkan makan siangku ke kantor.” Lagi-lagi Yunho protes.

“Kau ini cerewet sekali!” Ny. Jung memarahi anaknya. “Khusus hari ini Jaejoong libur mengantar makan siang untukmu. Aku ingin ia istirahat hari ini karena ia tampak kelelahan. Kau pikir salah siapa, huh? Tidak ada waktu untuk mengganti kotak bekalnya. Jadi, terima saja nasibmu hari ini!”

***

Saat Yunho masuk ke dalam mobilnya, Yoochun sudah duduk di sebelahnya dan Junsu di kursi belakang. “Hey, jidat lebar! Kau pindah ke belakang!”

“Kenapa? Aku tidak mau duduk berdua dengannya.” Yoochun menolak.

“Justru karena itu, appa ingin kalian berdua lebih akrab. Pindah sana ke belakang bersama Jun-chan!” Yunho terus memaksa.

Dengan wajah yang cemberut, terpaksa Yoochun duduk di belakang bersama Junsu. Sepanjang perjalanan mereka saling memalingkan muka.

“Kenapa kalian diam saja? Seharusnya kalian mengobrol.” Yunho memecah kesunyian. “Kalian itu bersaudara sekarang. Di sekolah kalian harus saling menjaga. Chunnie harus menjaga Jun-chan agar tidak ada yang mengganggunya di sekolah dan Jun-chan harus menjaga Chunnie agar tidak berkelahi lagi di sekolah.”

***

Seperti biasa Junsu akan menghabiskan waktu istirahatnya dengan bermain bola bersama teman-temannya di lapangan yang ada di sekolah.

“Jun-chan, bukankah itu kakak barumu yang ada di sana?” Eunhyuk, teman Junsu, menunjuk ke arah Yoochun yang sedang duduk di bangku yang ada di pinggir lapangan, sedang menikmati bekal makan siangnya.

Yoochun tampak senang. Untuk pertama kalinya ia membawa bekal ke sekolah. Walaupun ia belum menerima Jaejoong sebagai ibunya, ia senang Jaejoong membuatkan bekal untuknya. Ia memakan bekalnya dengan lahap. Masakan Jaejoong benar-benar enak. Ia menyukainya.

“Iya, benar juga. Itu si jidat lebar.” Junsu membenarkan perkataan Eunhyuk.

“Kenapa kau memanggilnya seperti itu? Bukankah kau seharusnya memanggilnya ‘hyung’?” Eunhyuk heran. “Ia kan lebih tua darimu.”

“Aku tidak sudi mengakuinya sebagai kakakku. Ia menyebalkan.” Jawab Junsu. “Eh, bagaimana kalau kita ganggu dia?”

“Sebaiknya jangan.” Eunhyuk tidak setuju. “Kau tahu kan ia sering berkelahi di sekolah. Bagaimana kalau ia memukuli kita?”

“Tenang saja. Kalau ia berkelahi lagi, ayahnya akan menghukumnya.” Jawab Junsu.

“Terserah kau saja lah. Aku tidak ingin ikut campur.” Eunhyuk tampak tidak bisa melarang Junsu.

Junsu pun menendang bola ke arah Yoochun. Bola tersebut mengenai kotak bekalnya, sehingga kotak bekal tersebut jatuh dan isinya berserakan di tanah.

Yoochun merasa sedih kotak bekalnya jatuh ke tanah. Ia baru saja makan bekalnya sedikit. Ia pun marah dan melihat ke arah orang yang telah menendang bola tersebut dan ternyata itu itu adalah Junsu, adik tirinya. Ia pun berjalan mendekati Junsu. “Kenapa kau menendang bola ke arahku? Apa kau tidak lihat aku sedang makan? Makananku jadi jatuh ke tanah.”

“Maaf, jidat lebar! Aku tidak sengaja. Lagipula salahmu sendiri berada di pinggir lapangan.” Junsu sengaja membuat Yoochun kesal.

“Aku tahu kau pasti sengaja. Kau membenciku, kan? Kau ingin membalas dendam kepadaku karena aku tidak meminjamkan Play Station-ku kemarin kan?” Yoochun sudah sangat emosi.

“Enak saja kau menuduhku! Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak sengaja? Jidatmu saja yang lebar, tetapi otakmu kecil!” Junsu benar-benar memancing emosi Yoochun.

“Kau!!!” Yoochun sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. BUK!!!

TBC